Belakangan ini, saya kembali ada di ‘fase bosan’ dalam bermain game. Saya tidak punya satu game yang benar-benar saya favoritkan. Pilihan saya biasanya diantara AOV, Vainglory, PUBG Mobile dan Red Dead Online. Hingga…

Sebuah pengumuman yang cukup mengangetkan datang dari EA dan Respawn Entertainment. Mereka mengumumkan sebuah game bergenre battle-royale dan merilisnya di hari yang sama berjudul “Apex Legends”.

Untuk yang belum tau, Respawn Enterteinment selama dikenal sebagai developer dari salah satu game yang saya pribadi rasa paling underrated di industri video game yaitu seri Titanfall.

4 Alasan Kenapa Apex Legends Sukses 2

Dan EA adalah… Ya, saya yakin kalian tau siapa mereka, publisher ‘penuh masalah’ yang terpilih sebagai salah satu perusahaan terburuk di Amerika Serikat selama dua tahun berturut-turut.

Oke, kembali ke substansi. Apex Legends, sebuah game battle-royale yang memadukan antara Titanfall, Overwatch, COD : Blackout.

Memadukan antara battle-royale dengan sentuhan arena shooter dan class-based shooter. Bukan sesuatu yang 100% orisinal tapi pada kenyataannya formula ini sukses.

Pada tulisan ini, saya akan memberikan beberapa pendapat saya mengapa Apex Legends bisa sukses.

GRATIS

4 Alasan Kenapa Apex Legends Sukses 3

Faktor pertama adalah game ini gratis. Banyak yang bilang bahwa “Apex Legends hanya sukses karena game itu gratis.”, bagi saya pribadi, pendapat itu tidak 100% benar tapi juga tidak 100% salah.

Bayangkan jika Apex Legends ‘dijual’ dengan harga katakanlah $30. Publisher dari game ini adalah EA yang beberapa tahun belakangan dianggap ‘musuh’ oleh para gamer karena kasus microtransaction-nya beberapa waktu lalu.

Bagaimana kemungkinan respon pasar (para gamer) terhadap Apex Legends seharga $30 itu? Apatis.

Tidak banyak yang akan mau mencoba game ini, kecuali mereka yang benar-benar percaya pada Respawn sebagai developer.

Karena sedikitnya orang yang mencoba, maka matchmaking jadi lebih lambat, game ini akan kekurangan exposure yang diperlukannya dan… sekianlah nasib dari Apex Legends.

Nah, karena game ini gratis, matchmaking jadi cepat, game ini mendapat lebih banyak exposure, bug lebih cepat diketahui dan developer mendapat lebih banyak feedback karena komunitasnya yang bertumbuh besar dengan cepat.

Tanpa Marketing

4 Alasan Kenapa Apex Legends Sukses 4

Pilihan Respawn Entertainment untuk tidak melakukan marketing sama sekali sebelum perilisan Apex Legends adalah sesuatu yang berdampak sangat besar dalam ‘meredam’ amarah media dan para gamer.

Respawn Entertainment diketahui sedang mengerjakan sebuah VR game dan Star Wars Jedi : Fallen Order untuk EA.

Banyak juga yang berharap Respawn Entertainment juga sedang mengerjakan Titanfall 3, mengingat Titanfall 2 sudah dirilis tahun 2016 lalu.

Sekarang, bayangkan jika Respawn mengumumkan misalnya pada E3 2018 bahwa mereka sedang mengerjakan sebuah game battle-royale berbasis Titanfall universe.

Oke, pada awalnya berita mungkin bernada positif dan menunggu bagaimana sudut pandang yang akan dihadirkan Respawn dalam genre ini.

Tapi, lama kelamaan akan muncul nada-nada sumbang yang menganggap bahwa Respawn hanya ingin memanfaatkan kepopuleran battle-royale bahwa game ini akan dipenuhi oleh microtransaction yang tidak adil (karena publishernya EA) dan berita negatif lainnya.

Karena diumumkan dan dirilis di hari yang sama, lebih banyak gamer dan media yang memilih untuk mencoba game tersebut terlebih dahulu daripada men-judge Respawn duluan.

Merilis Game yang SELESAI

Apex Legends adalah game yang “SELESAI” bukan berada di tahap Beta atau Early Access. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh game-game multiplayer belakangan ini.

Banyak developer memilih ‘berlindung’ dibalik embel-embel Beta atau Early Access. Berharap bisa menghasilkan uang dari sebuah game yang belum selesai.

Tidak ada yang salah sebenarnya dari praktik ini, apalagi untuk developer indie.

Tapi, untuk developer dengan ratusan karyawan, yang Battle Pass-nya sudah mau Season 8 tapi masih berlindung dibalik kata “Early Access”, kalian hanya budak-budak korporat!

Jika melihat forum-forum di internet, tidak sedikit orang yang mulai muak dengan tindakan para developer dan perusahaan yang berlindung dibalik kata “Early Access” agar bug/error pada game mereka masih ‘termaafkan’.

Apex Legends tidak membawa embel-embel Beta atau Early Access, game ini akan sebuah game yang sudah selesai dengan banyak DLC dan konten-konten baru ke depannya. Bug, Error atau Imbalance adalah sesuatu yang biasa dan seharusnya memang diperbaiki.

Terasa Familiar

4 Alasan Kenapa Apex Legends Sukses 5

Saya pernah bermain Overwatch (waktu game ini masih bagus), Fortnite, dan PUBG. Apex Legends.

Walau menggunakan universe dari Titanfall tetap terasa familiar. Mulai dari pengkodean warna untuk tier item, ‘bentuk’ senjata, attachment senjata hingga hero/legends yang unik.

Nah, bicara tentang hero atau lebih tepatnya para legends di Apex Legends ini, saya rasa Respawn sukses ‘meniru’ formula yang digunakan oleh Overwatch. Setiap karakter terasa unik dan punya perannya masing-masing.

Rasanya yang familiar membuat banyak orang jatuh cinta dengan mudah pada game ini, karena mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk bisa bersenang-senang.

Apakah Apex Legends adalah Fortnite’s Killer?

Jawabannya sederhana, TIDAK!

Fortnite atau lebih tepatnya FortniteBR sudah menjadi sesuatu yang unik dengan sendirinya, sama seperti Roblox dan Minecraft. Game-game seperti ini akan tetap punya komunitas setianya sendiri.

Author

Blogger paruh waktu yang sedang banyak belajar tentang SEO dan Digital Marketing. Kadang menulis cerita bertema science-fiction dan historical-fiction.

Write A Comment