Pindah Sepenuhnya ke Linux

Hari ini, hampir 90% komputer di seluruh dunia menjalankan sistem operasi Windows dari Microsoft mulai dari komputer yang ada di rumah hingga komputer yang digunakan di perkantoran. Tidak salah juga jika pada akhirnya, sebagian besar developer aplikasi dan game hanya berfokus mengembangkan produk mereka untuk berjalan di sistem operasi ini.

Padahal, ada pilihan sistem operasi lain yang bisa digunakan selain Windows. Misalnya macOS yang tersedia eksklusif untuk produk-produk Apple dan ‘ratusan’ Linux Distribution (distro) yang umumnya tersedia secara gratis.

Saya pribadi sebenarnya sudah cukup lama ingin pindah menggunakan Linux karena setidaknya dua alasan utama.

Alasan Ingin Pindah ke Linux

Saya bosan mengurus virus komputer

Sejak pertama kali berkenalan dengan komputer saat SD hingga saat ini, sudah sulit menghitung berapa kali komputer saya terjangkit virus. Mulai dari virus sederhana seperti shortcut dan hidden files hingga yang lebih kompleks seperti adware hingga yang merusak registry.

Saya sudah pernah menggunakan antivirus lokal seperti SMADAV hingga antivirus berbayar seperti Kaspersky, namun masih tetap saja ada celah yang bisa ditembus dan menjalankan antivirus cenderung membuat performa komputer saya lebih lambat.

Dengan menggunakan sistem operasi berbasis Linux, setidaknya jumlah virus komputer yang harus saya khawatirkan tidak sebanyak yang ada di Windows.

Linux saja sudah cukup

Saya menggunakan komputer umumnya hanya untuk ‘bekerja’ dan mendapatkan hiburan dalam bentuk nonton video (YouTube), mendengarkan musik atau bermain game. Saya tidak menggunakan komputer untuk menjalankan aplikasi yang hanya tersedia di Windows, karena semua software yang saya sering gunakan memiliki alternatifnya di Linux. Intinya, komputer yang menjalankan Linux saja sudah cukup bagi saya.

Setelah mencoba live Linux (Ubuntu 18.04 LTS) melalui USB, performanya sudah cukup baik bagi saya dan tampilannya pun makin cantik dari pendahulunya.

Tapi, sebelum sepenuhnya pindah ke Linux, saya sebenarnya punya banyak pertimbangan dan perhitungan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pindah sepenuhnya ke Linux setelah selesai skripsi saja karena selama mengerjakan skripsi, saya lebih baik menggunakan Windows dulu.

Pertimbangan Sebelum Pindah ke Linux

Kompabilitas

Untuk software-software umum seperti untuk Office, editor gambar dan editor video sebenarnya sudah ada banyak alternatifnya di Linux. Namun, saya khawatir dengan beberapa software yang nantinya sangat saya perlukan selama mengerjakan skripsi namun tidak ada alternatifnya di Linux. Karena itulah, saya menunggu hingga hampir semua urusan dengan studi selesai sebelum berpindah sepenuhnya.

Tidak Bisa Main Game

Dalam beberapa tahun terakhir, saya sudah menghabiskan cukup banyak uang dan waktu untuk bermain video game. Sebuah ‘investasi’ yang sangat tidak mungkin untuk ditarik kembali. Dan hal ini pula yang menyebabkan saya ragu untuk menggunakan Linux, karena banyak dari game tersebut tidak bisa berjalan di sistem operasi Linux.

Namun, melihat ekosistem saat ini dimana banyak video game sudah mulai memungkinkan untuk bermain secara cross-play antara PC dan konsol, saya rasa hal ini akan menjadi tren yang baik ke depannya. Daripada memaksakan komputer ‘tua’ saya untuk bermain game-game baru secara tidak maksimal, lebih baik saya bermain di konsol saja.

Kesimpulan

Postingan ini ditulis dari komputer saya yang menjalankan Ubuntu 18.04 LTS (dan diedit lagi dari komputer yang menjalankan Elementary OS 0.4) dan saya sama sekali tidak kecewa dengan performa maupun tampilannya. Apakah saya akan pindah lagi ke Windows jika Microsoft memberikan ‘kejutan tak terduga’ di masa mendatang? Mungkin. Tapi, sampai saat itu benar-benar tiba, saya akan berada di Linux, sebuah ‘habitat’ yang lebih cocok dengan kebutuhan saya.