Cerita Sang Naga : Pembunuh Axura

Raungan Druxa terdengar hingga ke sebrang samudra, kerajaan Findolia adalah yang terdekat dengan gua tempat Druxa berada. Di kerajaan tersebut, ada seorang pembunuh naga di masa lalu. Karena pernah meminum darah naga dan memakai sisik naga sebagai tameng, dia bisa merasakan keberadaan naga dan hidup 100 tahun lebih lama dari seharusnya.

“Ternyata sudah waktunya…” kata pria tua dengan tameng berbentuk lingkaran di tangan kirinya.

“Perhatian semuanya, ras naga sudah kembali. Naga terakhir dari 6 naga terpilih sudah bangun dan sekali lagi kita harus berperang melawan mereka.” katanya sambil berdiri diatas sebuah kotak kayu.

Semua orang di Findolia pun menjadi panik, mereka berlarian tak tentu arah. Tentara kerajaan mengambil posisi dan berdiri di posnya masing-masing, sementara yang lainnya menyiapkan busur-busur raksasa untuk menembak naga yang terbang di langit.

“Dengar semuanya, aku akan mencoba mendatanginya dan membunuhnya kalau perlu. Tapi, kalau aku gagal, lebih baik kalian semua mengungsi daripada melawan.” begitulah kata-kata terakhir pria tua tersebut sebelum melewati gerbang kerajaan.

Pria tua tersebut bernama Saxmor, salah satu dari 3 pembunuh naga yang membunuh naga terakhir, si naga besi bermata emas, Axura. Kini, dia memakai sisik Axura sebagai tamengnya. Dia berjalan sekitar 3 hari untuk mencapai gua tempat Druxa berada.

cave in forest

“Aku merasakan energi kehidupan Axura pada dirimu. Siapa kau sebenarnya, wahai manusia?” tanya Druxa dengan mata menyala dari dalam guanya.

“Aku adalah Saxmor, salah satu dari 3 manusia yang membunuh Axura. Dan, siapakah dirimu?”

Perlahan-lahan, sang naga keluar dari guanya. Memperlihatkan kakinya yang kokoh, gigi dan cakarnya yang tajam serta matanya yang merah menyala.

“Aku adalah Druxa, putra Axura. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang telah membunuh Axura.” Druxa meraung lalu menyemburkan api berwarna biru kehijauan dari mulutnya.

Saxmor tua dengan sigap menyiapkan tamengnya, tidak memberi api Druxa kesempatan untuk membakarnya. Sisik Axura memang dikenal sebagai yang paling tebal, karena itulah dia bisa bertahan sebagai naga terakhir. Tapi, Druxa tidak kehabisan akal, dengan cakarnya, dia berusaha menjatuhkan Saxmor.

Pria tua itu menghindar dengan cara melompat, tapi cakar Druxa yang lainnya sudah terlalu dekat dengannya dan menghantam dengan keras. Saxmor terhempas hingga ke dinding gua.

“Wahai Druxa, putra Axura. Dengarkan aku, ras naga tidak punah karena ulah manusia. Kami hanya berhasil membunuh Axura yang sedang terluka. Yang menyebabkan punahnya ras naga adalah… ” Belum sempat Saxmor menyelesaikan kata-katanya, suara raungan yang sangat keras terdengar dari langit.

Raungan tersebut membuat pepohonan tumbang dan membunuh Saxmor seketika, saat Druxa berusaha melihat ke langit. Dia melihat awan mendung mulai terbelah, membentuk sebuah lubang besar di langit dan sinar matahari menerobos masuk dari balik awan.

Terdengar suara kepakan sayap dan sosok seekor naga keluar dari lubang di langit itu.