18+1 Game Paling Keren di E3 2018

Bagi beberapa orang, E3 2018 mungkin tidak se-WOW perhelatan sebelum-sebelumnya. Tapi, bagi saya pribadi, ajang E3 2018 kali ini merupakan salah satu yang terbaik dalam hal pengumuman yang diberikan. Mulai dari Bethesda, Ubisoft, Sucker Punch, CD PROJEKT RED, Naughty Dog bahkan EA mengumumkan game ‘terbaik’ mereka.

Pada list ini, saya hanya berfokus pada game-game yang dianggap keren secara pribadi, entah itu dari developer besar maupun developer kecil. List ini juga tidak memasukan beberapa game yang walaupun keren, tapi sepertinya tidak akan saya mainkan.

Rage 2

Rage pertama bukanlah game terbaik dari Bethesda, game tersebut terkesan terlalu ‘polos’ dan terlalu berusaha menjadi banyak hal, shooter, racing, open-world dan post-apocalypstic. Sayangnya, Rage tidak melakukannya dengan baik. Hasilnya pun terlihat dari penilaian yang biasa-biasa saja.

Rage 2 justru hadir dengan nuansa yang lebih berwarna dan bahkan bekerjasama dengan Avalance Studios. Avalance sendiri dikenal sukses dalam mengaplikasikan open-world ke seri video game Just Cause yang penuh dengan ledakan. Semoga saja Rage 2 ditangan id software dan Avalanche Studios akan berakhir menjadi perpaduan antara Doom dan Just Cause.

Two Point Hospital

Saya masih ingat betul seberapa ‘konyol’-nya game Theme Hospital di PSX. Walau terbatas secara grafis, tapi game tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan namun tetap terasa real dalam mengurus sebuah rumah sakit.

Two Point Hospital disebut-sebut sebagai penerus spiritual dari Theme Hospital yang sudah dirilis pada 1997 lalu. Melihat dari dua trailer yang sudah dipamerkan, Two Point Hospital mempertahankan ‘kekonyolan’ yang dimiliki oleh Theme Hospital dan itu merupakan hal yang membuat saya memasukannya dalamlist ini.

The Last of Us Part II

Bagi saya, The Last of Us merupakan video game yang menunjukan kiamat zombie dalam sebuah perspektif baru yang realistis, menakutkan namun tetap indah. Banyak momen-momen tak terlupakan yang saya dapatkan saat memainkan game tersebut.

The Last of Us Part II, jika dinilai dari trailernya masih membawa perspektif tersebut, realistis, menakutkan namun secara aneh tetap tampak indah. Combat-nya terlihat lebih brutal namun di sisi lain juga terasa begitu alami dan nyata. Banyak orang terlalu berfokus pada kiss scene Ellie, namun itu hanyalah ‘sebagian’ dari The Last of Us Part II.

Death Stranding

#InKojimaWeTrust, itu saja yang bisa saya tuliskan setelah melihat trailer Death Stranding terbaru di E3 2018. Sejak pertama kali dipamerkan, game ini memang ‘aneh’. Banyak bintang-bintang besar yang terlibat dan Fox Engine sepertinya benar-benar menunjukan kemampuannya dalam game ini.

Semakin melihat trailernya dari waktu ke waktu, saya sendiri justru semakin bingung dengan Death Stranding. Apa cerita dari game ini? Apa tujuannya? Apakah ini courier simulator? walking simulator? Bagaimana dengan gun fight? Pokoknya #InKojimaWeTrust.

Rapture Rejects

Battle royale sepertinya memang menjadi genre yang dipilih oleh banyak developer, baik besar maupun kecil, salah satunya TinyBuild yang merilis sebuah gamebattle royale yang tergolong sangat unik dan berdasarkan sebuah web series populer dari channel YouTube ExplosmEntertainment berjudul Cyanide & Happiness.

Game Rapture Rejects ini memiliki grafik dan mekanisme permainan mirip seperti game Don’t Starve dan memiliki tema serta latar belakang seperti Fallout namun dengan sentuhan-sentuhan lucu, satir dan nyeleneh ala web series yang menjadi basisnya.

Starfield

Lama hanya menjadi rumor, tapi akhirnya game ini dikonfirmasi sendiri kehadirannya oleh Todd Howard. Game ini merupakan IP orisinal baru dari Bethesda dalam 25 tahun terakhir. Banyak orang yang menyebutnya sebagai Skyrim in Space atau Fallout in Space. Howard sendiri mengatakan bahwa game ini akan menjadi “Next-Gen Single Player RPG” yang berarti satu hal yaitu : “Game Single Player Belum Mati”.

Yang membuatnya agak mengkhawatirkan adalah kata “Next-Gen”, apakah maksudnya game ini akan dimaksimalkan untuk PS4 Pro dan Xbox One X atau menunggu penerus dari kedua konsol tersebut? Atau “Next-Gen” yang dimaksud adalah kualitas grafis di PC yang lebih baik karena upgrade pada game engine yang digunakan.

The Elder Scrolls VI

Saya pribadi tidak akan berharap terlalu banyak pada game ini untuk saat ini, dengan ‘memamerkan’ kehadiran game ini pada E3 2018 berarti Bethesda sedang atau akan memulai mengerjakannya. Bethesda memang dikenal ‘suka’ melakukan overlapping pada project-project mereka sehingga dua game bisa dikerjakan dalam jangka waktu yang bersamaan.

Saya sudah cukup senang bahwa The Elder Scrolls akan mendapatkan sekuel terbarunya walau belum jelas province yang ada digunakan dalam game ini dan cerita apa yang akan diangkat. Konfirmasi kehadirannya 7 tahun setelah Skyrim dirilis saja sudah cukup membuat saya senang.

Elder Scrolls : Blade

Kehadiran Elder Scrolls : Blade tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Fallout Shelter. Setelah sekian lama hanya berkutat di PC dan konsol, Bethesda terbukti juga sukses membawa game mereka ke perangkat mobile. Bahkan kesuksesan Fallout Shelter di mobile membuat game ini akhirnya juga di porting ke PC, PS4 hingga Nintendo Switch.

Elder Scrolls : Blade sendiri diklaim akan tetap menjaga pengalaman yang sama dengan memainkan seri Elder Scrolls lainnya yang artinya game ini akan mempertahankan fitur quest, story, dan dungeon namun dengan tambahan fitur-fitur yang cocok untuk perangkat mobile seperti town building ala Bethesda dan PVP.

Fallout 76

Secara pribadi, saya sebenarnya lebih mengharapkan sekuel dari Fallout New Vegas dibandingkan Fallout 76. Tapi, hal tersebut sepertinya tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya, Bethesda justru melakukan ‘eksperimen’ dengan membuat Fallout 76 yang merupakan online-multiplayer only(?) dimana quest juga tetap bisa dilakukan secara single player layaknya Destiny.

Kemunculan Fallout 76 mungkin juga eksperimen ZeniMax selaku induk perusahaan Bethesda Game Studio melihat kesuksan Elder Scrolls Online yang bahkan mampu menyaingi MMORPG legendaris sekelas Warcraft. Saya secara pribadi tidak berharap banyak pada Fallout 76, tapi jika terbukti sukses, metode ini bisa menjadi ‘inspirasi’ bagi Starfield dan TES VI.

Cyberpunk 2077

Setelah menyelesaikan trilogi The Witcher dengan sangat apik, banyak yang menaruh harapan tinggi terhadap CD PROJEKT RED dan mengharapkan game berikutnya dari developer ini akan tetap mempertahankan apa yang disukai gamer dari game mereka yaitu cerita yang apik, elemen RPG yang dalam serta kebebasan yang hampir tak terbatas.

Cyberpunk 2077 sendiri tentu cukup berbeda jauh dengan latar belakang The Witcher. Mengingat The Witcher III : Wild Hunt mendapat begitu banyak penghargaan dan apresiasi, tentu semua orang akan menanti apakah game berikutnya dari CD PROJEKT RED akan mampu menjadi sebaik atau bahkan melampaui game tersebut

Anthem

Game ini sebenarnya membuat saya cukup khawatir tapi juga sangat berharap. Saya khawatir bahwa EA belum belajar dari kesalahannya dan mengulang tindakan yang sama pada game dengan potensi yang sangat besar ini.

Di sisi lain, saya juga berharap cukup banyak dari game ini ditengah Warframe yang terus berusaha menjadi lebih baik bersama komunitasnya dan Destiny 2 yang berusaha meraih kejayaannya kembali. Anthem akan membuat persaingan di genre online-multiplayer only semakin sehat dan ketat, belum lagi kehadiran game baru seperti Fallout 76. Sekarang, beban dan tekanan ini ada di pundak BioWare dan EA untuk menjawab keraguan sekaligus harapan banyak orang terhadap game ini.

Dying Light 2

Dying Light sendiri sebenarnya belum benar-benar mati mengingat developernya masih terus memberikan update free content dan game ini juga dibuatkan mode battle royale bernama Dying Light Bad Blood. Saya sendiri tidak pernah bosan dengan seberapa natural dan menariknya aksi parkour yang dimiliki oleh Dying Light dan bagaimana ‘seru’nya membunuh zombie di game ini.

Dying Light 2 dipamerkan memiliki elemen RPG yang sedikit lebih dalam dibanding pendahulunya, namun kunci dari game ini tetaplah parkour dan zombie. Saya pribadi berharap mode battle royale Bad Blood juga akan dibawa ke game baru ini sehingga mendapatkan grafis dan menakisme permainan yang lebih baik.

Metro Exodus

Saya sendiri mengetahui Metro sebagai sebuah game yang cukup ‘kejam’ dalam urusan pertempuran melawan musuh. Musuh dalam game ini terasa sangat kuat bahkan cenderung over-power sehingga memilih modestealth tanpa melawan merupakan pilihan yang sering diambil.

Metro Exodus didefinisikan oleh developernya sebagai perpaduan antara open-world denganlinier storyline. Dari pengalaman saya bermain game Metro sebelumnya, pemain memang diberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi, namun pada akhirnya akan ‘dipaksa’ untuk menuju satu tempat untuk melanjutkan cerita maupun quest.

Jump Force

Sampai hari ini, PC belum memiliki game fighting yang berisikan karakter-karakter lintas lisensi yang bisa menyaingi kesuksesan Super Smash Bros di perangkat Nintendo. Jump Force ‘mungkin’ bisa menjadi jawaban untuk hal tersebut dengan karakter dari One Piece, Dragon Ball Z, Naruto, Death Note dan manga/anime lainnya.

Jika kualitas grafis dari game ini memang benar-benar seperti apa yang dihadirkan saat trailernya di E3 2018, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal yang perlu diperhatikan hanyalah bagaimana mekanisme pertarungan dan pace yang dimiliki oleh game ini.

Skull & Bones

Melihat Sea of Thieves yang sama-sama bertema bajak laut begitu sukses saat dirilis namun dengan cepat kehilangan banyak pemain sebenarnya membuat saya cukup khawatir bahwa hal yang sama akan menimpa game Skull & Bones. Sea of Thieves sebenarnya merupakan game yang bagus, sayangnya game tersebut memang terasa tidak memiliki tujuan dan kekurangan konten (untuk saat ini).

Skull & Bones sendiri menunjukan bahwa setiap kapal memiliki kustomisasi yang cukup banyak dan mungkin saja sosok ‘captain’ juga bisa dikustomisasi. Mekanisme permainan dan perang lautnya sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang dimiliki oleh Assassin’s Creed dengan tambahan detail agar terasa lebih ‘sulit’.

Assassin’s Creed Odyssey

Mengambil setting bahkan sebelum Assassin’s Creed Origins, game satu ini lebih mirip sebagai sebuah eksperimen baru dari Ubisoft untuk mengimplementasikan elemen RPG yang lebih dalam dan mendetail lagi ke seri Assassin’s Creed serta mencampur aduk fitur-fitur terbaik dari seri sebelumnya ke sebuah game baru.

Odyssey untuk pertama kalinya memungkinkan pemain memilih untuk menjadi karakter pria ATAU wanita sepanjang game, tidak setengah-setengah seperti Syndicate. Game ini juga kabarnya memiliki interactive dialogue dan romantic options.

Overkill’s The Walking Dead

The Walking Dead merupakan seri yang tepat untuk ditangani oleh Overkill, mengingat pengalaman dari developer satu ini menangani game seperti Pay Day 2 dan Pay Day: The Heist. Game baru ini terlihat merupakan perpaduan horde mode yang menantang namun tetap memiliki elemen strategi yang membuatnya menarik dan lebih sulit dan sekedar tembak-tembakan.

Tapi, dari trailer yang dirilis, saya sulit untuk tidak membandingkannya dengan State of Decay 2, walau The Walking Dead dari Overkill terlihat lebih berfokus pada combat dan bukan pada manajemen seperti halnya State of Decay. Semoga saja game ini sukses dan menjadi hiburan baru bagi pecinta Pay Day 2 dan Left 4 Dead 2 yang sepertinya tidak akan pernah mendapat sekuel.

Kingdom Heart III

Kingdom Heart sebenarnya bukan merupakan seri video game favorit saya, bahkan saya tidak ingat kapan terakhir kali memainkan game ini. Walau pernah memainkannya, saya tidak pernah menyelesaikan satu pun dari seri video game ini. Lalu, kenapa saya memasukannya dalam list ini? Karena saya kagum pada trailer pada game baru ini.

Bukan hanya kagum melihat bagaimana karakter utama ‘bertemu’ dengan karakter Disney lainnya, saya bahkan kagum melihat bagaimana game ini memoles dan memamerkan karakter Disney secara lebih baik daripada film animasinya sendiri. Alasan lainnya? Tentu saja soundtracknya.

Spider-Man

Sebagai penutup, Spider-Man. Si manusia laba-laba sebenarnya mirip dengan karakter Batman dari DC, kemana pun kedua pahlawan ini dibawa, maka ‘seharusnya’ tidak akan pernah salah atau gagal. Namun, berbeda dengan sosok Batman yang digambarkan cenderung misterius, Spider-Man terkenal berisik dan penuh aksi.

Dalam trailernya di E3 2018, Spider-Man akan berhadapan dengan “Sinister Six”, walau tidak disampaikan secara tertulis, namun dari penjahat yang ditunjukan dalam trailer, sudah tersirat bahwa musuh utama Peter Parker dalam game ini adalah Sinister Six. Tapi, entah anggota lain dari perkumpulan penjahat ini seperti Sandman, The Hunter, Mysterio dan tentu saja Doc Ock akan hadir juga atau tidak.