Iblis 1000 Wajah

Aku telah hidup selama berabad-abad bersama para manusia, disebut dalam berbagai nama, ada yang memujaku dan ada pula yang berusaha “membunuhku”. Tapi, aku sendiri lebih senang menyebut diriku sebagai “Iblis 1000 Wajah”. Aku dikirim ke dunia ini untuk satu tugas, “menyeimbangkan” kehidupan umat manusia. Satu kisah yang paling ku ingat adalah ketika kehidupan umat manusia terlalu membosankan.

Pada masa itu, manusia hidup dalam sebuah rutinitas membosankan. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang dan beristirahat. Lalu, mereka akan berlibur pada hari minggu atau hari libur lainnya. Sungguh kehidupan yang sangat membosankan dan terlalu tenang. Jadi, aku mendapatkan tugas untuk menyeimbangkannya.

Rencanaku mulai di sebuah kampus, aku menyamar sebagai orang tua penjual buku. Seorang mahasiswa yang tampak cerdas menghampiriku,

injustice_god_among_us_joker_face-wallpaper-1366x768

“Hei anak muda, kau tampak sangat cerdas tapi sangat kosong. Coba bacalah buku ini, aku berikan padamu secara gratis.”┬áDia awalnya tampak bingung, tapi kemudian mengambil buku yang ku berikan begitu saja. Aku melakukan hal yang sama di beberapa kampus lain di seluruh penjuru dunia.

Selanjutnya aku menuju ke sebuah cafe internet, memesan secangkir kopi dan memakai sebuah komputer yang tampak cukup tua. Aku membuka beberapa forum yang biasanya berisi perdebatan banyak orang. Memposting beberapa kalimat bias yang bisa diartikan banyak hal lalu membiarkannya begitu saja. Membayar apa yang ku pesan lalu pergi.

Rencana terakhirku menyusahkan, jadi aku harus menyamar dengan pakaian rapi dan memakai sedikit kemampuan memanipulasi pikiran yang diberikan padaku. Tibalah aku di sebuah komunitas yang memiliki cukup banyak pengikut,

“Anda tau, dengan pengikut sebanyak ini, bukankah artinya Anda dipercaya oleh mereka, bahwa Anda adalah orang yang terpilih? Seseorang yang terpilih untuk menjadi pemimpin kami semua?” Inti dari kalimatnya seperti itu, entah dipermanis atau dipertegas, aku melakukannya pada beberapa komunitas yang memiliki banyak pengikut.

Maka, dengan tiga hal itu, tugasku sudah selesai. Semakin hari, umat manusia mempermudah tugasku untuk “menyeimbangkan” mereka. Buku yang ku berikan pada mahasiswa yang cerdas namun tampak kosong adalah mengenai cara menemukan jati diri mereka namun dengan cara yang “salah”, tergantung sudut pandang mana yang mau kau pakai.

Buku-buku tersebut ditambah sedikit dorongan yang ku berikan di kemudian hari akan mengubah mereka menjadi “penyeimbang” umat manusia, mereka akan memandang bahwa umat manusia adalah suatu kesalahan yang harus diperbaiki dengan cara dihapus terlebih dahulu.

Mempengaruhi komunitas dengan banyak pengikut sebenarnya cukup menyenangkan, aku bisa mengubah mereka menjadi apapun yang aku inginkan. Komunitas yang anarkis, komunitas penipu, ataupun komunitas yang diisi oleh orang-orang bodoh. Mereka mungkin tidak akan banyak memberi dampak pada tugasku, tapi tetap saja menyenangkan melihat mereka saling beradu “kebenaran” ala mereka.

Kenapa aku memakai internet? Internet itu lebih banyak diisi oleh orang-orang bodoh, jika mereka pintar, mereka akan lebih memilih berada di perpustakaan. Orang-orang di internet menelan mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan, mereka percaya apa yang mereka lihat dan mereka baca, seolah itu adalah kebenaran mutlak.

Mereka akan membela mati-matian orang yang tidak mereka kenal selama orang tersebut memiliki pandangan yang sama dengan mereka. Sebaliknya, mereka akan menentang mati-matian saudaranya sendiri jika memiliki pandangan yang berbeda. “Penyeimbangan” yang ku lakukan di internet juga kadang bisa berdampak pada kehidupan nyata tanpa perlu aku ikut campur tangan.

Kalian tau, kehidupan sebagai iblis hijau itu menyenangkan dan membosankan di saat yang bersamaan. Aku bisa menyaksikan manusia saling menghabisi atas nama hal-hal semu seperti uang, kekuasaan dan perdamaian… heh. Tapi, tugasku juga jadi membosankan karena manusia selalu mudah dipengaruhi.