Kabur ke Nusa Lembongan

Provinsi Bali sebenarnya tidak hanya terdiri dari satu pulau saja, ada beberapa pulau kecil seperti Pulau Menjangan di wilayah Taman Nasional Bali Barat serta tiga pulau lain yaitu Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida yang masuk dalam wilayah Kabupaten Klungkung di sebelah timur pulau Bali.

Pada tanggal 8-9 September 2015, saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Pulau Nusa Lembongan bersama kawan-kawan saya, Andre dan Reza. Berwisata bertiga saja sebenarnya kurang menyenangkan, tapi hanya kami bertiga yang masih dalam masa liburan dan belum mulai kuliah lagi.

Artikel kali ini ditulis berdasarkan pengalaman saya, ditambah dengan tips dan informasi yang saya dapatkan selama berwisata di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Tanggal 8 September 2015 pagi, kami berangkat menuju Pantai Sanur. Disana, kami membeli tiket fastboat seharga Rp.175.000/ orang untuk perjalanan bolak-balik dari Optasal. Tergolong mahal? Lumayan. Tapi, setidaknya kami tidak harus menghabiskan waktu 1,5 jam di tengah laut jika memakai public boat yang harganya hanya Rp.100.000 / orang untuk rute yang sama.

Suasana di dalam fastboat

Kesalahan kami adalah tidak melakukan tawar menawar untuk harga tiket tersebut, saat sampai di Nusa Lembongan, saya mendapat info jika harga tersebut sebenarnya bisa saja ditawar. Selain itu, masih ada perusahaan jasa penyembrangan lain yang menawarkan harga lebih murah dengan kapal yang lebih besar. Tapi, Optasal memiliki keunggulan dari segi jadwal keberangkatan yang lebih banyak. Kuncinya 1 : MENAWAR HARGA.

Kami berangkat naik fastboat bernama “Sari Nusa”, perjalanan awalnya baik-baik saja hingga seorang kru kapal berbicara pada saya,

“Bisa pindah duduk gak ke sebelah? Ini boatnya miring!”

Waktu denger itu, rasanya campur aduk… Tapi, demi keselamatan bersama, saya terpaksa pindah dan duduk di kursi di belakang kapten.

Perjalanan terus berlanjut, cuaca cerah berawan dan angin tidak terlalu kencang. Tapi, entah kenapa, ombak rasanya gak bersahabat. Kapal kami ditabrak-tabrak seenaknya oleh gelombang dan rasanya udah mirip naik kora-kora. Selain dapat perjalanan ke Nusa Lembongan, kami juga dapat sedikit olahraga jantung.

Sampai di Nusa Lembongan, kami disambut dua bapak-bapak, yang salah satunya menjadi informan saya mengenai banyak hal di Lembongan. Harga sewa rata-rata sepeda motor di Lembongan jauh lebih tinggi dari di pulau Bali, kenapa? Karena pulau ini belum punya SPBU dan kebutuhan BBM-nya berasal dari Denpasar, jadi wajar kalau harga BBM disana mencapai 2 kali harga di Denpasar.

Pemandangan desa Jungutbatu dari tempat bernama Panorama Point

Kami menyewa 2 sepeda motor full bensin untuk 2 hari dengan harga Rp.210.000. Perjalanan selanjutnya adalah mencari homestay yang sudah saya booking melalui Booking.com. Seingat saya, letaknya tidak jauh dari pantai dan seharusnya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 5 menit. Sempat mondar-mandir juga mencari homestay ini hingga akhirnya ketemu.

Homestay tempat kami menginap untuk semalam bernama “Kubu Nusa”, saya memesan kamar dengan 1 bed besar dan 1 bed yang berukuran lebih kecil. Ditambah dengan fasilitas ‘standar’ penginapan di Nusa Lembongan seperti AC, TV dan Wifi. Harganya? Rp.360.000/malam. Kembali lagi, harga tersebut terjadi karena 2 hal. Pertama, karena saya sudah melakukan booking terlebih dahulu dan kedua, karena saya tidak melakukan penawaran harga.

Mencari “next location”

Saran saya, jika memang tidak datang pada musim high season (Juli-Agustus / Desember-Januari), lebih baik datang saja dulu ke Nusa Lembongan lalu carilah informasi mengenai penginapan murah. Karena, dari apa yang saya perhatikan, banyak sekali homestay murah yang belum melakukan promosi dan pemasaran secara online seperti yang dilakukan oleh Kubu Nusa.

Tempat pertama yang kami tuju setelah sampai di Nusa Lembongan adalah Devil’s Tear. Namanya keren banget ya? Tempat ini adalah dimana gelombang dari Samudra Hindia (kalau gak salah) menghantam tebing karang pulau Nusa Lembongan. Jika gelombang yang menghantam cukup besar, kita bisa merasakan ‘hujan gerimis’ walaupun matahari sedang sangat terik.

Foto model : Andre 😀

Karena udah terlanjur siang dan panas, kami balik lagi ke penginapan untuk menyusun rencana berikutnya. Setelah planning selesai, kami mencari tempat makan murah. Pemilik Kubu Nusa menyarankan kami berjalan-jalan ke sekitaran Mercusuar untuk mencari tempat makan. Sayangnya, apa yang kami temukan hanya cafe dan restaurant yang tampaknya akan memangsa isi dompet kami.

Pada akhirnya, kami menemukan warung makan yang menyediakan nasi campur dengan harga Rp.20.000 per porsi yang letaknya hanya sekitar 50 meter dari peningapan. Hadeh…

Next adalah menuju Nusa Ceningan. Antara pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dihubungkan dengan sebuah jempatan pegas ikonik berwarna kuning. Sebelum menyebrang, tertera beberapa peringakat seperti jangan bergerombol diatas jembatan, kapasitas beban maksimum diatas jembatan hanya 2 sepeda motor dan sebagainya.

Saat saya menyebrang menaiki sepeda motor menuju Nusa Ceningan, ada seorang wisatawan asing yang memandang dengan pandangan antara takjub dan aneh pada saya. Saya berkhayal bahwa dia sedang berpikir saya nekat menyebrang menggunakan motor atau hanya risih karena saya menganggu sesi fotonya diatas jembatan.

Jembatan penghubung Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan

Teman saya, Andre mencoba menyebrangi jembatan ini dengan berjalan kaki. Menurut dia, rasanya antara sedikit ngeri bercampur mual karena jembatan ini terasa begitu bergoyang-goyang ketika disebrangi dengan berjalan kaki.

Pesan saya : patuhilah rambu-rambu peringatan di jembatan ini. Warga sekitar pun walau mungkin setiap hari melewati jembatan ini, sangat mematuhi rambu tersebut.

Di Nusa Ceningan, tujuan kami awalnya adalah sebuah tempat bernama Blue Lagoon. Beberapa tahun lalu, di tempat tersebut terdapat aktivitas cliff jumping bagi yang cukup berani. Tapi, menurut warga lokal, sekarang sudah tidak ada lagi.

Tidak jauh dari Blue Lagoon, kami menemukan sebuah pantai yang disebut sebagai Secret Point. Walau namanya “Secret”, tapi di sekitar tempat tersebut terdapat penginapan, restaurant hingga bar. Tempat tersebut mengingatkan saya pada Tanah Lot yang punya pemandangan yang mirip.

Secret Point

Di Secret Point ini kami bertiga memutuskan untuk mandi dan itu merupakan pilihan yang cukup salah. Pertama, airnya sangat dingin walau kami mandi sekitar pukul 3 siang. Kedua, kami tidak membawa handuk maupun baju ganti. Dan ketiga, kami jadi bau amis.

Tapi, semua itu terbayarkan dengan pengalaman, pemandangan dan tentu saja hasil foto yang bisa digunakan untuk pamer. Hahaha…

Tebing Bolong di Secret Point

Cerita selanjutnya cukup membosankan, kami kembali ke penginapan dan mandi. Maunya sih pergi ke Sunset Beach untuk melihat sunset, tapi kami sadar bahwa Nusa Lembongan tidak memiliki lampu penerangan jalan jadi walaupun kami punya kesempatan melihat sunset yang indah, kami juga punya kesempatan yang sama untuk tersesat saat perjalanan pulang.

Jadi, kami memutuskan untuk diam di penginapan saja. Kabar baik akhirnya menghampiri saat saya bersama Reza berbelanja minum di warung depan Kubu Nusa. Kami melihat penjual MARTABAK. Malam itu, setelah makan nasi goreng sederhana berharga mahal, kami pesta martabak. Kubu Nusa ternyata bukan pilihan yang salah, selain terdapat warung di depannya (masih milik Kubu Nusa), juga dekat dengan warung-warung makan murah meriah.

Foto model : Reza 😀

Keesokan paginya, kami sebenarnya punya rencana mengunjungi hutan mangrove sebelum kembali ke Denpasar. Tapi, daya tarik kasur dan selimut mengalahkan keinginan untuk berkunjung ke hutan mangrove tersebut. Jadilah, kami memutuskan untuk pulang saja.

Sebelum pulang, saya sempat berbincang lagi dengan pemilik Kubu Nusa. Waktu tersebutlah, saya jadi mendapat beberapa informasi lagi.

  1. Nusa Lembongan akan paling padat dan mahal pada high season terutama Juli-Agustus. Untuk high season akhir tahun sebenarnya sama saja, tapi karena cuaca biasanya tidak begitu bersahabat, jadi jumlahnya tidak  sepadat high season Juli-Agustus.
  2. Jika sudah booking penginapan, pastikan desanya. Karena di Nusa Lembongan ada 2 desa, yaitu Jungutbatu dan Lembongan. Kalau kita hanya bilang mau ke Lembongan sewaktu di Sanur, pasti akan diturunkan di Mushroom Bay (desa Lembongan).
  3. Ada baiknya meminta bantuan pada owner dimana tempat kita menginap jika ingin melakukan aktivitas seperti snorkling atau diving. Selain mengurangi risiko mendapat harga mahal, jika terjadi apa-apa juga lebih mudah mengadunya.
  4. Trik rahasia : Jika berwisata ke hutan mangrove, harganya adalah Rp.100.000/kapal dengan kapasitas maksimal 4 orang. Jangan pernah bertanya “100 ribu per orang?”, tanya saja, “berapa harganya?”, jika dijawab “100 ribu”, langsung naik saja (maksimal 4 orang). Trik ini belum tentu 100% berhasil ya. 😀

Oke, kami kembali ke Denpasar dengan fastboat bernama “Yellow Fin” sekitar pukul 10.30. Belum jauh dari Nusa Lembongan, kapal kami tiba-tiba heboh karena beberapa wisatawan asing melihat lumba-lumba. Padahal jam tersebut sudah terbilang siang.

Jungutbatu Lembongan

Akhirnya, kami kemabli menuju realita. Menuju perkuliahan semester 3, menuju hiruk-pikuk pulau Bali lagi.