Jalan-Jalan Singkat ke Lumajang

Dengan pemberitahuan dadakan, tanggal 4 Juli lalu saya berangkat ke tanah Jawa untuk Tirta Yatra, yaitu pergi dan sembahyang ke tempat suci. Kenapa dadakan? Karena baru kemarin sorenya saya diberitahu bahwa rombongan paman saya akan pergi ke Jawa, khususnya ke Pura Mandara Giri Semeru Agung, Lumajang.

Perjalanan dari Bali dimulai sekitar pukul 7 pagi dengan rombongan berjumlah 12 orang. Perjalanan beberapa jam menuju Gilimanuk hingga akhirnya berlabuh di Ketapang. Sampai di pulau Jawa, tujuan pertama bukan langsung ke Lumajang melainkan ke Blambangan terlebih dahulu.

Pura Agung Blambangan adalah tujuan pertama rombongan, kami tiba sekitar tengah hari. Hebatnya, ternyata bukan kami saja rombongan dari Bali yang menuju kesana. Seingat saya, ada setidaknya 10 bis serta belasan mobil pribadi yang sebagian besar merupakan rombongan orang Bali (karena ber-plat DK).

Karena saat tiba, masih sangat padat. Rombongan kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, mandi, berganti pakaian baru akan bersembahyang. Saat istirahat itu, rombongan kami sempat berbincang dengan beberapa rombongan lain, ada yang berasal dari Gianyar, Denpasar dan Badung. Tujuan mereka sebagian besar sama dengan kami, yaitu Pura Mandara Giri Semeru Agung, tapi ada juga yang akan ke Pura Giri Selaka, Alas Purwo.

Saat kami serombongan sudah selesai berganti pakaian, suasana sudah tidak sepadat saat kami datang. Pura Agung Blambangan ini bisa dibilang sangat berkesan bagi saya, karena saat masih kecil, waktu pertama kali ke Jawa, Pura ini merupakan Pura pertama di luar Bali tempat saya bersembahyang. Kalau tidak salah, waktu itu tujuan utama rombongan saya adalah ke Alas Purwo. Suasananya tidak berubah sejak terakhir saya kesana, pedagangnya, keramahan warganya, serta pemangku dengan logat Jawa yang khas.

Hari sudah semakin siang saat kami melanjutkan perjalanan menuju Lumajang, beberapa tempat yang saya ingat sepanjang perjalanan seperti Gunung (alas) Gumitir serta Kota Jember. Khusus untuk Gunung Gumitir, saya tidak tahu banyak seputar keangkeran dan legenda tempat tersebut, tapi jika jalan yang melewati tempat tersebut berbahaya, saya jawab Iya!

Seperti kebanyakan jalan yang melewati pegunungan lain, jalan di Gunung Gumitir berkelok dan punya banyak tikungan tajam, ada tanah tinggi di sisi satu dan jurang dalam di sisi lain. Terlebih lagi, jalur ini merupakan yang terpendek dan terendah untuk menghubungkan Jember dan Banyuwangi, jadi tidak heran kalau selama perjalanan rombongan saya harus berpapasan dengan truk-truk gandeng berukuran besar.

Rombongan saya tiba di Pura Mandara Giri Semeru Agung sekitar pukul 9 malam waktu setempat (kalau tidak salah). Tujuan pertama tentunya MAKAN… Berjam-jam menempuh perjalanan membuat perut protes, ditambah lagi udara dingin yang langsung menusuk ketika baru keluar dari mobil.

PurMandara Giri Semeru Agung

Selesai makan-makan, rombongan langsung memutuskan mandi sebelum sembahyang. Jujur saja, saya perlu waktu cukup lama untuk berpikir, mau mandi apa tidak. Udara yang jauh lebih dingin daripada ruang kelas di kampus pada pagi hari membuat keinginan untuk mandi berkurang. Tapi, badan yang sudah bau keringat dan lengket ditambah tempat mandi (semacam pancoran terbuka) membuat saya ingin mandi saja. Untungnya, airnya tidak sedingin berpirkiraan.

Badan sudah bersih, sekarang waktunya sembahyang. Seperti dugaan, malam itu umat yang hadir jumlahnya banyak. Sebagian besar berasal dari berbagai kabupaten di pulau Bali. Setelah selesai sembahyang, acara bebas…

Saya diajak ngopi oleh salah seorang paman saya, tapi karena lagi males ngopi, saya memilih minum susu cokelat panas saja. Sambil ngopi itulah, saya diceritakan sedikit sejarah yang diketahui paman saya tentang Pura Mandara Giri Semeru Agung tersebut. Bagaimana perjuangan pembangunan Pura tersebut, bagaimana sedikit gambaran Pura dan daerah sekitarnya pada tahun 1986 (saat paman saya pertama kali kesana) serta bagaimana peresmiannya pada 1992.

Pura Mandara Giri Semeru Agung

Rombongan memutuskan akan kembali ke Bali pada dinihari (sekitar pukul 3). Nah, karena udara yang terlampau dingin membuat kuping saya memerah karena kedinginan ditambah tidak membawa celana panjang maupun selimut. Apalagi sebagian besar dari anggota rombongan memang tidak tidur (kecuali supir), jadilah hari itu saya benar-benar tidak tidur.

Untuk menghilangkan dingin, saya mencoba berbagai hal, berkumpul mepet-mepet dengan anggota rombongan lain (bahkan dengan rombongan lain), olahraga kecil (yang malah bikin capek), minum teh panas mendidih (yang cepet banget dingin) hingga berkumpul di sekitar api unggun.

Api Unggun

Ternyata cara yang paling efektif adalah berkumpul dekat api unggun, saya tidak tau siapa yang memulai (mungkin warga sekitar), tapi api unggun tersebut memberikan hangat yang terasa nyaman. Saat ber-api-unggun-ria tersebut, saya mendengarkan cerita dari beberapa orang. Dari seorang nenek tentang kehidupan di masa lalu, tentang seorang ibu dari Sidoarjo yang suaminya begitu rajin sembahyang walau awalnya berasal non-Hindu serta seorang ibu dari Kediri yang sedang mengupayakan mendirikan Pura bersama umat lain di daerah tersebut.

Saat sahur tiba, saat itu pula rombongan kami berangkat kembali menuju Bali. Menempuh jalur yang sama saat kami datang. Saat fajar mulai naik, kami sudah tiba di kota Jember. Awalnya saya mengira akan sampai Ketapang pada tengah hari, tapi ternyata jauh lebih cepat. Sekitar pukul 11, kami justru sudah berlabuh lagi di Gilimanuk.

Perjalanan dari Gilimanuk menuju pulanglah yang terasa sangat lama, selain sudah lelah, jalanan yang kadang macet ditambah banyaknya truk-truk bermuatan besar sepanjang jalur Denpasar-Gilimanuk membuat perjalanan semakin terasa lama. Saya tiba di rumah sekitar pukul 3, mandi dan lalu berhibernasi hingga pagi ini. Untungnya, masih inget kalau hari ini kuliah.


Note : 3 foto terakhir diambil menggunakan OnePlus One milik saya, baca review singkat saya mengenai OnePlus One – OnePlus One Dimata Saya

Related Incoming Search Term: