Seberapa ‘Mengerikan’ Bisnis Berita Hoax

Percaya atau tidak, berita hoax adalah sebuah bisnis yang sangat gurih di internet. Belakangan, bisnis ini semakin membesar karena mudahnya orang-orang terpancing akan judul-judul yang sangat provokatif dan menjebak atau istilahnya ‘clickbait‘ dan kecenderungan banyak orang hanya membaca judul tanpa mau membaca isi, atau mereka membaca isinya tapi tidak mau melakukan penelusuran tentang kebenarannya.

Jauh  sebelum merebaknya situs berita hoax seperti sekarang, tahun 2013 lalu, WeeklyWorldNews.com pernah memberitakan bahwa Mark Zuckerberg akan menutup Facebook pada 15 Mei 2013. Dan, apa yang terjadi? Banyak orang yang percaya dengan berita tersebut, bahkan tidak sedikit orang dan situs berita di Indonesia yang ikut-ikutan menyebarkannya.

Untuk yang belum tau, WeeklyWorldNews.com atau biasa disingkat WWN merupakan salah satu situs yang memang mengkhususnya diri pada berita-berita bohong. Tujuannya? Sekedar sebagai hiburan. Beberapa artikel ‘bohong’ yang mereka buat kadang menjadi viral untuk tujuan tertentu seperti promosi sebuah produk.

Pada masa Pemilu Amerika Serikat, sejak awal tahun ini, situs-situs berita hoax, terutama tentang Donald Trump bermunculan seperti jamur di musim hujan. Asal situs-situs ini bukanlah dari Amerika Serikat, justru dari sebuah negara yang jauh di seberang Samudra Pasifik dari Amerika Serikat yaitu Makedonia dan menurut investigasi, juga ada yang berasal dari Rusia.

Jika diurutkan, kira-kira begini alurnya :

  • Media-media di Amerika Serikat, sangat sedikit yang mempublikasikan berita tentang ‘sisi baik’ dari Donald Trump, sementara para pendukungnya menginginkan berita-berita macam tersebut untuk disebarkan.
  • Di seberang lautan, ada anak-anak remaja (berusia 16-19 tahun) yang membaca kehausan para pendukung Trump akan ‘berita baik’ tersebut sebagai sebuah peluang bisnis.
  • Maka muncullah situs-situs seperti TrumpVision, USConservativeToday, DonaldTrumpNews dan sebagainya. Tujuan dibuatnya situs-situs ini hanya satu, uang.
  • Uang didapat melalui Google Adsense yang membayar pemilik situs berdasarkan jumlah klik iklan dan angka kunjungan. Jadi, ketika mereka menulis ‘berita baik’ tentang Trump dan pada pendukungnya menyebarkan berita tersebut tanpa peduli akan kebenarannya, bukan hal aneh jika remaja asal Makedonia bisa mendapatkan 2 Miliar Rupiah dari situs berita hoax seputar Pemilu AS.

Dari sisi bisnis, situs berita hoax memang punya pangsa pasarnya sendiri. Entah mereka yang sekedar menyukainya sebagai ‘lelucon’, atau mereka yang benar-benar tidak bisa membedakan mana berita benar dan mana yang bohong. Menurut data yang dirilis oleh BuzzFeed, secara keseluruhan berita-berita hoax yang di share di Facebook seputar Pemilu AS melebihi jumlah berita berdasarkan fakta. Bahkan, mendekati hari-hari pemilihan, jumlahnya semakin menggila. Tapi, data terbaru menunjukan pasca pemilihan, jumlah pengunjung ke situs-situs tersebut berkurang secara drastis.

Di Indonesia, salah satu situs berita ‘bohong’ yang memang memposisikan diri sebagai situs hiburan adalah POSRONDA.NET. Pada awal kemunculan situs ini, sekitar tahun 2014 lalu, sempat mengalami ‘konflik’ dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).

Pos Ronda menulis tentang Menkominfo saat itu, Tifatul Sembiring yang ingin ikut serta berperan aktif mencegah virus MERS masuk ke Indonesia dengan cara membatasi kuota internet. Sayangnya, artikel tersebut ditanggapi serius oleh Kemenkominfo yang menganggapnya sebagai pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE. Tapi, pada akhirnya Pos Ronda menurunkan artikelnya dan kasus tersebut sepertinya dianggap selesai.

Mendekati Pilkada Serentak 2017, situs-situs berita hoax di Indonesia juga semakin menjamur, terutama yang berhubungan dengan Pilkada DKI Jakarta. Menurut pengamatan pribadi saya, kebanyakan situs hoax seputar Pilkada DKI juga tidak berasal dari Jakarta, kebanyakan berasal dari daerah-daerah lain di Indonesia.

Kalau bicara tentang motif, sudah pasti ada motif uang di dalamnya. Tapi, karena belum ada investagi mendalam tentang hal ini, bisa saja terdapat motif-motif lain dari para pelakunya. Entah mau pro atau kontra terhadap sesuatu, berita bohong tetaplah berita bohong dan sudah semestinya tidak disebarluaskan.

Kesimpulan

Berdasarkan apa yang terjadi selama Pemilu Presiden AS, bisnis berita hoax memang sangat menggiurkan dan bisa menghasilkan uang yang sangat besar dalam waktu singkat. Dari sisi bisnis, modal yang dikeluarkan tidaklah banyak sementara penghasilan yang bisa diperoleh bisa mencapai 100x lipat.

Di Indonesia, menjadikan sebuah berita ‘bohong’ sebagai hiburan sepertinya masih sangat-sangat sulit, karena banyak masyarakat yang belum paham membedakan berita bohong atau tidak. Perlehatan besar seperti Pemilu memang menjadi saat yang tepat bagi para pebisnis berita hoax ini untuk panen.

Seperti yang pernah saya tulis dalam cerita berjudul Iblis 1000 Wajah :

Orang-orang di internet menelan mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan, mereka percaya apa yang mereka lihat dan mereka baca, seolah itu adalah kebenaran mutlak.

Mereka akan membela mati-matian orang yang tidak mereka kenal selama orang tersebut memiliki pandangan yang sama dengan mereka. Sebaliknya, mereka akan menentang mati-matian saudaranya sendiri jika memiliki pandangan yang berbeda.

Jadi, mulai sekarang, bijak-bijaklah sebelum menyebarkan sebuah informasi, istilahnya ‘Think before Posting‘ atau lebih tepatnya ‘Think before Sharing‘, secara sederhana panduan sebelum nge-share bisa dibaca di artikel Aturan Sederhana Sebelum Share Berita di Social Media. Jangan mau jadi bagian dari generasi yang mudah dibohongi dan mudah diprovokasi.

Related Incoming Search Term: