Menara 3 Raja : Kepulauan Ara

Kepulauan Ara adalah gugusan kepulauan yang berada di dekat benua selatan. Kepulauan ini dikuasai oleh 3 kerajaan utama yang membentuk sebuah perjanjian damai dan aliansi. Di bagian timur, dikuasai oleh Kerajaan Pua yang orang-orangnya berkulit biru. Wilayah mereka adalah yang paling luas, memiliki hutan, tambang serta hewan-hewan berukuran raksasa di pulau utamanya.

Wilayah barat dimiliki oleh Kerajaan Nang, mereka memiliki ciri khas berupa penutup kepala berbentuk lancip yang dipakai oleh pria maupun wanita. Penutup kepala untuk pria memiliki satu ujung, sementara untuk wanita memiliki dua ujung. Wilayah mereka memang tidak sebesar Kerajaan Pua, tapi mereka dikenal sebagai yang paling ahli dalam mengolah berbagai sumber daya yang ada di Kepulauan Ara.

Kerajaan yang memiliki wilayah paling kecil adalah Kerajaan Hali, walau wilayahnya kecil, namun mereka dianggap sebagai kerajaan utama di kepulauan ini. Satu-satunya kerajaan yang mau diajak bekerjasama dengan benua selatan adalah Hali, karena keturunan Hali dianggap sebagai ras utama oleh orang-orang di benua selatan.

Hali memiliki seorang putra mahkota bernama Kai, sebagai penerus tahta, dia diwajibkan mengenal setiap wilayah di Kepulauan Ara serta memiliki hubungan yang baik dengan benua selatan. Kai saat ini sedang melakukan pelatihan terakhirnya demi mendapat pengakuan sebagai “putra mahkota Hali” dari penasihat kerajaan dengan cara memenangkan debat dengan sang penasihat.

“Aku bingung, kenapa 3 kerajaan di kepulauan Ara tidak membentuk satu kerajaan saja, Paman?” tanya sang putra mahkota kepada pamannya, saudara tertua dari raja Hali yang tidak mau menduduki tahta dan akhirnya ditunjuk sebagai penasihat kerajaan.

Sambil mengelus jenggot panjangnya yang sudah mulai memutih, sang paman balik bertanya.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya demikian?”

“Kepulauan Ara tidak sekaya benua selatan, tidak seluas benua utara dan tidak punya teknologi semaju kepulauan barat. Aku berpikir, jika kita bersatu, mungkin kita bisa menjadi lebih baik.”

“Tapi, bukankah saat ini kita sudah bersatu membentuk sebuah aliansi dan perjanjian anti-perang?”

“Memang. Tapi, semua orang tau bahwa ketiga kerajaan saling memperlambat kerajaan lain agar tidak ada kerajaan yang paling dominan diantara ketiganya.”

Masih mengelus-elus jenggotnya, sang paman mengkerutkan dahinya seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Bukankah Hali merupakan kerajaan utama di Kepulauan Ara? Bukankah itu berarti kita yang paling dominan?”

“Apakah paman buta? Hali tidak punya wilayah dan sumber daya seperti Pua dan kita tidak punya ahli-ahli seperti Inang. Tanpa kedua kerajaan itu, kita tidak bisa berdagang apapun dengan benua selatan.”

Penasihat kerajaan bukanlah orang sembarangan, selain pernah bergelar calon raja, dia sudah pernah menghadapi berbagai tipe orang dalam perdebatan panjang. Dia pun mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya.

“Menurutmu, apa yang bisa kita capai dengan menjadi satu kerajaan?”

“Kita bisa mengirim orang-orang Inang untuk bekerja dipertambangan Pua untuk mendapat hasil tambang yang lebih baik. Kita bisa membawa orang-orang Pua ke Hali untuk membantu dan menjaga perdagangan dengan benua selatan dan kita bisa mengirim orang-orang Hali ke Inang untuk mempelajari teknologi mereka sehingga kita punya lebih banyak orang cerdas.”

Jawaban dari Kai sebenarnya sudah pernah terpikirkan oleh sang penasihat, tapi dia tidak menyangka bahwa sang putra mahkota bisa memikirkan hal yang sedemikian besar di usianya yang masih cukup muda. Dia pun dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar sebagai “putra mahkota Hali”.

Tugas berikutnya dri sang putra mahkota adalah pergi ke benua selatan dan berusaha mendapat pengakuan dari benua selatan sebagai “calon raja Hali”.