Hari Raya Nyepi & Semangat Hemat Energi

Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan tahun baru dalam kalender Saka. Saat Nyepi, umat Hindu melakukan apa yang disebut sebagai Catur Berata Penyepian diantara Amati Geni (Tidak Menyalakan Api termasuk tidak mengobarkan hawa nafsu), Amati Karya (Tidak melakukan pekerjaan jasmani), Amati Lelungan (Tidak berpergian), dan Amati Lelanguan (Tidak bersenang-senang).

Mungkin banyak yang sudah menyadari bahwa Hari Raya Nyepi bukan hanya berdampak pada manusia, tapi juga pada alam. Di tahun 2009, penghematan listrik pada saat Nyepi mencapai Rp. 3 M, pada tahun 2014, jumlahnya meningkat menjadi Rp. 4 M. Bahkan, saat Nyepi, rata-rata emisi karbon CO2 di Bali berkurang hingga 20.000 ton dalam sehari.

Semangat dari Hari Raya Nyepi juga perlahan-lahan diperkenalkan kepada dunia internasional melalui gerakan yang disebut “World Silent Day”. Diadakan setiap 21 Maret pada pukul 10 pagi hingga 2 siang menurut waktu lokal.

21 Maret dipilih bukan karena alasan keagamaan tapi sains, dimana pada tanggal tersebut, matahari berada pada posisi vernal equinox, dan kemudian akan mulai bergerak ke utara. Selain itu, juga karena berkaitan pada Hari Air Sedunia pada 22 Maret.

Pada 2015 ini, Hari Raya Nyepi akan bertepatan dengan World Silent Day yaitu pada 21 Maret 2015. Selain Nyepi dan World Silent Day, pada Maret 2015 juga akan diadakan acara tahunan Earth Hour (60+) yang jatuh pada 28 Maret 2015.

EH-Bali

Gerakan ini merupakan gerakan penghematan listrik selama 1 jam di seluruh dunia, biasanya dilakukan pada hari Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya pada pukul 21.00 – 22.00 waktu setempat. Earth Hour merupakan salah satu gerakan yang sudah diakui oleh PBB.