Kebijakan Baru Youtube & Sensor (?)

“Youtube lebih dari TV”, kalimat yang pernah bikin heboh awal tahun 2016 ini jadi pembuka karena kali ini saya akan bahas tentang Youtube. Belakangan ini lagi heboh-hebohnya beberapa Youtuber yang videonya di demonetizing (tidak bisa menampilkan iklan/menghasilkan uang) oleh Youtube. Bahkan di luar negeri, saking hebohnya beberapa content creator (sebutan lain Youtuber) mengancam minggat dari Youtube.

Persoalannya sih bisa dibilang cukup sensitif, katanya ada kebijakan baru (?) dari Youtube yang “memaksa” content creator menghasilkan video-video yang lebih advertiser-friendly (ramah terhadap pengiklan) dalam artian tidak mengandung hal-hal negatif yang mungkin saja diasumsikan oleh penonton terkait dengan iklan yang muncul dari suatu video.

Di ujung internet sana, ada yang berteriak dengan lantang, “Ini sensor! Menghalangi seseorang untuk berkarya!”. Ehm… Ingin tau kenapa saya memasang judul dengan tanda (?), karena jika ditelisik lagi ke belakang, tidak ada yang benar-benar baru dengan kebijakan Youtube ini. Kebijakan yang berubah adalah kini Youtube memberitahu content creator bahwa video mereka tidak menampilkan iklan, dimana dulunya hal ini hanya dilakukan sepihak oleh Youtube. Bukankah ini justru hal yang baik?

Contohnya : Saya memiliki sebuah video yang isinya kejahilan terhadap seseorang yang cukup keterlaluan, lalu saat seseorang menonton video tersebut, muncul iklan dari Dearryk.com misalnya. Tentu akan muncul asumsi dari beberapa orang bahwa situs tersebut mensponsori kejailan yang saya lakukan. Nah, hal itulah yang tidak diinginkan Youtube. Jika dulu Youtube tidak memberitahu jika video tersebut tidak menampilkan iklan, kini Youtube memberitahunya dan bahkan memberi kesempatan pada Youtuber untuk “mengajukan banding” jika dirasa hal tersebut tidak tepat.

Kenapa saya membuka tulisan ini dengan kalimat “Youtube lebih dari TV”, karena menurut saya, hal itu tidak tepat. Terutama dengan kondisi video Youtube berbahasa Indonesia saat ini. Bagaimana mungkin “lebih baik” jika anak-anak bisa mengakses konten-konten dewasa di Youtube hanya dengan memalsukan umur mereka saat membuat akun atau cukup menggunakan akun orangtua mereka? Bagaimana mungkin “lebih baik” jika Youtube (khususnya Indonesia) sebagian besar isinya omongan sumpah serapah dibanding diskusi sumpah pemuda atau sumpah palapa? Berapa sih persentase video berlabel “Education” dibandingkan “Entertainment“?

youtube flow

Sebenarnya, Youtube bisa menggunakan sebuah solusi “sederhana” untuk hal ini yaitu mengoptimalkan sistem age-restriction mereka, yaitu menghalangi pengguna akun dibawah 18+ tahun untuk menonton video yang berlabel 18+. Tapi, hal ini harus dilakukan dari tiga sisi. Pertama, Youtube harus benar-benar mengoptimalkan sistem ini dengan “menyulitkan” memalsukan umur akun. Kedua, Youtuber harus peduli dengan menyematkan label 18+ pada video mereka jika memang mengandung konten untuk dewasa. Ketiga, pihak konsumen (khususnya orangtua) juga harus peduli dengan hal ini. Youtube sendiri sebenarnya sudah berusaha menyediakan alternatif Youtube bagi anak-anak yaitu Youtube Kids yang sangat ramah anak.

Saya setuju bahwa tidak ada sistem yang sempurna, termasuk sistem Youtube. Bukan hal baru lagi jika sistem Youtube beberapa kali salah dalam mengidentifikasi sebuah video secara klaim hak cipta dan sebagainya. Bahkan ketika beberapa video yang jelas-jelas melanggar kebijakan Youtube justru bisa lolos menampilkan iklan. Tapi, sebagai sebuah perusahaan yang mencari keuntungan (yap, Youtube adalah perusahaan), mereka sudah berusaha melindungi konsumen (penonton) dan sumber uang (pengiklan), sambil terus menjaga hubungan baik dengan partner (Youtuber) mereka.

Sampai saat ini, saya masih optimis bahwa apa yang dilakukan Youtube masih pada koridor yang benar, walau mungkin merugikan bagi beberapa orang. Tapi, hanya waktu yang bisa menjawab apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah akan muncul “Youtube Baru”? Apakah para Youtuber akan minggat, misalnya menjadi Twicther?