Steam Play dan Gaming on Linux

Update terbaru dari Steam Play memungkinkan lebih banyak game Windows untuk bisa dijalankan secara native di Linux. Tapi, hal ini bukan karena Steam, Valve atau Gabe Newell ‘mencintai’ pengguna Linux, tapi kemungkinan besar karena mereka belum menyerah dengan Steam Machine.

Steam Play adalah salah satu inovasi dari Valve yang dirilis pada 2010 lalu. Fitur ini memungkinkan gamer cukup membeli game sekali saja untuk bisa dimainkan di tiga OS berbeda yaitu Windows, Linux dan macOS. Bagi banyak gamer, terutama yang awalnya bermain di Windows kemudian memutuskan untuk pindah ke Linux atau macOS, hal ini tentu sangat menguntungkan. Mereka tidak harus membeli game lagi untuk versi OS yang berbeda.

Agustus 2018, disela-sela semarak ajang The International 2018, Valve merilis versi terbaru dari Steam Play. Versi baru ini secara teori akan memungkinkan hampir seluruh game Windows untuk bisa berjalan di Linux secara lebih lancar. KOK BISA???

Memperkenalkan Proton

Bagi pengguna Linux yang hobi bermain video game tapi gamenya tidak tersedia di Linux pasti sudah biasa bersentuhan dengan WINE. WINE merupakan singkatan dari Wine Is Not an Emulator dan merupakan compatibility layer yang memungkinkan game Windows berjalan di Linux maupun macOS. Sayangnya, menggunakan WINE biasanya memberikan pengaruh ke performa game itu sendiri.

Steam Play versi terbaru ini memperkenalkan Proton, sebuah versi modifikasi dari WINE yang punya tujuan sama yaitu menjadi compatibility layer. Bedanya? WINE selama ini hanya berbasis pada komunitasnya, sementara Proton memiliki nama besar Valve dibelakangnya. Walau dibuat oleh Valve, tapi Proton tetap bersifat open-source.

Steam Play terbaru ini tidak hanya berisikan Proton, tapi juga seperangkat fitur lainnya yang memungkinkan game-game Windows berjalan dengan baik di Linux. Sayangnya, ada dua jenis game yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa berjalan yaitu game yang menggunakan DRM yang sangat agresif dan fitur anti-cheat agresif yang sering bermasalah dengan compatibility layer.

Hidupnya Kembali Harapan “Gaming on Linux”

Selama ini, Windows merupakan platform utama bagi para developer sekaligus para gamer. Gamer lebih banyak menggunakan Windows karena OS ini memiliki pilihan game paling banyak, sebaliknya, developer mengutamakan Windows karena OS ini digunakan oleh lebih dari 90% pengguna komputer di seluruh dunia.

Kehadiran Steam Play versi terbaru dan Proton seakan menghidupkan kembali harapan “Gaming on Linux” yang selama ini terasa hanya jalan di tempat. Hanya beberapa hari setelah perilisan Steam Play versi terbaru, lebih dari 1000 game di Steam dinyatakan bisa berjalan di Linux, ada yang berjalan sangat lancar, namun tidak sedikit yang mengalami crash.

Proton memang masih pada tahap Beta, namun dengan kerjasama yang baik antara Valve, komunitas dan developer game, maka Steam Play akan mempermudah semua orang. Valve akan mendapat keuntungan dengan semakin banyaknya orang yang membeli game, karena bisa berjalan dengan baik di Windows maupun Linux. Komunitas (gamer) akan diuntungkan karena tidak selalu harus menggunakan OS tertentu untuk bermain game dan developer akan dimudahkan karena tidak perlu membuat versi khusus untuk Linux, cukup hanya dengan menggunakan Vulkan.

Gaming on Windows akan Mati?

100% Tidak! Microsoft akhir-akhir ini menunjukan ketertarikan yang sangat besar pada dunia open-source, alih-alih menganggap Linux dan open-source sebagai lawan, perusahaan yang didirikan Bill Gates ini belakangan justru merangkul komunitas open-source dengan mengakuisisi GitHub dan menjadi salah satu donatur terbesar untuk The Linux Foundation.

Steam Play hanya mempermudah penggunakan compatibility layer yang selama ini terkesan ‘ribet’ dan memerlukan banyak waktu. Namun, pada kenyataannya, game-game yang berjalan menggunakan layer tersebut tetaplah berbasis Windows.

Apalagi pernyataan bahwa game dengan DRM dan software anti-cheat yang agresif sangat kecil kemungkinannya bisa berjalan dengan Proton. Jadi, walau Steam Play dan Proton membuka jalan untuk semakin banyaknya game Windows yang bisa dijalankan di Linux, tapi dua hal ini tidak akan pernah membunuh Gaming on Windows.

Related Incoming Search Term: