Jalan-Jalan ke Jatiluwih

Mumpung masih diberi kesempatan menikmati alam Bali, maka pada Minggu, 29 Maret 2015, saya bersama adik dan kakak sepupu jalan-jalan ke Jatiluwih dengan modal ‘sok tau’ ditambah dengan persiapan yang mendadak. Jujur saja, awalnya kami bertiga bahkan tidak yakin kalau Jatiluwih itu tepatnya berada dimana.  :swt:

Berangkat dari rumah di kawasan Seminyak sekitar pukul 10.00 WITA, perjalanan terbilang panas dan terasa jauh. Mau gimana lagi, tidak ada satupun dari kami yang tau letak pasti Jatiluwih, ya, emang tau letaknya di Kabupaten Tabanan, tapi entah di sebelah mananya.

Berbekal GPS dan Google Maps yang ‘sesat’ karena menurut dia yang super sok tau itu, Jatiluwih tinggal 2 Km lagi. Padahal, jelas-jelas ada papan tanda jalan yang menunjukan “Jatiluwih 7 Km”. Dasar teknologi sesat  😆

Setelah kurang lebih 2 jam menempuh ‘perjalanan sok tau’, kami tiba di sebuah tempat yang mirip Jatiluwih. Ada pemandangan sawahnya, tapi kok rasanya bukan. Soalnya, tidak ada tanda “Selamat datang di Desa Wisata Jatiluwih” atau sebagainya. So, masih bermodal ‘sok tau’ kami terus mengikuti jalan hingga akhirnya benar-benar sampai…. Yeah….  :tepuktangan:

Walau matahari diatas kepala sangat membakar, tapi mata dimanjakan dengan ‘tanaman mirip padi’ yang menghijau. Kok ‘tanaman mirip padi’? Ya, karena saya sendiri tidak yakin kalau itu padi, soalnya tidak ada bijinya. Entah karena belum waktunya atau memang bukan padi. Maklum, bukan mahasiswa pertanian.  :silau:

Saya pastikan, akan sangat langka melihat Jatiluwih seperti foto pertama dibawah ini.

Tapi, saya berani pastikan. Jika kalian datang agak siang, kalian bisa melihat Jatiluwih yang seindah ini.

Jatiluwih adalah tempat wisata yang indah dan sudah dikelola dengan baik, ada tiket masuk, pecalang (polisi adat), tracking track hingga berbagai petunjuk yang memudahkan para wisatakan. Sayangnya, saya kurang melihat banyak tempat sampah di tempat ini.

Selain itu, papan yang berisi informasi menarik seputar Jatiluwih juga sebaiknya ditambah/diperbanyak biar yang datang bukan cuma foto-foto, tapi bisa membawa sedikit pengetahuan.

Buat kalian yang doyan makan (seperti saya), di Jatiluwih ada berbagai tempat makan, mulai dari cafe dan restaurant yang ‘bule banget’ sampai tempat makan yang dikelola warga lokal, kebetulan saya memilih salah satu warung makan milik warga lokal disana.

Makanannya enak, nasi beras merah lagi. Awalnya kami bertiga mengira harganya akan cukup mahal, tapi ternyata harganya sangat ‘mahasiswai’  :silau:

Oke, sekian dulu cerita jalan-jalan ke Jatiluwihnya. Semoga bisa ke tempat-tempat asyik lainnya.