5 Aturan Tuan Mantra

Pembunuhan adalah sesuatu yang sangat tabu di masa ini, orang-orang masih menganggap pembunuhan hanya bisa dilakukan oleh iblis atau seseorang yang dirasuki oleh iblis. Walau demikian, selama 3 bulan terakhir, jumlah pembunuhan terhadap orang-orang kaya dan para bangsawan terus meningkat bahkan kini, rakyat biasa pun terbunuh.

Jangan pikirkan pembunuhan menggunakan pedang atau senapan karena kedua benda tersebut hanya dimiliki para tentara. Orang-orang yang terbunuh meninggal tanpa terluka sedikit pun, para dokter pun kesulitan menemukan penyebab kematian mereka. Hal ini karena tidak diketahui racun yang bisa membunuh manusia tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Suatu hari, seorang pejabat kerajaan juga dibunuh, dia dikenal sebagai Tuan Mantra, kepala bidang penelitian ilmu alam dan sihir di kerajaan. Sebelum ditemukan terbunuh di tempat tidurnya, dia menitipkan 5 buah pesan kepada 5 orang yang berbeda. Masing-masing pesan berisi syarat yang harus dipenuhi untuk mengungkap siapa pembunuh dirinya.

gothic aritocratic

Pesan pertama dipegang oleh seorang juru masak kerajaan. Begitu mendengar Tuan Mantra meninggal, dia memasak hidangan kesukaan Tuan Mantra, yaitu roti kismis, sup ayam dan teh melati. Dia langsung membawa makanan tersebut ke tempat tubuh Tuan Mantra disemayamkan.

“Kenapa kau membawakan makanan pada orang mati?” tanya seorang pengawal.

“Tuan Mantra mengatakan bahwa makanan ini bisa membantu mengungkap siapa pembunuhnya.”

Pesan kedua dimiliki oleh seorang tukang kain di kota. Dia segera membawakan selembar kain sutra berwarna putih ketika mendapat kabar kematian Tuan Mantra. Orang-orang bertanya kenapa dia membawakan orang mati selembar kain putih, dan dia hanya menjawab bahwa ketika kain putih menutupi seluruh tubuh Tuan Mantra, siapa pembunuhnya akan semakin diketahui.

Pesan ketiga dipegang oleh seorang perawat kuda kerajaan. Dia diperintahkan memandikan tubuh Tuan Mantra yang sudah kaku. Ini merupakan sesuatu yang sangat aneh di masa itu. Tubuh seseorang yang sudah meninggal biasanya akan langsung dimakamkan tanpa memberi makanan, menutup dengan kain maupun memandikannya.

“Untuk apa sebenarnya semua ini? Apa yang ingin dicapai oleh Tuan Mantra?” seorang penduduk kota bertanya.

“Entahlah. Hanya dia yang tau tentang semua ini.” jawab penduduk yang lain.

Pesan selanjutnya diterima oleh anak dari Tuan Mantra sendiri. Tuan Mantra memerintahkan sang putra untuk meletakkan tubuhnya didalam sebuah peti, ditutup oleh selembar kain sutra putih dan dihidangkan makanan yang sudah dibawakan juru masak dan tukang kain pada awalnya.

Tuan Mantra juga berpesan pada putranya untuk memindahkan tubuhnya ke sebuah ruangan yang besar, meletakkan dua buah cermin menghadap peti tapi menutup cermin dengan kain hitam. Lalu, mengundang siapapun yang mengenalnya untuk datang.

“Kenapa kau melakukan semua ini?” sang raja bertanya.

“Ayah hanya berpesan bahwa semua ini akan membantu menemukan siapa pembunuhnya.”

Saat banyak orang sedang berada di ruangan tersebut, dua orang tiba-tiba membuka kain hitam yang menutupi kedua cermin. Seorang anak gadis berjalan dan mendekati peti dimana tubuh Tuan Mantra berada. Dia menemukan sesuatu. Selembar kertas.

“Hanom yang melakukannya!” itulah yang tertulis di kertas itu.

Semua orang yang hadir tidak percaya dengan apa yang terjadi, apakah tubuh kaku tuan Mantra menuliskan pesan itu? Namun, Hanom yang berusaha kabur dari tempat itu sepertinya membuktikan bahwa dia bersalah atau setidaknya tau sesuatu.

Hanom adalah salah satu dokter kerajaan yang memang dikenal dengan tingkah laku anehnya. Setelah 3 hari introgasi dan sedikit ‘penyiksaan’ dari polisi kerajaan, Hanom mengakui bahwa dialah yang melakukan pembunuhan tanpa jejak di kerajaan dengan menggunakan racun¬†timoxeline barbebutenol.