Keluyuran di Singapura

Tanggal 10 -13 Maret 2016, saya punya kesempatan berkunjung ke Singapura untuk pertama kalinya. Berangkat bersama rombongan dari Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Badung, ini adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri.

Agak berbeda dengan jalan-jalan yang biasa saya ikuti, kali ini kami tidak memakai tour guide khusus, sehingga agenda perjalanan terasa lebih bebas dan sesuka hati. Oke, skip tentang masalah teknis, saya sebenarnya lebih ingin menulis tentang hal-hal yang saya perhatikan di Singapura.

Singapura itu Tertata dan Hijau

IMG_20160311_085643

Saya tidak terlalu suka menyebutnya “bersih”, karena disana pun ada sampah seperti disini. Bedanya, segalanya lebih tertata. Tempat sampah mudah ditemukan dimana-mana ditambah dengan aturan denda hingga S$500 jika ketahuan buang sampah sembarangan.

Tapi, yang membuat saya lebih takjub adalah tata kota Singapura. Pohon perindang berukuran besar hampir ada di sepanjang jalan, karena kebijakan penghijauan sejak puluhan tahun lalu. Hujan yang cukup deras sempat mengguyur tapi setelah itu tidak ada genangan, bukti bahwa drainasenya berjalan sangat baik.

Ramah pejalan kaki

IMG_20160311_185758

Bukan karena ukuran negara yang kecil atau jarak dari satu tempat ke tempat lain yang dekat, tapi karena emang enak jalan kaki di Singapura. Pedestrian-nya lebar dan datar (tidak banyak rusak). Ditambah lagi, sambil berjalan bisa menikmati suasana dan street food ala Singapura.

Surganya pecinta makanan Asia

IMG_20160310_160850

Kalau saya disuruh memilih, saya akan memilih makan di food court. Selain harganya yang lebih murah, juga pilihannya yang sangat beragam. Mulai dari makanan Korea, Jepang, Cina, Filipina, Malaysia hingga Indonesia biasanya tersedia di food court makanan Asia. Apalagi buat orang-orang yang “belum makan kalau belum makan nasi”. Singapura memiliki penduduk dari berbagai negara, jadi tidak heran kalau ada makanan dari berbagai negara terutama di Asia.

Pengalaman pertama naik MRT dan Monorail

IMG_20160311_193038

MRT dan Monorail di Indonesia (Jakarta) baru memasuki tahap awal, jadi saya sudah selangkah lebih maju dengan mencoba MRT dan Monorail di Singapura. Ini juga jadi pengalaman pertama naik kereta, karena di Bali tidak ada jalur kereta.

MRT di Singapura ada di bawah tanah, kira-kira 3 atau 4 lantai dibawah permukaan tanahlah. Menurut salah satu anggota rombongan saya, sistem MRT di Singapura masih tergolong ‘kecil’ jika dibandingkan dengan Cina maupun Jepang yang super besar. Saat naik MRT, saya menyadari bahwa kehidupan di Singapura bukan hanya diatas tanah, tapi juga ada dibawah permukaan tanah.

Sistem transportasi antara MRT, LRT, Monorail dan Bus umum pun sangat terintegrasi. Jadi, jarak antara stasiun kereta dan halte bus tidak terlalu jauh dan saling terhubung.


Itu beberapa ‘enak’ yang sering dilihat di Singapura, tapi saya bukanlah tipe orang yang hanya jalan-jalan untuk berfoto-foto saja, setidaknya saya harus membawa sedikit pengetahuan ketika pulang. Berikut ini beberapa sisi lain yang saya dapatkan di Singapura.

Biaya hidup tinggi

IMG_20160311_192551

Hal ini bisa dilihat dari yang paling sederhana, harga makanan. Saya mencoba membeli nasi dan ayam lalapan di salah satu food court dan berapa yang harus saya bayar? Sekitar 7 dollar Singapura atau sekitar Rp. 67.200 (kurs S$1= 9600). Atau lebih sederhana lagi, satu buah pisang di 7eleven atau penjual pinggir jalan dihargai S$0.40 – 1, atau sekitar Rp.4000- Rp.10.000.

Ini bukan tanpa alasan, Singapura bukanlah negara besar, hampir sebagian besar barang dan bahan makanan disana berasal dari impor. Jadi, wajar saja kalau biaya hidupnya tinggi.

Sedikitnya warga pribumi

IMG_20160311_114620

Orang Singapura menyebut diri mereka sebagai Singaporean setelah memisahkan diri dari Malaysia pada 1965, atau beberapa acara TV senang menyebut orang Singapura sebagai Anak Singa. Jumlah penduduk asli (warga negara) Singapura dan pendatang adalah 6 : 4. Jadi, dari 5,5 juta orang yang ada di Singapura, sekitar 2,1 jutanya adalah pendatang.

Salah satu supir taksi yang saya ajak bicara, mengatakan bahwa pada masa pemerintahan perdana menteri Lee Kuan Yew, kebanyakan warga negara Singapura memilih untuk tidak memiliki anak dan hal itu berdampak pada angka kelahiran dan jumlah warga negara Singapura saat ini.

Banyaknya penduduk pendatang di Singapura bisa dilihat pada hari Minggu dimana penduduk yang berasal dari berbagai negara akan berkumpul di suatu tempat untuk arisan atau bahkan berpesta.

Banyak pekerja usia lanjut

IMG_20160312_122151

Kalau ke Singapura, jangan heran kalau melihat banyak manula yang bekerja sebagai petugas kebersihan atau petugas di toilet. Ini karena kebijakan dimana semua perusahaan di Singapura wajib menerima manula yang ingin bekerja di perusahaan mereka. Sehingga para menula tidak bergantung pada anak atau menantunya, selain itu mereka juga tetap sehat karena selalu bergerak dan bersosialisasi.

Menurut survei, sebagian besar manula di Singapura menolak untuk pensiun. Mereka memilih pekerjaan lain yang lebih sesuai ketika sudah pensiun, demi mendapat kemandirian finansial, tetap bersosialisasi dan tentu saja menjaga harga diri.