OnePlus One Dimata Saya (Setelah 3 Hari Pemakaian)

Pada awalnya, saya ingin menjajal smartphone dari salah satu perusahaan rintisan (startup) asal Finlandia, Jolla, tapi karena kayaknya bakal sangat sulit untuk mendatangkan produk mereka ke rumah, maka saya mencari alternatif lain. Pilihan sempat tertunju pada 3 besar yaitu ASUS Zenfone 2, Himax Polymer X dan OnePlus One.

ASUS Zenfone 2 masuk incaran karena kabar sebagai smartphone pertama yang akan memakai RAM 4 GB. Selain itu, nama besar ASUS menjadi salah satu nilai tambah. Nah, untuk Himax, entah kenapa saya cukup suka dengan desain dan terutama harganya yang cukup bersahabat.

Tapi, pilihan akhirnya jatuh pada OnePlus One 64GB Sandstone. Penjualan One di Indonesia secara resmi hanya melalui Lazada, memang ada beberapa orang yang menjualnya di luar Lazada, tapi itupun dengan harga yang lebih mahal.

Singkat cerita, sekitar seminggu setelah membeli, barangnya sampai di rumah. Waktu pengiriman yang cukup lama ini karena alamat saya yang mirip dengan alamat lain yang lokasinya di Kuta, seharusnya bisa 2 hari lebih cepat.

Bongkar-bongkar (unboxing) dimulai, karena One tidak dilengkapi oleh earphone, maka saya harus membelinya secara terpisah. Biar gak ribet, saya beli sekalian dari Lazada. Ada 2 jenis earphone resmi dari OnePlus, yaitu yang berwarna putih dengan harga sekitar Rp.180.000 atau earphone JBL E1+ dengan harga sekitar Rp.535.000

Paket OnePlus One ada 2 kotak yaitu kotak untuk handset dan kabel datanya serta satu kotak kecil lagi yang berisi adaptor. Dari video-video yang saya saksikan di Youtube, adaptor yang didapat tentunya sesuai untuk masing-masing wilayah.

Oke, apa pendapat saya setelah 3 hari pemakaian sampai hari ini?

1. Ukurannya lumayan besar.

Banyak orang pasti setuju kalau One lebih tepat disebut sebagai phablet. Selama 3 tahun terakhir, saya memakai Samsung Ace 2 yang ukurannya sekitar 3.8 inchi saja, lalu sekarang memakai OnePlus One yang berukuran 5.5 inchi, diawal-awal, saya harus sedikit beradaptasi dengan layar besar ini.

2. RAM 3 GB itu ternyata besar.

Dahulu, saya mengira bahwa dengan RAM 4 GB, maka semua game dan aplikasi akan berjalan lancar. Tapi, ternyata saya salah, dengan RAM 3 GB pun, OnePlus One sudah sangat lancar selama 3 hari pemakaian ini. Walaupun dibalik layar banyak aplikasi yang masih berjalan, saya masih bisa memainkan game dengan lancar.

3. Kapasitas Baterai kayaknya kurang.

Dengan spesifikasi One yang cukup mumpuni untuk bermain game-game “hardcore”, saya pribadi sebagai penyuka game-game mobile sangat tergoda untuk berlama-lama bermain game. Tapi, ya itu, baterainya tidak mendukung keinginan saya, kapasitasnya “hanya” 3100 mAh. Namun, jika kapasitas baterai diperbesar, sudah pasti ukurannya akan makin jumbo, jadi syukuri saja.

4. CM12 masih banyak bug.

Secara resmi, One memiliki 2 OS yang bisa dipakai, pertama adalah CyanogenMod dan OxygenOS yang baru beberapa waktu lalu diluncurkan. Kalian bisa membaca perbandingan kedua OS ini di salah satu artikel Tech in Asia : Review Oxygen vs Cyanogen OnePlus One.

Bicara soal Cyanogen, sekarang One sudah bisa diupgrade hingga CM12, sayangnya, OS ini sendiri masih punya beberapa bug. Tapi, karena saya suka tampilannya, tidak apalah. Nanti, juga pasti ada update untuk memperbaikinya.

Kesimpulan

Saya pribadi bersyukur tidak jadi memilih Jolla, Zenfone maupun Polymer X, karena One telah berhasil memenuhi semua keinginan saya dari sebuah smartphone (setidaknya untuk saat ini). Potensi yang dimiliki sangat besar, sayangnya masih banyak yang perlu dikembangkan dan diperbaiki. Seperti berbagai bug dalam CM12.

Tapi, selama OnePlus bisa mendengarkan masukan para pengguna awalnya, saya yakin bahwa produk-produk OnePlus di masa mendatang benar-benar akan menjadi “flagship killer”, seperti tagline dari OnePlus One.