Pelajaran Hidup dari Petugas Parkir Pantai Kuta

Jarak Pantai Kuta dengan tempat tinggal saya tidak lebih dari 7 km, tapi saya termasuk jarang pergi ke ‘destinasi wisata dunia’ tersebut. Alasan utamanya karena jalan menuju kesana sering (bahkan selalu) macet, ya namanya juga tempat wisata. Alasan lainnya karena tidak ada hal khusus yang mengharuskan saya datang sering-sering kesana.

Nah, beberapa waktu lalu, karena ada pekerjaan, saya mau tidak mau jadi sering ke Kuta dan tepatnya lagi di daerah sekitar Pantai Kuta yang terkenal itu. Saya jadi sering ‘nongkrong’ di beberapa tempat disana dan ketahuilah saudara-saudara, hal tersebut membuat dompet saya serasa menangis.

Di suatu pagi di awal Oktober 2018, saya harus datang ke Kuta di waktu yang cukup pagi, sekitar jam 10 pagi. Enaknya datang pagi ke Kuta, saya bisa memilih tempat parkir yang dekat dari tempat yang ingin saya kunjungi. Apalagi, saya memakai sepeda motor, jadi mencari parkir jadi sesuatu yang lebih mudah lagi.

Saya hanya berada disana sekitar 30 menit kemudian harus kembali lagi ke Denpasar. Saat ingin pulang, saya sedang membuka jok motor untuk mengambil helm dan memakai earphone untuk mendengarkan episode baru dari salah satu podcast kesukaan saya. Saya memang agak lama, jadi petugas parkir yang awalnya ingin membantu saya jadi membantu seorang turis asing lain yang kebetulan baru datang.

Sambil sibuk sendiri memasang earphone dan helm, saya sekilas melihat interaksi antar turis asing dan petugas parkir di depan saya. Turis asing ini terlihat buru-buru (mungkin ada janji) dan bergegas pergi. Nah, tiba-tiba bapak petugas parkir ini memanggil turis tersebut, saya kira ada apa, ternyata ponsel turis asing ini tertinggal di bagian depan motornya.

Turis asing ini tampak senang karena si bapak mengingatkannya, bapak petugas parkir ini hanya mengingatkan bahwa turis asing ini nantinya harus membayar parkir. Dari hasil ‘nguping’, saya mendengar turis asing ini hanya akan sarapan sebentar dan segera kembali.

Kemudian, bapak petugas parkir ini mendatangi saya, membantu saya dengan menggeser motor yang parkir sangat mepet dengan motor saya. Iseng dong, saya nyeletuk:

*Percakapan saya dengan bapak petugas parkir ini dalam Bahasa Bali, tapi saya terjemahkan saja supaya semua yang membaca mengerti.

“Untung bapak baik, pak. Kalau enggak kan, bapak tinggal ambil saja ponsel turisnya.”

Udah sering banget bapak ngingetin turis-turis yang HP-nya ketinggalan di motor kayak gitu, dik.”

“Syukur bapak orangnya baik, pak”

“Kita ini sebagai orang Bali harus percaya dengan yang adanya karma, dik. Kita mungkin hanya melakukan satu perbuatan buruk, tapi karma buruk yang datang pada kita, bisa sampai 10 yang datang. Kalau kita bekerja, carilah dan lakukan pekerjaan yang baik, nanti pasti hasilnya baik.”

Dari percakapan singkat itu, saya jadi sadar bahwa masyarakat saya di Bali sebenarnya merupakan masyarakat yang baik-baik orangnya. Percaya bahwa semesta ini terus bekerja dan satu perbuatan buruk belum tentu akan dibalas dengan satu karma buruk begitu pula sebaliknya, satu perbuatan baik, sekecil apapun, bisa jadi tidak dibalas dengan satu rejeki saja.

Jadi, teruslah berbuat baik…

*Sayangnya, saya tidak sempat mengambil foto dari bapak petugas parkir tersebut karena harus buru-buru dan baru terpikir untuk menulis tentang ini di perjalanan menuju Denpasar.