Dua Event Berbeda dalam Semalam

Pada 1 Agustus 2015 lalu, saya akhirnya punya sedikit waktu di sela-sela mengejarkan tugas kuliah, koding untuk app baru dan desain web berita baru. Kayaknya udah takdir Tuhan kalau waktu tersebut juga bertepatan dengan malam minggu pertama di bulan Agustus. Nah, daripada merasa merana pergi ke event-event sendirian, maka saya memutuskan mengajak Sueka (Nama panggilannya Diyan, tapi entar dikira cewek, jadi sebut saja Sueka).

Event pertama yang kami datangi malam itu adalah DTIK Festival 2015. DTIK  atau Denpasar Teknologi Informasi Komunikasi Festival merupakan salah satu acara yang merupakan bagian dari Pra-Event Denfest. Bagi yang belum tau, Denpasar Festival (Denfest) merupakan acara akhir tahun yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar, dulu namanya adalah Gadjah Mada Town Festival.

DTIK_Festival_2015
Lampion dan pengunjung DTIK Festival 2015

Kenapa saya memutuskan datang ke DTIK Festival 2015? Sederhana, saya suka teknologi dan kuliah di jurusan komputer.

Jika dibandingkan DTIK Festival tahun lalu, jujur saya lebih suka yang sekarang, terutama dari partisipasi peserta yang datang untuk memamerkan produk/layanannya. Tahun lalu (menurut artikel di Tech in Asia : Daftar Startup menarik di DTIK Festival 2014), hanya ada satu startup non-developer game yang berpartisipasi, yaitu Klakat.

Tahun ini, setidaknya ada lebih dari 5 startup non-developer game yang berpartisipasi dan hampir semuanya merupakan lulusan dari program Inbis Tohpati, sebuah inkubasi bisnis yang dilakukan oleh Balai Diklat Industri Regional VI Denpasar.

Setelah pilih-pilih, saya menemukan dua startup yang paling saya suka. Startup yang lain punya produk yang keren juga, tapi ini masalah selera dan kebutuhan saja.

Rancangan Smart House
Rancangan Smart House penuh sensor

1. Kulkul

Kulkul adalah startup yang berfokus membantu user dalam melakukan pemasaran di internet (internet marketing). Layanan pertama mereka adalah sebuah newsletter management tool yang disebut Gatra yang saat artikel ini ditulis sedang memasuki tahap closed-beta.

Bagi saya yang seorang blogger tentu layanan semacam ini akan sangat membantu baik dalam menyebarkan konten atau mengirimkan email promosi/pemberitahuan pada para pembaca setia (kalau ada). Gatra menjanjikan mampu mengirimkan email secara massal, murah, mudah dan tentunya atraktif.

Kita juga dimungkinkan memantau atau menganalisis keberhasilan email lewat fitur untuk mengetahui jumlah email yang terkirim, terbaca, spam hingga jumlah subscription dari email yang dikirimkan tersebut.

Panggung utama DTIK
Panggung utama DTIK Festival 2015

2. SinTask

Tagline mereka adalah “Anti-mainstream Social Network”. Awalnya saya mengira bahwa mereka memiliki konsep seperti LinkedIn namun dengan fitur penunjang produktivitas. Tapi, setelah saya signup dan melihat-lihat ternyata SinTask lebih mirip seperti Facebook namun dengan fitur yang mampu menunjang kreativitas penggunanya lewat semacam reminder serta productive & fun meter.

Secara konsep, saya suka dengan ide dasar dari jejaring sosial ini. Tetap ingat untuk bekerja tapi sambil bersosial disaat yang sama. Mereka juga kabarnya akan memberikan game dalam SinTask, tapi ketika artikel ini ditulis, belum ada game yang tersedia. No problem untuk saat ini rasanya.


Booth Game Dev Bali
Booth Komunitas Game Dev Bali, ada demo game-game keren

Untuk para developer game sebagian besar memilih untuk bergabung dengan booth komunitas Game Developer Bali (GDB). Saya juga sempat menyaksikan (gak kebagian nyoba main) game buatan Playlian, Armament Spirit Knight. Kalau dari pengelihatan amatir saya, gamenya baru 60-70% selesai, masih perlu dipercantik lagi grafisnya, debugging serta hal lainnya.

Saya juga sempat mampir ke booth BaleBengong . Bale Bengong (balebengong.net) adalah portal dimana masyarakat bisa saling berbagi informasi tentang Bali, istilah kerennya Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Bale Bengong merupakan salah satu inspirasi saya untuk terus menulis dan ‘mengotori’ berbagai tempat di internet dengan ide dan cerita dari kepala ini.


Poster Garda Badung Fest
Poster Garda Badung Fest

Setelah puas atau lebih tepatnya lelah muter-muter di DTIK Festival 2015, saya bersama Sueka pindah ke event selanjutnya yaitu Garda Badung Festival (GBF) 2015. Garda Badung (Gerakan Pemuda Badung) adalah sebuah komunitas yang terdiri dari para pemuda yang berasal dari Kabupaten Badung.

Sebenarnya, acara puncak GBF adalah pada tanggal 2 Agustus dimana akan ada acara pengukuhan serta hadirnya guest star-nya, Nidji. Tapi, saya sendiri tidak yakin bisa datang pada tanggal tersebut, jadi sekalian saja datang pas malam minggu.

Nosstress
Penampilan dari Nosstress

GBF punya dua area, yaitu area stan dimana banyak sekali usaha khas anak muda seperti clothing line dan pastinya kuliner yang menjual produk-produknya serta area panggung utama. Entah kenapa, malam itu saya dan Sueka lebih memilih ke area panggung utama.

Waktu itu, ada penampilan dari Discotion Pill, jujur nih, saya tidak tau banyak tentang mereka apalagi lagu-lagunya. Tapi, mereka berhasil mengcover lagu The Nights dari Avicii dan A Sky Full of Stars dari Cold Play dengan menarik. Selanjutnya, ada penampilan dari Mahalini, lagi-lagi saya tidak tau banyak tentang dia. Setelah googling, akhirnya saya tau bahwa dia masih 15 tahun, sudah punya single sendiri, diproduseri oleh produser dari Jakarta serta punya pasar yang cantik.

PBK
Suasana saat Painful by Kisses tampil

Berikutnya adalah penampilan dari ‘om-om’ Nosstress, itu adalah kali pertama saya nonton mereka secara langsung ternyata kocak dan seru banget. Penonton bernyanyi dan bercengkrama bareng mereka bertiga. Penampilan terakhir malam itu adalah dari Painful by Kisses. Saya bukan tipe penonton konser hardcore, jadi saya menonton mereka dari ‘jarak aman’ saja.


Kedua event yang saya datangi malam tersebut sangat keren, fasilitas dan pengaturannya sudah matang. DTIK Festival 2015 adalah bukti bahwa pemerintah Kota Denpasar sangat serius memberikan wadah bagi warganya untuk berekspresi dan berkreativitas di berbagai bidang termasuk teknologi. Ini merupakan acara tahunan menuju Denfest di akhir tahun nanti.

Garda Badung Fest sendiri sudah dipersiapkan selama 4 bulan oleh panitianya yang tergolong masih muda-muda. Man… Anak muda bisa menjadi panitia untuk acara sebesar GBF bukanlah sesuatu yang mudah. Semoga kegiatan komunitas ini tidak berhenti sampai disini saja.

Sayangnya, saya menyesalkan satu hal pada kedua event tersebut yaitu saya tidak sempat mengunjungi stand makanan di kedua event tersebut. :nangis:

Segitu aja ya, capek nulisnya.