Draft untuk artikel ini awalnya mencapai hampir 2000 kata. Tapi, saya sendiri saja malas membacanya, jadi saya ubah formatnya ke dalam bentuk listicle yang lebih enak dibaca.

Oke, singkat cerita, saya berkesempatan mengunjungi Kuala Lumpur pada 11 – 14 April 2019 lalu dan inilah hal-hal yang saya perhatikan selama berada di kota tersebut.

Macet adalah ‘Hak’ Setiap Kota

7 Hal yang Saya Perhatikan Selama di Kuala Lumpur 2

Tiba di Kuala Lumpur pada sore hari membuat saya terjebak macet bersama para pekerja yang pulang dari kantor. Kuala Lumpur memang sudah punya transportasi massal seperti bus dan MRT, tapi bukan berarti bebas macet.

Macet bisa terjadi karena berbagai hal mulai dari pekerjaan konstruksi jalan, kecelakaan atau karena banyaknya kendaraan di jalan di waktu bersamaan.

Bayangkan, Kuala Lumpur yang sudah punya MRT dan bus saja masih macet, bagaimana kota yang belum?

Nikmatnya Berjalan di Trotoar

Dua tahun lalu, saya sempat jalan-jalan ke Singapura dan saya kagum dengan pedesterian mereka yang super lebar (dibanding pedesterian yang ada di Bali).

Di Kuala Lumpur, walau tidak selebar dan senyaman di Singapura tapi pedesteriannya masih enak banget. Tidak ada yang parkir sembarangan, tidak ada yang berjualan bahkan beberapa tempat dilengkapi semacam kanopi agar tidak panas saat berjalan di siang hari.

Utamakan Berbahasa Indonesia

Saat pertama kali tiba di Kuala Lumpur, alam bawah sadar saya selalu mengingatkan bahwa saya ada di luar negeri, maka ‘gunakanlah bahasa Inggris’. Tapi, kenyataannya, jauh lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia saja.

Mungkin beberapa kata tidak akan dimengerti dan butuh beberapa waktu untuk saling memahami. Tapi, berkomunikasi dengan bahasa Indonesia apalagi di tempat-tempat wisata jauh lebih direkomendasikan dibanding bahasa Inggris.

Tata Kota adalah Segalanya

7 Hal yang Saya Perhatikan Selama di Kuala Lumpur 3

Di hari terakhir, saya sempat berkunjung ke Kuala Lumpur City Gallery. Tempat ini semacam museum yang menceritakan masa berdirinya kota Kuala Lumpur, masa kolonial Inggris hingga kemerdekaan Malaysia.

Tapi, bukan cuma soal sejarah, di galeri ini juga ada miniatur rencana tata kota Kuala Lumpur yang harus saya akui keren banget. Desain kotanya mengambil banyak inspirasi dari kota besar lain seperti Tokyo, Hongkong dan New York.

Dengan tata kota yang sekeren dan sematang itu, tidak heran jika dalam beberapa tahun ke depan, Kuala Lumpur akan bisa sejajar dengan kota-kota besar lain di level Asia bahkan dunia.

MyKad, kartu saktinya Malaysia

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis tentang “Kenapa Indonesia Belum Punya One-for-All Card?” Dalam tulisan tersebut, saya menggunakan kartu pengenal dari UEA, padahal negeri tetangga kita saja punya yang lebih canggih.

Malaysia merupakan negara pertama yang menerapkan kartu plastik berchip sebagai tanda pengenal pada 2001 lalu. Dikenal sebagai MyKad, kartu ini merupakan tanda pengenal, SIM, ATM, dan kartu e-Money yang jadi satu.

Kapan ya Indonesia punya yang serupa?

Peringkat #1 GMTI yang Tetap Asyik

7 Hal yang Saya Perhatikan Selama di Kuala Lumpur 4

Malaysia merupakan negara yang menjadi langganan peringkat satu dalam Global Moslem Travel Index (GMTI) karena pada dasarnya tempat wisata mereka memang sangat ramah terhadap muslim. Tapi, bukan berarti berarti Malaysia khususnya Kuala Lumpur itu tidak asyik bagi non-muslim.

Saat berjalan-jalan menuju Twin Tower, saya melewati beberapa pub bar yang sudah 1000% dipastikan menjual minuman beralkohol dan satu ‘warung’ yang saya pribadi tau hanya menjual pork ribs.

Tentu, mereka tidak punya logo Halal di tempat bisnisnya karena pasar mereka memang bukan orang muslim.

Sebaliknya, saat saya makan di sebuah foodcourt di KL, beberapa kios memiliki logo Halal. Dilihat sekilas dari pilihan menu, penyajian dan kebersihan tempatnya sih memang mereka hanya menyajikan menu yang Halal saja.

Secara tidak langsung, Kuala Lumpur seolah ingin berkata:

“Kalau kamu mau yang halal, ada. Kalau kamu mau yang non-halal, juga ada. Semua ada, semua merata.”

Nikmati Kotanya

Kuala Lumpur itu punya beberapa ‘kawasan’ seperti kawasan bisnis, kawasan Chinatown, kawasan seperti Little India dan kawasan perpaduan antara semua etnis dan ras yang tinggal di kota ini.

Menikmati suasana kota Kuala Lumpur haruslah dilakukan dengan berjalan kaki. Saran saya sih, jalan kakilah ke tempat tujuan dan pulanglah dengan menumpang taksi. 🙂

Nikmati kota ini dengan berbagai hal menariknya, mulai dari ‘hutan’ kota yang bikin sejuk, pojok-pojok jalan yang bikin males pulang hingga makanan enak yang bikin lupa diet.

Author

Blogger paruh waktu yang sedang banyak belajar tentang SEO dan Digital Marketing. Kadang menulis cerita bertema science-fiction dan historical-fiction.

Write A Comment