VG Lore : Alpha

Alpha Lore, Chapter 1

Ruangan gelap dengan suasana yang menyeramkan, di tengah ruangan dengan sorot lampu terang terlihat tangki kaca pembedahan. Di dalamnya, seorang wanita pucat mengambang dengan posisi membungkuk, rambut di kepalanya yang telah dicukur mendongak. Pipa-pipa tersambung ke dada dan pelipisnya.

Luka parah di badannya telah dijahit dan dibalut dengan perban. Ada suara dengungan, bau asam dari bahan-bahan kimia dan suara bip bip bip berirama yang sesuai dengan detak jantungnya yang lemah.

Di sudut ruangan, di bawah cahaya lampu, seorang yang kerdil mengenakan kacamata pelindung tebal berdiri di sebuah bangku di sebelah robot tanpa kepala yang berbentuk wanita. Dia terlihat sedang bekerja dengan bor mesinnya.

Pintu terbuka, membuat dia terkejut. Orang kerdil itu mengumpat dan menggosok goresan pada armor(baju pelindung) putih robot itu, menghiraukan ratu yang buta itu dan dua prajurit di belakangnya. Sang ratu memegang tangki kaca. Gagak di bahunya menatap melalui kaca itu.

“Gadis-gadis tidak tahu terima kasih,” dia berkata. “Apa jadinya mereka tanpaku? Istri. Ibu. Nenek terlupakan yang menceritakan dongeng membosankan. Aku menyelamatkan mereka dari kehidupan biasa mereka. Aku menjadikan mereka ditakuti. Aku memberikan mereka kemampuan, sebuah tujuan, keluarga … dan bagaimana mereka membalasku?”

Dua prajurit Stormguard melihat satu sama lain, lalu kembali pada tangki itu. “Kami telah kembali-” yang satu berbicara, tetapi sang ratu menghiraukannya dan kembali berbicara.

“Pengkhianatan. Karena perasan cinta. Karena seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang membangun dan memimpin sebuah kerajaan. Tapi tidak denganmu, anakku.” Ratu menyandarkan pipinya di kaca. “Kau akan jauh lebih kuat dibanding prajurit manapun. Kau tidak akan pernah lelah. Kau tidak akan pernah membantah. Kau tidak akan pernah mengkhianatiku. Karena kau tidak bisa.”

“Apakah itu berarti aku punya ijinmu untuk menyatukan mereka?” tanya Frankie tanpa berbalik badan. “Aku bisa melepas kepalanya dan menyelesaikan konfigurasinya besok.”

“Ya,” kata sang ratu. Dia berbalik dari tangki dan tersenyum dengan menakutkan, tanpa mata, pada dua Stromguard yang memutuskan untuk kembali padanya. “Dan kalian, gadis-gadis setiaku, akan membantuku menguji kekuatannya.”

Alpha Lore, Chapter 2 : The Destruction

—— Hullo, Cantik …——

Hullo …

—— Hullo Cant-cant-can …

#~$ REBOOT INITIATED: STAND BY …

… BUFFERING …

… TARGET DETECTED

–>ENGAGING.

Frankie dan ratu berkerudung berjalan di tempat latihan yang dipenuhi bekas pijakan kaki dan goresan pedang. Darah yang mengering di sekitar tubuh Livia dan Elena, dua Stormguard yang telah memutuskan untuk kembali pada ratu. Alpha berdiri di sana, topeng dan armor-nya tidak penyok sama sekali.

“Kejam,” ujar Frankie.

“Harus,” jawab ratu, “dan mengesankan. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka, dan ciptaanmu menghabisi mereka dalam sekejap.”

“Dia tidak bisa dihentikan,” Frankie mengetuk lutut Alpha. “Ada beberapa bugs di penyimpanan ingatannya yang harus kuperbaiki. Tidak mudah, menghapus semuanya kecuali cara bertarung. Aku memperbaiki masalah itu bersamaan dengan automatic reboot …”

“Apakah dia siap?”

“Ya. Arahan sudah di upload.”

~

—— Kau tidak melindunginya dariku.

—— Melindunginya. Dariku. Lebih baik larilah. Hancurkan.

—— Sekarang sebelum aku menghancurkan …

—— … aset paling berhargamu.

#~$ REBOOT INITIATED: STAND BY

… BUFFERING …

–> PATROL MODE ACTIVATED.

Secepat api yang tertiup angin, kabar tersebar ke seluruh penjuru kota Eventide bahwablancorojos tidak bisa dipercaya, bahwa seorang monster dengan teknologi canggih memburu Stormguard yang tidak patuh. Kabar itu sampai pada dua keluarga namun sudah terlambat, mantan anggota kerajaan yang ikut bersekongkol untuk melawan ratu. Mereka, dan enam mantan Stormguard yang sudah dicincang, diseret ke jalanan untuk dimakan oleh burung gagak.

~

—— Makhluk cantik.

—— Makhluk …

—— … Cantik. Makhluk cantik.

#~$ REBOOT INITIATED: STAND BY

… BUFFERING …

… STORMGUARD DETECTED …

… FULFILL DIRECTIVE …

–> ENGAGING.

Di luar dari kedai teh tertua di Taizen Gate, para prajurit bertopeng dengan pedang melengkung berbaris, hening. Di dalam, Tiga Bos berlutut menghadap enam mantan Stormguard, telapak tangan mereka di meja sesuai tradisi warga lokal.

“Stormguard dikenal selalu membuat masalah di sini,” kata Bos Kedua yang gemuk.

“Stormguard sekarang melayani sang pengganti bagi Mont Lille,” jawab Marelde.

“Kami tidak memiliki saham dengan siapa ratu yang mengatur Eventide. Politik internasional kami adalah netral.” Hologram Bos Pertama yang berkelip di setelan bisnisnya.

Marelde mengepalkan tangannya, menatap mata para Bos. “Ambisi ratu sangat besar.”

“Jika kau berbohong, dan kami akan memberimu lokasi putri yang kau cari ini, kau akan membunuhnya, ya?” tanya Bos Ketiga, pria kurus dengan senyumannya.

Marelde melihat pada wanita lain, tapi pandangan yang gugup merupakan tanda dari kelemahan di Taizen Gate. Selain itu, dia pernah mendengar suara Catherine: Pertahanan pertama dari seorang pembawa perisai adalah matanya. Dia meletakkan telapak tangannya di meja, menghadap ke atas.

“Aku tidak akan meminta kepercayaanmu, tapi untuk segala sesuatu, ada harganya. Pertimbangkan dan sebutkan yang kau mau.”

Jeritan, dan suara pedang yang berbenturan dari luar, menyela pembicaraan mereka. Stormguard melompat ke meja, menendang cangkir teh dan menempatkan diri mereka pada posisi bertahan mengelilingi tiga penyihir. Bos Kedua berdiri dengan kecepatan yang mengejutkan. Bos Pertama berkelip dan menghilang. Bos Ketiga membuka kimono-nya, memperlihatkan sebuah rompi.

“Terlalu banyak aturan untuk melarang senjata,” gumam satu penyihir, percikan api biru muncul dari jentikan jarinya.

“Belum,” kata Marelde; penggunaan sihir akan terdeteksi ke seluruh Taizen Gate.Bagaimana jika pertahanan pertamamu adalah hanya apa yang kau miliki, Catherine? Dia berpikir, tapi Catherine jauh dari sana, dan dia tidak punya perisai.

Jeritan di luar berhenti. Pintu luar terbuka, membuat suara kicauan burung malam terdengar.

“Sekarang,” perintah Marelde, dan ruangan dipenuhi dengan dengungan sihir dan pedang membelah kertas dinding dan sebuah mesin melangkah masuk.

Ruangan kembali dipenuhi dengan kilauan sihir biru dan raungan dari Bos Kedua. Mesin itu terus maju, menebas menembus mantan rekannya, menepis sambaran sihir, pedang Bos Ketiga terpental dari armor-nya. Dalam seketika, pertempuran itu berakhir dan Alpha berdiri memindai ruangan dengan mata yang bercahaya. Enam wanita terbaring dan berdarah di bawah kakinya; dua bos gemetaran di sudut ruangan. Pedangnya telah membelah meja, dan Marelde, menjadi dua bagian.

#~$ DIRECTIVE FULFILLED

… RECONNAISSANCE MODE ACTIVATED.

… DIRECTIVE: FIND STORMGUARD.

—— Makhluk cantik …

Alpha Lore, Chapter 3 : ‘Daisy, Daisy’

Alpha memburu Stormguard terakhir …

Daisy menghimpitkan badannya pada sudut dari ruangan latihan, tanpa alas kaki terdiam di atas tikar, dia menekuk lengannya, menyembunyikan wajahnya dibalik lengannya yang memar dan sarung tangan tinju tebal. Kestrel, lebih tua setahun darinya yang berumur 15, mendekatinya dan memukul pada pinggang Daisy; ketika lengannya turun, pukulan datang pada rahang dan pelipisnya. Air mata mengalir dari mata Daisy yang bengkak, bercampur dengan darah dan air dari hidungnya. Sebuah pukulan ke perut membuat dia kehilangan napas dan membuat dia meringkuk, kedua lengan di atas kepalanya.

Kestrel mengangkat satu sarung tangan kulit. “Hey! Daisy yang berantakan!”

Instruktur mengamati, menatap pada gadis yang melindungi kepalanya. “Jangan pernah terkena pukulan, kau takut terhadap semua pukulan!” wanita itu berbicara dengan aksen yang kasar. “Hari ini jatuh, menangis, kulit berubah ungu, darah mengalir. Besok, masih hidup.”

Kestrel mengedipkan matanya yang berwarna biru. “Bangunlah. Selanjutnya giliranmu.”

“Aku tidak bisa,” tangis Daisy. “Aku tak bisa.”

“Jauhkan pikiranmu dari rasa sakit.” Kestrel mengusap hidungnya dengan sebuah sarung tangan kulit. “Aku menghitung jumlah pukulannya.”

Daisy melihat ke atas, mengernyit. “Itu bisa berhasil?”

Kestrel mengangkat bahunya. “Bangunlah dan kita coba.”

~

“Apa kau mendengarnya?”

Di atas sebuah menara, Stomrguard terakhir menunggu kematiannya. Kestrel dan Catherine berdiri di landasan pendaratan; empat orang mengawasi melalui jendela ruangan kontrol di bawah.

Amie membuat seekor kucing yang berayun di tali dengan sihir diantara jari-jarinya, melihat keluar pada cahaya yang berkelip-kelip berputar di sekitar menara dari Royal Quarter. “‘Seperti suara bel?”

Ivet menekankan hidungnya pada jendela dan mengembuskan napas yang membuat embun di kaca jendela. “Bos-bos di Taizen Gate dikenal dengan kekejaman mereka. Kita pasti sudah tahu jika sang ratu memiliki mesin pembunuh.”

Suara bel muncul kembali, lebih keras, dari elevator di tengah ruangan.

Para penjaga membungkuk ketika elevator naik ke lantai itu. Wanita dengan pedang besar membalik pedangnya dan menangkap mereka. “Sekarang teman-teman,” dia berkata, “itu bisa siapa saja. Jangan sampai membunuh seorang pilot atau yang lainnya.”

Suara bel terakhir dan pintu elevator terbuka.

“Itu benar dia,” bisik Amie, tali-tali sihir dikeluarkan. “Catherine!”

“Sudah terlambat,” kata pembawa perisai, berlari ke elevator. Perisai berubah menjadi kobaran api, membanting ke mesin, membenturkan pada dinding yang jauh.

“SATU,” dia berkata.

Wanita dengan perisai kembali keluar dari elevator dan meluncur di lantai ke dinding kaca, perisai dan luka tubuh yang parah, meninggalkan bekas darah di lantai.

“Aku akan menghancurkan benda itu,” ujar Ivet, mulai maju, kapak dengan kecepatan sangat tinggi.

Mesin itu menerima serangan di lengan besinya. “DUA,” dia berkata dengan suara seperti mesin, dan menyerang balik. Ivet terlempar ke belakang, kapaknya terbelah dua, darah mengucur dari kepalanya.

Stormguard ketiga tersandung kebelakang dari kursi dan layar kontrol, pedang besarnya menyilang di depan wajahnya. Mesin itu mengangkat wanita itu dengan satu tangan dan membantingnya ke jendela, meretakkan kaca. Pedang jatuh ke lantai.

Amie memutar jarinya, sihir muncul tidak stabil karena dia berusaha dalam kepanikan. “Ayolah!” tangisnya saat mesin mendekat. Cahaya biru mulai padat, membentuk sayap, menjadi seekor phoenix yang besar di tangannya. “Pergilah!” dia memerintah, dan phoenix terbang, mencengkeram mesin dengan cakarnya dan menyeretnya kembali ke dalam elevator.

“TIGA,” ucap mesin itu, lalu, “EMPAT-LIMA-ENAM” ketika Amie mengejarnya, bola-bola sihir yang meledak terbang dari jari-jarinya. Phoenix memaksa mesin itu ke lantai elevator, mematuk pada topengnya.

~

“Itu adalah burung dari Amie.” Kestrel mundur, empat panah energi siap di tangannya.

Catherine berlari ke tangga, perisainya berdengung, zona pendaratan meledak. Mesin itu melompat menembus atap, memotong kabel dari elevator dengan pedangnya, elevator terjun bebas dengan Amie di dalamnya.

Mesin itu melihat ke arah Kestrel. “MEMINDAI. TARGET KOSONG-DUA-TIGA. STORMGUARD. HANCURKAN.”

Kestrel melepaskan tiga anak panah dengan cepat yang menembus lutut mesin itu dan lehernya. “TUJUH-DELAPAN-SEMBILAN,” kata mesin.

Kestrel diam, sebuah anak panah siap pada busurnya.

Catherine bergerak dengan cepat dari belakang, membantingkan perisainya pada punggung mesin itu. Dia menahan napas dan membentuk perisai sihir yang bersinar di sekitarnya, melihat dari dalam, gelembung yang berdenyut-denyut, mesin itu bersuara terbata-bata, “SEP-UL-LUH. ME-MIN-DAI TARGET KOSONG-KOSONG-SATU. STROMGUARD. HANCURKAN-KAN-KAN.” Pedangnya menebas pada gelembung. Perisai sihir itu hancur menjadi hujan pecahan energi tapi sebelumnya sudah memantulkan serangan kembali pada mesin itu, merobohkannya. “ERROR. ERROR.”

“Catherine, tunggu!” jerit Kestrel.

Catherine memposisikan dirinya kesamping, perisai di atas, dia waspada karena mesin itu melangkah ke arah Kestrel, dengan satu kaki diseret. Kestrel melepaskan anak panah ke arah mata topeng mesin itu.

“SEBELAS,” kata mesin itu, melangkah seperti boneka yang rusak ketika anak panah menancap. “HITUNG … hitung pukulannya.” Suara seperti mesinnya hilang. “Aku … tidak bisa. Makhluk cantik. Daisy … Daisy yang berantakan. Aku tak bisa. Kestrel?” Pedang jatuh dari tangannya.

“Apa yang telah dia lakukan padamu?” tangis Kestrel.

Catherine maju dengan waspada, perisai di depan. “Ini bisa saja jebakan.”

“Ini Daisy,” ucap Kestrel, melepaskan topeng mesin itu, memperlihatkan wajah wanita yang terlihat mengerikan.

“Aku dimana?” bisik Daisy, mengepalkan tangannya. “Sakit. Ini menyakitkan. Tolong … Kestrel, tolong-LONG-LONG-LONG … ” Wajahnya melihat ke kejauhan, ekspresinya kosong, tapi kepalan tangannya melemas.

“Apa yang terjadi?” tangis Kestrel dalam kepanikan. “Apa dia akan mati?”

“SYSTEM REBOOT. STANDBY,” ucap Daisy dengan nada datar. Matanya menutup.

“Tidak!Jangan reboot!” Kestrel menampar pipi Daisy. “Tetaplah di sini, Daisy.”

Mata Daisy terbuka. “Aku membunuh mereka,” kata Daisy. “Aku telah membunuh mereka semua. Kenapa aku membunuh mereka?”

“Itu bukan salahmu,” kata Kestrel, menyandarkannya di lengannya.

“Aku tidak bisa berhenti. Ini … kembali. Aku bisa merasakannya. Lebih baik larilah sekarang. Lari. Lari. Aku bisa mengakhirinya tapi kalian harus LARI-RI-RI-RI tidak bisa berhenti. STANDBY. Hentikan. Lari. LARI TARGET KOSONG-DUA-TIGA. LARI, TARGET KOSONG-KOSONG-SATU. Makhluk cantik. PROTOKOL PENGHANCURAN DIMULAI. STANDBY.”

Daisy diam. Ada suara klik, dan sebuah barrier energi muncul di sekitarnya. Catherine menarik tangan Kestrel.

“Kita harus menolongnya,” tangis Kestrel, tapi Catherine menariknya karena muncul cahaya yang menyilaukan dari dalam armor Daisy.

“Kesana!Pergilah!” Catherine menunjuk, berteriak pada suara pesawat yang terbang di atas. Tangga tali diturunkan dari pesawat itu dan Catherine mendorong Kestrel ke arah tali itu lalu dia menurunkan perisainya. Dia menutup matanya ketika ledakan mengguncang menara.

Kestrel memegang dengan kuat pada tangga tali saat ledakan mendorong pesawat itu, kota hancur di bawah, lautan di depan, Halcyon Fold sebuah jalur gelap dari daratan yang jauh dari sana.

Catherine bangkit, gemetaran, berdiri. Perisainya terbakar. Dia meletakkannya dan melihat ke atas dimana dia tahu gagak akan berputar-putar, mengawasi.

#~$ SYSTEM REBOOT…

… IDENTITY: ALPHA, STORMGUARD.

… DIRECTIVE: ELIMINATE STORMGUARD.

… LOADING COORDINATES: HALCYON FOLD…

Alpha juga muncul di lore dari Krul, “What Krul Seeks” : baca disini


 

Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)

Related Incoming Search Term: