Kenapa Situs Seperti LintasMe Tidak Ada Lagi

Bagi yang sudah mulai menulis blog cukup lama, mungkin sekitar tahun 2010-2012 lalu ada setidaknya dua situs yang sangat bisa diandalkan menjadi sumber pengunjung yaitu LintasBerita dan InfoGue. Kedua situs ini memiliki konsep social aggregator, dimana saat pengunjung membaca konten di kedua situs tersebut, maka akan ada tombol “read more” atau “baca selengkapnya” yang mengarah ke sumber konten itu berasal.

Sekitar tahun 2011, LintasBerita mengubah namanya menjadi Lintas.me dengan berbagai penambahan fitur baru. Sementara kalau tidak salah ingat, InfoGue saat itu mulai bermasalah karena kebanyakan pengguna mengunggah konten negatif ke situs tersebut. Akhir tahun 2015 lalu, Lintas.me melebur diri dengan BeriTagar menjadi beritagar.id dan sepenuhnya menjadi situs berita.

Kini, tidak ada situs berkonsep social aggregator yang benar-benar merajai internet indonesia (atau mungkin saya yang tidak tau?). Ada situs keepo.me yang lebih mengusung konsep user-generated content, tapi saya tidak melihat situs ini sebagai sumber traffic yang besar. Forum-forum seperti Kaskus pun sebenarnya punya potensi untuk menjadi sumber traffic, walau saya sendiri belum mencobanya.

Saya jadi melakukan beberapa pengamatan kenapa situs-situs semacam LintasBerita dan InfoGue tidak sejaya dahulu, dan berikut ini hasilnya :

Konten yang lebih dekat dengan pembaca

anak informatika

Tren saat ini bukanlah berita-berita unik dan aneh seperti beberapa tahun lalu, karena rata-rata konten seperti itu sudah ‘basi’ karena sangat banyak blog yang memiliki (mengcopy-paste) konten yang sama. Tren yang ada saat ini berupa konten yang sangat berhubungan dengan kehidupan pribadi pembacanya.

Judul-judul seperti “7 Alasan Memacari Mahasiswa Kedokteran” dan “Alasan Kenapa Kamu Harus Travelling Selagi Muda” merupakan tren saat ini. Dan, situs social aggregator bukanlah tempat yang tepat untuk membagikannya, melainkan di social media, dimana pembaca bisa berperan aktif dalam menyebarkan konten tersebut.

Aktifnya Citizen Journalism

Yap, citizen journalism sedang menjadi sebuah tren baru saat ini. Mulai dari portal berita online hingga saluran TV memiliki segmen citizen journalism. Orang-orang mulai banyak yang senang menjadi distributor berita ketimbang hanya menjadi konsumen berita saja.

Aktifnya citizen journalism ini secara tidak langsung mempengaruhi para blogger yang hanya sekedar ‘pakar internet’, dimana kebanyakan kontennya hanya berasal dari internet. Berbeda dengan citizen journalism yang kontennya sangat update dan unik.

Blogger sekarang lebih berbasis komunitas

Ibaratnya perjuangan bangsa Indonesia, dulu para blogger kebanyakan berdiri sendiri-sendiri dan menciptakan jaringan yang sangat kecil. Kini, kebanyakan blogger bergabung dengan sebuah komunitas atau membentuk sebuah komunitas dimana konten yang mereka hasilkan sudah tersebar melalui jaringan komunitas tersebut. Jadi, buat apa situs social aggregator jika ada jaringan yang lebih tertarget?

Komunitas juga biasanya menuntut blogger menghasilkan konten yang berkualitas lebih baik, yang pada akhirnya mendatangkan traffic secara alami dari mesin pencari.

Faktor lain

Ada beberapa faktor lain yang menurut saya mempengaruhi surutnya kejayaan situs social aggregator di Indonesia. Misal, sulitnya melakukan monetize pada situs berkonsep tersebut. Karena, jika hanya mengandalkan jumlah traffic saja, tidak akan menjamin pendapatan yang bisa didapat.

Selain itu, mengurus situs social aggregator juga terbilang sulit. Jika membiarkan konten yang tayang tanpa filter manual, maka situs bisa dipenuhi konten negatif. Sebaliknya, jika diberikan filter manual oleh manusia, maka akan memakan tenaga, biaya dan waktu yang sangat banyak.

Menurut saya, alasan-alasan diatas hanyalah segelintir dari permasalahan yang sebenarnya. Tapi, saya percaya bahwa internet di Indonesia pelan-pelan sedang berubah ke arah yang lebih positif. Apalagi melihat banyaknya pembuat konten (content creator) berupa video, gambar atau tulisan yang sangat kreatif dan aktif saat ini.