Destinasi Wisata ‘Baru’ di Bali

Belakangan ini, anak-anak muda di seluruh Indonesia, tapi untuk tulisan ini, saya khususkan di Bali sedang berlomba-lomba mencari destinasi wisata ‘baru’ di daerahnya masing-masing. Untuk apa? Sebagian besar hanya untuk PAMER di social media. Apakah tindakan itu salah? Tentu tidak.

Di dekat daerah saya (Seminyak), ada nama-nama destinasi wisata yang mungkin terdengar baru bagi kebanyakan orang padahal sudah ada sejak lama. Saya mulai dengan Pantai Gunung Payung, letaknya sedikit lebih ke timur dari pantai Pandawa yang mungkin sudah lebih dikenal.┬áNama “Gunung Payung” sendiri merupakan nama dari sebuah Pura yang memiliki sebuah mata air yang disucikan di daerah tersebut.

Pantai Gunung Payung

Pantai ini disebut-sebut sebagai salah satu pantai yang masih ‘perawan’ karena masih sepi dari hotel, resort, pedagang bahkan pengunjung. Letaknya yang dibalik perbukitan hijau membuatnya memang agak melelahkan untuk dicapai karena harus melewati ratusan anak tangga.

Tapi, taukah bahwa sebenarnya warga sekitar sudah mengetahui pantai tersebut sejak lama sekali dan banyak orang yang sudah berkunjung kesana sengaja merahasiakan keberadaan pantai ini?

Kedua adalah Air Terjun Pengempu. Air Terjun ini berada di desa Cau Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Hanya sekitar 40 menit dari kota Denpasar (kalau tidak macet).

Air Terjun Pengempu

Warga sekitar sudah sejak lama mengetahui air terjun ini karena alirannya berasal dari beji (sumber mata air) desa adat setempat. Awal ketenaran tempat wisata baru ini adalah dari Instagram dan sangat cepat tersebar. Kini, pengelola sedang menyiapkan fasilitas untuk menunjang tempat wisata tersebut.

Terakhir sekaligus yang paling jauh adalah Bukit Asah. Lokasinya berdekatan dengan salah satu pantai yang katanya masih ‘perawan’ sehingga disebut sebagai Virgin Beach, kalau nama lokalnya adalah Pantai Prasi. Dari atas bukit Asah ini, pengunjung bisa menatap langsung ke Samudra Hindia.

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Bukit Asah sendiri sudah mulai didatangi wisatawan sejak lama, tapi kasusnya sama seperti Pantai Gunung Payung, mereka merahasiakannya. 2014 adalah tahun dimana destinasi wisata ini mulai ‘dipromosikan’ secara tidak langsung oleh mereka yang pernah berkunjung kesana.


Sebenarnya, tulisan ini bukan untuk mempromosikan tempat-tempat tersebut. Karena, sejujurnya informasi mengenai ketiga tempat tersebut sudah sangat lengkap di internet saat ini. Sudah sejak lama, saya ingin sekali menyoroti fenomena pencarian destinasi wisata ‘baru’ ini.

Mungkin tidak banyak yang sadar bahwa apa yang mereka sebut sebagai ‘pencarian surga baru’ ini merupakan tanda bahwa banyak orang terutama anak muda yang sudah jenuh dengan tempat wisata yang sudah overcapacity dan sudah dieksploitasi berlebihan.

Pantai Kuta

Sisi baiknya, mereka secara tidak langsung telah mempromosikan tempat-tempat wisata baru sehingga pembangunan tidak akan lagi berpusat hanya pada satu titik. Kedatangan para wisatawan ke tempat wisata baru ini tentunya akan bermanfaat bagi perekonomian warga sekitar. Secara perlahan akan mengurangi kepadatan di satu objek wisata saja.

Sayangnya, tentu hal ini akan membawa dampak lain. Pertama, tempat wisata baru yang sudah semakin ramai akan mengundang siapa lagi kalau bukan investor dan pebisnis untuk mendapatkan untung. Kedua, tempat wisata baru yang belum siap akan sangat rawan untuk menjadi rusak.

Karena itu, pertama, sebagai pengunjung, kita harus punya mental sebagai wisatawan yang baik.

  • Jika memang tidak ada tempat sampah, jangan buang sampah sembarangan!
  • Jangan sampai merusak tempat wisata hanya untuk kebutuhan berfoto!
  • Gak usah sombong dengan mencorat coret apalagi ‘mengukir’ nama, nama pasangan atau “Monyet was here”!

Kedua, pengelola atau pihak terkait di sekitar tempat wisata harus menyiapkan segala fasilitas untuk wisatawan. Tidak semua wisatwan akan memiliki mental wisatawan yang baik, setidaknya jika sudah ada tempat sampah dan fasilitas lain yang memadai, kerusakan bisa dikurangi.

Ketiga, investasi dari para investor memang sangat penting untuk pembangunan sebuah daerah. Tapi, saya sih cuma bisa berharap kalau pemerintah jangan asal memberi ijin, perhatikan juga tata ruang serta faktor lingkungan. Jangan sampai investasi yang datang malah merusak objek wisata yang ada.

Related Incoming Search Term: