Kesan Bermain Firewatch

Firewatch merupakan sebuah game first person dengan genre mystery, walau saya menulis ‘misteri’, tidak ada hal-hal mistis dalam game ini walaupun suasana dan latar yang dihadirkan mampu membuat saya berpikir demikian pada awalnya. (Ups.. spoiler).

Game ini mulai dibuat pada Maret 2014 lalu dan awalnya dijadwalkan akan hadir pada 2015, namun pada akhirnya harus tertunda hingga 2016. Ada alasan sederhana kenapa game ini mengadaptasi gaya walkie-talkie dari BioShock serta gaya dialog dari The Walking Dead karya Telltale yaitu meminimalkan jumlah animasi dan juga lip-sync, dimana keduanya membutuhkan banyak dana dan sumber daya, dimana hal itu tidak memungkinkan untuk Campo Santo selaku developer.

Campo Santo sendiri merupakan developer yang terbilang ‘baru’ dan Firewatch merupakan game perdana mereka. Tapi, nama-nama dibaliknya bukanlah orang sembarangan, misalnya Jake Rodkin dan Sean Vanaman yang pernah terlibat dalam game The Walking Dead dari Telltale serta Olly Moss yang pernah bekerja dengan Lucasfilm, Sony hingga Studio Ghibli.

Oke, cukup segitu tentang Campo Santo, sekarang saya akan membahas game ini dan pengalaman saya.

Dalam game ini, kita berperan sebagai Henry, seorang ‘om-om’ yang memutuskan menjadi sukarelawan di taman nasional Shoshone, negara bagian Wyoming selama musim panas tahun 1989. Di taman nasional itu, dia tinggal di sebuah tower yang jauh dari mana-mana.

Satu-satunya orang yang dia ajak berkomunikasi adalah Delilah, supervisor-nya yang berada di tower lain berjarak sekitar 10 km darinya. Tugas Henry sebenarnya sederhana, yaitu mengawasi api untuk mencegah kebakaran hutan, karena pada masa itu teknologi pemadaman hutan tidak secanggih sekarang.

Sayangnya, tugas Henry tidak semudah yang dia inginkan dimana dia hanya perlu duduk di towernya selama musim panas. Terkadang, dia harus melakukan patroli jika melihat asap yang mungkin berasal dari orang-orang yang sedang berkemah atau merupakan tanda awal kebakaran hutan. Disinilah keseruan (permainan) benar-benar dimulai.

Pada awalnya, tugas Henry sederhana, mencari sumber asap, mematikannya serta memperingatkan orang-orang yang melanggar aturan di taman nasional. Seiring berjalannya waktu, terjadi hal-hal aneh dan hal itu juga melibatkan Delilah.

Diakhir game, hal-hal aneh itu mulai terasa makin jelas dan logis pada akhir musim panas. Walaupun saya menulis demikian, saya baru memainkan game ini sekali dan sangat yakin jika ada ‘hal’ yang tertinggal walaupun tidak akan mengubah ending game.

Secara keseluruhan, Firewatch merupakan sebuah game ‘singkat’ yang sangat menyenangkan. Kita bisa berperan sebagai seorang sukarelawan pengamat api yang bekerja di sebuah taman nasional, jauh dari orang-orang. Merasakan kesendirian dan ketenangan yang bisa dihadirkan jika hidup sendiri dan hanya bicara pada orang lain melalui sebuah walkie-talkie.

Secara kualitas gambar, jalan cerita, dan voice acting-nya saya harus mengacungi jempol untuk game ini. Jika Firewatch seandainya dibuat game episodik layaknya karya Telltale, sepertinya akan lebih menyenangkan. Sayangnya, Campo Santo bukanlah developer sebesar Telltale.

Hal menyenangkan lainnya tidak adanya petunjuk arah yang jelas, sehingga kita harus bisa membaca peta dan menggunakan kompas jika ingin sampai ke tempat tujuan yang dimaksud. Pada masa itu belum ada GPS seperti sekarang.

Sayangnya, ada saat dimana game ini agak ‘nyebelin’. Misalnya ketika saya lupa bahwa game ini tidak benar-benar ‘open-world’, dalam artian, walau secara grafis memungkinkan kita melewati tempat tersebut, tapi ternyata tidak bisa karena terhalang program. Atau terasa repetitif karena tidak ada variasi jalur menuju tempat tujuan.

Related Incoming Search Term: