Penutupan Blogdetik

20 Januari 2018 menjadi kopdar resmi terakhir dari komunitas Blogdetik. Berlangsung di Jakarta dan diberinama "Kopdar Pamitan", Blogdetik mengumumkan mereka akan menutup layanannya dan menyarankan para blogger yang memiliki tulisan di platform tersebut untuk segera membackup tulisan mereka.

Walau sejak awal saya menulis blog di platform Blogspot dan baru pindah ke WordPress Self-Host dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, saya pernah mencicipi menulis di Blogdetik pada 2013.

Pada tahun tersebut, saya mengikuti tantangan #30HariNonStopNgeblog yang diadakan komunitas Blogger Blogdetik dan menyelesaikannya. Menulis di Blogdetik pada masa itu rasanya sangat mirip dengan menulis di WordPress.com karena pada dasarnya menggunakan engine yang sama. Hal yang paling membedakan mungkin hanya dari segi komunitas dan hal-hal minor lainnya.

Lalu, sebenarnya ada apa dengan Blogdetik? Kenapa Blogdetik tutup?

Untuk alasan mengapa Blogdetik menutup layanan mereka, mungkin hanya bisa dijawab oleh pihak mereka. Tapi, saya punya beberapa spekulasi yang mungkin saja benar dan sangat mungkin bisa salah.

CMS dan Nama Baru

Seperti yang sudah saya tulis diawal, Blogdetik sebenarnya "hanyalah" WordPress engine yang dimodifikasi dengan cita rasa lokal. WordPress sampai saat ini masih merupakan Content Management System (CMS) yang paling populer di dunia, bahkan akan merilis versi 5.0 tahun 2018 ini. Tapi, mengingat Blogdetik sudah eksis selama kurang lebih 10 tahun, memang tidak ada yang salah jika pada akhirnya platform blogging lokal ini sudah selesai mengembangkan CMS sendiri.

Alasan menggunakan CMS sendiri bisa bermacam-macam, mulai dari faktor keamanan, fitur, tampilan dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menampik bahwa keamanan Blogdetik saat ini cenderung lemah dan banyak digunakan sebagai media untuk spam dan panen backlink.

Mungkin, dengan CMS baru ini, diharapkan akan mengembalikan fungsi platformnya sebagai tempat menulis, bertukar pikiran dan berkomunitas. Dan dengan adanya CMS baru, tentu akan terjadi perubahan yang sangat radikal pada platform ini, sehingga diperlukan nama baru. Maka, nama Blogdetik pun dipensiunkan.

Berubah Haluan Menjadi Blog Host

Kepopuleran Blog Host seperti Medium memang tidak boleh dianggap remeh. Dibanding menyediakan full-scale blogging platform seperti Blogger dan WordPress, Medium menempatkan diri sebagai sebuah wadah hanya untuk menulis, berbagi ide/gagasan serta membaca.

Penulis tidak perlu direpotkan dengan mengatur tampilan, promosi apalagi koding. Sementara, pembaca disuguhkan konten yang berkualitas dengan tampilan yang sudah dioptimalkan dari sumber yang sangat beragam.

Di kancah lokal, Kompasiana yang lebih sering menyebut diri sebagai "blog sosial" juga sebenarnya merupakan sebuah platform blog host yang cukup populer. Penulisnya berasal dari berbagai kalangan dari jurnalis, profesional hingga ibu rumah tangga.

Keuntungan menjadi platform yang menyediakan layanan Blog Host dibanding Blogging Platform adalah perusahaan bisa mengontrol isi dan kualitas konten yang terbit di layanannya serta kemungkinan monetize (mendapat profit) yang lebih baik.

Saya kurang tahu bagaimana Kompasiana menghasilkan keuntungan, tapi Medium menghasilkan keuntungan dari sistem berlangganan per bulan untuk para pembaca dimana uangnya dibagikan antara perusahaan dan penulis, mirip seperti yang dilakukan Spotify dan industri musik. Keuntungan juga didapatkan Medium dari native advertising.

Penutup

Saya adalah orang yang pesimis bahwa Blogdetik akan sepenuhnya ditutup. Di level nasional, Indonesia masih perlu platform semacam Medium di Amerika Serikat yang menjadi tempat berbagai kalangan mulai dari Bill Gates, Bono (vokalis U2) hingga para ibu rumah tangga untuk berbagai ide dan gagasan mereka secara lebih baik dan terbuka.

Mungkin bukan lagi bernama Blogdetik, tapi semangat sebagai sebuah platform lokal yang bukan hanya jadi tempat berbagi ide tapi juga berkomunitas masih tetap diperlukan. Apalagi pada masa dimana informasi bohong sangat marak seperti sekarang ini.

Related Incoming Search Term: