Ini adalah versi panjang dari post di Linkedin saya. Jumlah karakter di post Linkedin itu ternyata terbatas, jadi saya buat versi panjangnya di blog saja.


Tanggal 6 Agustus 2019, saya punya kesempatan untuk ikut dalam acara Webmaster Conference Bali 2019 yang diadakan sebagai Google. Para pesertanya sebagian besar dari digital agency, ada pula yang datang sebagai pemilik usaha dan developer.

Saya sendiri sih datang sebagai seorang blogger dan tidak mewakili perusahaan. Nah, dari acara selama lebih 8 jam tersebut, saya punya beberapa catatan yang mungkin berguna bagi webmaster lain.

Catatan dari Webmaster Conference Bali 2019 2

Algoritme Sinonim Kata

Dulu, setiap menulis konten, apalagi untuk tujuan sponsored content, saya selalu mengulang-ngulang kata (keyword) target dan memperhatikan keyword density dan sebagainya.

Nah, algoritme sinonim kata dari Google kini sudah tersedia juga dalam Bahasa Indonesia. Singkatnya, algoritme ini membuat GoogleBot mengerti bahwa kata “enak” dan “lezat” itu punya arti yang sama.

Jadi, kini harusnya kita bisa menulis blogpost dengan kalimat yang lebih natural lagi tanpa terlalu dipusingkan dengan keyword density dan sebagainya.

Linkout!

Salah satu pembicara Gary Illyes mengungkapkan bahwa situs-situs besar di Asia Tenggara dan Asia Selatan tidak banyak memberi link ke web yang lebih kecil.

Hasilnya terjadi Link Graph Bubble. Dimana link antar situs hanya meliputi situs-situs besar saja, misalnya dari Detik ke Kompas, lalu dari Kompas ke Tempo dan dari Tempo kembali lagi ke Detik.

Padahal, memberi link (dofollow) ke situs lain, tidak merugikan bahkan bisa meningkatkan authority dan peringkat dari web yang memberi link (walau tidak signifikan).

Hal yang perlu digarisbawahi hanya tiga hal:

  1. Tidak memberi link (dofollow) ke luar secara berlebihan karena besar kemungkinan akan dianggap situs spam.
  2. Tidak memberi link (dofollow) jika link tersebut berbayar.
  3. Tidak memberi link (dofollow) jika situs yang dituju tidak terpercaya. Misalnya nih, menulis tentang situs yang melakukan penipuan, tentu kita ingin memberi link ke situs tersebut agar pembaca mengetahuinya. Tapi, kita tentu tidak ingin situs kita dihubungkan dengan situs itu. Jadi, gunakan tag nofollow untuk link semacam ini.

Google Images

Google kini memunculkan gambar bahkan video di peringkat paling atas untuk beberapa kata kunci pencarian. Hasilnya, pengguna tidak perlu mengklik tab “Images” lagi di hasil pencarian.

Optimasi Google Images bisa dilakukan dengan beberapa hal:

  1. Submit Images Sitemap ke Search Console. Kini, bukan cuma teks yang memerlukan sitemap tapi juga gambar.
  2. Pastikan gambar bisa diakses oleh mesin pencari. Jadi, harap perhatikan robots.txt jangan sampai menghalangi mesin pencari secara tidak sengaja.
  3. Optimasi nama file media dan alt-text. Hal dasar tapi masih sering dilupakan.
  4. Hubungkan dengan struktur data. Misalnya, jika gambar merupakan bagian dari sebuah resep makanan, maka gunakan struktur data resep makanan dalam kontennya. Jika gambar adalah sebuah produk, maka gunakan struktur data produk.
Catatan dari Webmaster Conference Bali 2019 3

SEO Mythbusting

Google tidak menggunakan Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA) sebagai ranking factor.

Alasannya? Karena kedua metrik ini dimiliki oleh MOZ dan Google tidak menggunakan metrik dari perusahaan lain.

Responsive Design bukan ranking factor.

Google hanya sebatas merekomendasikan responsive design, karena bahasa desain ini mempermudah webmaster dan menjaga kenyamanan pengguna di semua perangkat. Namun, jika webmaster memutuskan menggunakan adaptive design, hal itu tidak masalah.

Usia Domain bukan ranking factor.

Jadi gini, “usia” domainnya sih bukan ranking factor TAPI jika domain tersebut tidak pernah expired dan masih memilih link juice, hal itu kemungkinan masih berpengaruh.

Kalau tidak salah, Google ‘melupakan’ semua signal pada sebuah domain saat domain tersebut masuk masa expired dan tidak diperpanjang.

Legacy-TLD bukan ranking factor

Legacy-TLD seperti .com dan .net bukan sebuah ranking factor, karena Google hanya melihatnya sebagai sebuah URL. Tapi, Legacy-TLD masih ‘berharga’ untuk menjaring trafik dari internet early adopter yang umumnya hanya mengetahui TLD seperti .com dan kurang familiar dengan TLD seperti .guru atau .top.