Berbohong Itu Rumit

Sebagai orang yang suka menulis cerita pendek bergenre fantasi, saya sudah terbiasa membayangkan sesuatu atau kejadian yang tidak pernah ada atau tidak pernah terjadi, dan mengubahnya ke dalam bentuk cerita yang meyakinkan bahwa sesuatu atau kejadian tersebut nyata dan ada. Belakangan ini, saya memikirkan sesuatu yang cukup berhubungan dengan hobi saya yaitu berbohong.

Apa hubungannya? Sebuah cerita fantasi itu layaknya sebuah kebohongan, kita menterjemahkan sesuatu atau kejadian yang tidak pernah ada menjadi bentuk yang sanggup meyakinkan orang lain.

Tapi, pada dasarnya, kenapa kita berbohong?

Menurut situs ini, ada 3 alasan utama kenapa seseorang berbohong.

everybody lie

 

Takut

Ketakutan adalah salah satu alasan kenapa seseorang berbohong, takut mengenai apa yang tidak kita tau, takut mengenai yang orang lain pikirkan tentang kita dan sebagainya. Pada taraf yang lebih ekstrim, berbohong adalah salah satu mekanisme pertahanan diri kita.

Manipulasi

Memanipulasi orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Atau untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari orang lain. Alasan ini biasa digunakan oleh orang-orang untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain.

Rasa Bangga

Mungkin lebih tepatnya adalah pencitraan. Banyak orang yang menyebarkan dan mengatakan cerita-cerita bohong hanya untuk meningkatkan citra mereka di mata orang lain. Kebohongan hanya digunakan untuk membentuk sebuah citra palsu tentang diri mereka.

Kita tau alasan utama seseorang untuk berbohong, tapi banyak dari kita yang tidak tau bahwa berbohong itu sebenarnya rumit. Buktinya, tidak semua orang bisa menjadi aktor yang baik atau penulis novel best-seller. Yap, aktor dan penulis buku fiksi adalah contoh orang-orang yang sangat pandai “berbohong”.

Aktor adalah mereka yang pandai membohongi dirinya sendiri dan bisa menjadi orang lain secara profesional, bahkan mereka bisa meyakinkan orang lain tentang “karakter baru” mereka. Sementara, penulis novel fiksi pandai dalam membohongi pikirannya tentang sesuatu dan kejadian yang tidak pernah ada.

Secara sains, berbohong adalah tindakan yang sangat “melelahkan”. Saat seseorang berbohong, otaknya menghasilkan stress, inilah yang sebenarnya dideteksi oleh mesin lie detector. Ketika seseorang berbohong, otak mempertimbangkan apa yang harus disembunyikan, mempersiapkan “kebenaran” yang akan diberikan, memberikan akting yang meyakinkan dan mengingat semua kebohongan (kejadian & benda) yang tidak pernah ada tersebut. Ditambah bahwa kita memerlukan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Yap, intinya berbohong itu rumit. Tapi, di satu sisi, berbohong bisa menjadi mekanisme pertahanan diri di saat-saat tertentu. Lalu, apakah penulis pernah berbohong? Enggaklah! 🙂