Kenapa Indonesia Tidak Punya One-for-All Card?

Sebagai seseorang yang ‘normal’ dan taat hukum, saya setidaknya punya tiga kartu/surat di dalam dompet yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Ijin Mengemudi (SIM) A dan SIM C.

Belakangan, saya juga punya tambahan kartu baru yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS). Makin lama, mungkin saja jumlah itu akan bertambah dengan kartu/surat lain seperti NPWP, Kartu Ketenagakerjaan dan sebagainya.

Pertanyaan saya sih sebenarnya sederhana,

Kenapa kita tidak punya satu atau setidaknya dua kartu/surat untuk hampir semua kegiatan?

Kenapa Indonesia Tidak Punya One-for-All Card? 1

Ide ini sih harusnya tidak muluk-muluk, Indonesia kan sudah punya E-KTP yang bisa diartikan bahwa data-data penduduknya sudah ada secara digital. Nah, dengan adanya data terpadu, harusnya tidak sulit kok untuk membuat satu Kartu Sakti untuk segala urusan.

Saya punya setidaknya tiga konsep untuk “Kartu Sakti Indonesia”, bukan sekedar kartu-kartuan, tapi satu kartu untuk hampir segala keperluan.

Konsep Pertama Kartu Sakti Indonesia

Konsep pertama adalah sebuah kartu layaknya e-KTP yang sudah ada saat ini, namun dengan memaksimalkan fungsi chip yang dimiliki. Jadi, dipermukaan, kartu ini hanya berisi nama, alamat, tanggal lahir dan foto.

Namun, di bagian chip, berisi juga keterangan data tambahan seperti riwayat kesehatan, keterangan ketenagakerjaan/kepegawaian, catatan pajak dan sebagainya.

Konsep ini adalah yang paling ‘mudah’ karena hanya memerlukan satu kartu untuk hampir segala urusan formal. Untuk meningkatkan keamannya, kita bisa menggunakan ‘kunci’ biometric seperti sidik jari atau retina mata untuk membuka data di dalam kartu sakti ini.

Konsep ini muluk-muluk? Tidak! Uni Emirat Arab menggunakan konsep ini untuk Emirates ID mereka bahkan kartu yang sama bisa digunakan untuk perbankan dan transaksi keuangan.

Kenapa Indonesia Tidak Punya One-for-All Card? 2

Sayangnya, biaya penerapannya sudah pasti besar dan jika keamanannya tidak dijaga dengan serius, maka akan sangat berbahaya jika sampai ada kebocoran data.

Konsep Kedua Kartu Sakti Indonesia

Konsep pertama adalah sebuah contoh ideal, untuk konsep kedua mungkin lebih sedikit realistis.

Konsep kedua masih bisa menggunakan e-KTP dan semua kartu/surat yang ada saat ini, tapi memerlukan sebuah data terpadu.

Jadi, kemana-kemana, kita hanya cukup membawa e-KTP saja. Nah, data dari e-KTP inilah yang ada dipadukan dengan data dari kartu/surat lain seperti SIM, NPWP dan KIS.

Daripada repot-repot membawa banyak kartu, kita cukup membawa satu saja. Jika pada suatu ketika, ada razia lalu lintas dan polisi bertanya,

“boleh lihat surat-suratnya?”

Kenapa Indonesia Tidak Punya One-for-All Card? 3

Kita cukup menyerahkan satu kartu dan polisi bisa melihat hampir semua data yang diperlukan seperti tanggal berlaku SIM, STNK dan sebagainya.

Sebaliknya, kalau kita sedang melakukan check-up rutin, dokter cukup melihat data dari e-KTP untuk melihat riwayat kesehatan kita dan hal tersebut mungkin bisa membantu diagnosa dokter.

Kartu yang sama juga harusnya mungkin saja digunakan untuk bertransaksi keuangan, toh identitas di dalamnya sama dan datanya bisa dipadukan.

Konsep Ketiga Kartu Sakti Indonesia

Konsep ketiga ini sebenarnya menggunakan dua kartu yang secara sederhana dibagi menjadi “Kartu Identitas” dan “Kartu Perbankan”, kenapa dipisahkan? Agar bisa mengkonfirmasi satu sama lain.

Kartu Identitas merupakan perpaduan antara e-KTP, passport, SIM dan kartu lain yang memerlukan identitas dan data pribadi.

Jika memungkinkan, saat kita menjadi anggota dari suatu organisasi atau perusahaan, list data di dalamnya bisa ditambah atau dikurangi.

Kartu Perbankan merupakan perpaduan antara debit card, credit card, NPWP dan sebagainya yang berhubungan dengan transaksi keuangan.

Untuk bisa melihat data dari kartu ini, harus dikonfirmasi terlebih dahulu dengan Kartu Identitas yang sama atau kalau mau lebih aman, mengguakan biometric.

Kartu Perbankan bisa digunakan untuk semua transaksi keuangan hingga membayar transportasi umum. Gampang kan? Jadi, dua kartu untuk segala kegiatan.


Diatas kertas, One-for-All Card itu memang sederhana, satu kartu yang cukup canggih untuk bisa mencatat segala data pribadi dan catatan keuangan serta kesehatan.

Masalah umumnya adalah pada segi keamanannya. Seperti, bagaimana kalau kartunya hilang? Bagaimana kalau identitasnya dicuri? Bagaimana kalau datanya bocor?

Tapi, jika konsep-konsep ‘gila’ seperti ini tidak muncul, di tahun 2050, kita bisa saja membawa 10 kartu berbeda untuk banyak keperluan.

Bagi saya pribadi, konsep One-for-All Card ini jauh lebih masuk akal daripada tanda pengenal biometrics yang ditanam dibawah kulit misalnya, karena biayanya sudah pasti jauh lebih mahal.

Bahan Baca Tambahan:

2 Comments

  1. Hastira March 12, 2019
    • Ari Kurniawan March 18, 2019

Leave a Reply