VG Lore : Celeste & Vox

*Untuk lebih mengerti lore Celeste & Vox, sangat disarankan membaca kisah mereka dari sudut pandang hero lain seperti Ardan, Catherine dan Kestrel.

Celeste & Vox Lore, Chapter 1 : Impossible Decision

“Impossible Decision” termasuk dalam lore dari Ardan, baca disini.

Celeste & Vox Lore, Chapter 2 : Above the Boiling Bay

“Berhenti berayun-ayun.”

Dari atas sebuah mobil berkarat Carnie Wheel di sebuah taman hiburan yang telah lama ditinggalkan, Taizen Gate membentang luas – penuh akan cahaya biru, hijau, dan ungu yang berkelip-kelip. Dari sebuah tempat yang begitu tinggi, Celeste hampir lupa bagaimana rasanya berjalan di jalanan, berbenturan dengan orang-orang dalam keramaian, jari-jarinya saling berkaitan dengan adiknya agar dia tidak tersesat; bagaimana pedagang-pedagang menjual ikan mati dan ayam yang masih hidup; bagaimana dia tidak dapat tidur dengan nyenyak dalam 15 tahun karena tanda MEKANIK di atas garasi ayahnya, yang mana bercahaya merah terang menembus tirai …. dan bagaimana bintang-bintang, beberapa di antaranya di atas kota yang terang, panggil dia.

Vox tersenyum lebar padanya, bahkan tanpa berpegangan, berayun maju dan mundur dengan kencang. “Apa? Seperti ini? Inikah yang membuatmu takut?”

“Aku tidak takut.”

“Karena jika kau takut, aku akan berhenti.”

“Diam.”

Selama seharian, dia terus menaruh satu tangannya di dalam kantong bajunya, sebuah bola hangat dari cahaya terus ia genggam.

“Akui saja kau takut dan aku akan berhenti.”

“Jika kau terjatuh, aku akan mentertawakanmu.”

Di atas kabut halcyon yang berbahaya yang keluar dari Boiling Bay, matahari tenggelam dengan warna oranye dan merah. Di antara kabut yang menutupi seluruh wilayah. Saat senja, tanah akan di penuhi pemuda-pemuda Taizen, bernapas dengan masker gas. Di atas Carnie Wheel, si kembar bernapas tanpa kesulitan.

Mobil hiburan berbunyi karena ayunan. “Apa kau berpikir mereka telah mengetahui keberadaan kita?” tanya Celeste.

Semua orang di Taizen tahu ketika “turis” datang. Mereka mencoba datang diam-diam, tapi tidak peduli sebagus apa kau meniru pakaian mereka, tidak peduli sebagus apa logatmu, jika kau mulai bertanya, penduduk lokal akan tahu kalau kau bukan dari sekitar sini. Dan jika kau punya tato tanda penyihir atau sihir yang mudah diketahui, bagian belakang meja dari ruang teh akan mulai berdengung saat kau berbicara.

“Aku berharap juga begitu,” Vox mengangkat bahunya. “Lelah juga terus bersembunyi. Biarkan mereka datang. Aku ingin melihat mata mereka secara langsung.”

“Kau ingin balas dendam untuk ibu.”

“Apa kau tidak ingin?”

“Aku ingin kita aman, sama seperti ayah.”

“Aman itu tidak menyenangkan.” Vox mulai berayun dengan lebih kencang lagi, sampai suara protes Celeste dapat didengar dari bawah kabut.

Celeste & Vox Lore, Chapter 3 : The Masker-Rage

Suaranya sangat dahsyat. Suara yang begitu keras memekik dari tiang besi yang patah. Dari atas Carnie Wheel, butuh waktu lima detik untuk Celeste dan Vox untuk jatuh.

Sesaat, Celeste memutar-mutarkan telapak tangannya di udara, pikirannya masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya.

Tapi kemudian, jatuh dari ketinggan yang tinggi, melewati putaran sihir yang ia buat sendiri, dia menerima takdirnya. Selama empat detik penuh, setiap tulang di tubuhnya akan pecah berkeping-keping. Ayah menjengkelkan yang terlalu melindunginya selama ini benar, dan tidak ada lagi untuk dilakukan.

Detik ke-empat … Dia mengingat ulang tahun ke-16 mereka dua tahun yang lalu … Itu adalah ketika Vox memiliki masker gas pertamanya dan mengajaknya naik tangga dari Carnie Wheel. Di atas sana, mereka bebas. Vox melepas maskernya dan menghirup udara dengan bebas.

“Lakukan,” Vox berkata.

Jadi dia mengangkat tangannya dan membuat putaran kecil di udara, dan udara berubah menjadi bukan udara, dan tangan di bawahnya berubah menjadi bukan tangan, dan apa yang mereka lihat bukan apapun, tidak ada apapun, napas terakhir dari sebuah bintang, jatuh pada dirinya sendiri.

“Baik, baik,” dia berkata. “Giliranku.”

Matanya tertutup, dan dia mengangkat tangannya. Selama beberapa detik, tak ada yang terjadi. Lalu, Celeste mendengar sesuatu. Burung pipit mulai bernyanyi bersama, melodi kecil ini, dan Vox mulai bersenandung. Dia menyanyikan sedikit lirik, untuk mengganggu Celeste. Ini adalah lagu Celeste, Aku membuat lagu Celeste, semuanya nyanyikan lagu Celeste.

Detik ke-tiga …. Bintang-bintang muncul dari jari-jarinya, Celeste mengingat bagaimana hari Masker-Rage mulai dengan sebuah janji – sebuah perayaan dari ulang tahun mereka ke-18 …. Saat senja, lapisan kabut menutupi Taizen, yang berisi remaja-remaja yang memiliki potongan kecil kristal atau tanda sihir bersinar di lengan dan wajah mereka. Warga yang menerima pekerjaan membuka pagar keamanan dengan sihir mereka, menjual secuil daging panggang dan keju dan minuman.

Jauh di atas mereka, Celeste dan Vox berdiri di atas Carnie Wheel, tempat favorit mereka.

Tangan Celeste disinari dengan kehangatan. Vox merasakan denyutan dari dalam diri Celeste … dan dari dalam dirinya … dan dari dalam semua orang di bawah, denyut jantung mereka menggebuk tempo Vox. Lalu, Celeste melemaskan telapak tangannya dan bebaskan.

Langit telah berputar. Cahaya panas jatuh, kemudian meledak menjadi spiral. Ketika Vox menjentikkan jari-jarinya, suara yang ditimbulkan menghentikan segalanya. Menakuti bangau-bangau, dan terbang dengan sayap lebar mereka, menghilangkan kabut di sekitarnya, dan si kembar terlihat oleh keramaian di bawah. Vox mengambil nada, dan dimana-mana tiba-tiba terdengar musik, semua orang bergerak bersama, bernyanyi bersama, bersuka cita.

Bertahun-tahun bersembunyi. Bintang-bintang berjatuhan, dengan cahaya dan kehangatan dan kebahagiaan kedalam tubuhnya, dan muncul dari kedua tangannya, meledak menjadi pancuran dan pola geometris seirama dengan musik. Celeste dan Vox akhirnya membuat sihir dan seni bersama jauh dari peraturan konyol ayah mereka.

Detik ke-dua … Dengan semakin dekat dengan tanah, keributan semakin jelas. Dia mengingat saat, detik-detik di atas Carnie Wheel, ketika mereka menyadari ada yang tidak benar …Saat Vox ribut. Mereka menyadari orang-orang di bawah berkumpul, dikelilingi pedang dan perisai. Sorak sorai yang membentuk irama telah menjadi jeritan kepanikan, dan lagu dari Vox telah berubah. Menjadi musik yang menyatukan pasukan dan menakuti musuh.

Saat music berubah, cahaya bintang yang bergerak melalui tangan Celeste berubah menjadi tetesan panas yang membakar apapun yang disentuhnya.

“Apa yang terjadi?” Vox berteriak, suaranya menjadi irama musik.

Celeste telah mencoba untuk menjawab, tetapi tidak bisa.

Vox menepukkan tangannya. “Celeste!” Dia berteriak,

“Hentikan!”

Dunia telah kacau karena dentuman sonik dari Vox, dan sebuah ledakan dari cahaya bintang di bawah. Membuat tanah retak.

Detik ke-satu … Tidak seperti kebanyakan orang yang akan tidak sadar saat jatuh, Celeste sadar sepenuhnya dengan satu detik untuk hidup …Sekarang begitu dekat dengan tanah, dia mampu mengenali seseorang; armor merah dari ayahnya, Terlihat tangan Ardan terbuka. Tatapan wajahnya memperlihatkan kejadian yang pernah dia alami: malam saat Stormguard mendatangi rumah mereka.

Detik ke-nol … Mereka mendarat.

Celeste & Vox Lore, Chapter 4 : Vanguard Up!

“Vanguard Up!” termasuk dalam lore dari Ardan, baca disini.

Celeste & Vox Lore, Chapter 5 : Escape the Fold Part I

Jadi kita keluar dari Boiling Bay dengan kecepatan penuh, kan? Mobil-mobil Carnie Wheel datang dan BAM-CRUSH bertabrakan di kiri dan kanan kita, Stormguard mengejar kita dengan perisai-perisai yang bersuara ZAP-BZZT-ZAP-BZZT, dan kita menerima tembakan dari perisai-perisai itu, seperti kilat sihir yang menyambar orang, dan bola api WHOOMSHHHHH melewati kami dan menciptakan kobaran api yang harus kami lompati. Armor ayah terlalu panas, dan penyihir perang Gythia berkata, “Kita harus kabur kekapal barang itu!” dan ayah berkata, “Putriku tidak ada urusannya dengan dunia politikmu!” dan aku (Vox) bilang, “Bisakah kita diskusikan ini nanti saja ketika tidak, kalian tahu, akan mati?”

Kami mendekati dermaga. Sementara para prajurit merenenggut tali yang akan kami gunakan untuk berlabuh, pasukan Stormguard mendekat, menyanyikan lagu peperangan yang menyeramkan. Sebuah panah mengenai punggung laki-laki di sebelahku. Yang tersisa dari barisan depan Gythia adalah perisai yang terus terkena panah, dan Celeste menggenggam tanganku dan bersandar.

“Lakukan itu,” dia berkata. Lalu dia tersenyum padaku seperti tidak ada kekacauan yang terjadi.

Jadi aku mengumpulkan semua suara yang aku rasakan. Air tidak berbunyi lap-lap-lap mengenai dermaga. Energi ini aku kumpulkan, menghisap nyanyian Stormguard. Panah dan bola api yang berterbangan tidak bersuara. Teriakan dan instruksi orang-orang Gythia tidak terdengar. Aku mengambil semuanya, semua suara yang aku temukan, aku kumpulkan menjadikannya bola di tanganku. Terasa seperti detak jantung.

Lalu aku mengarahkannya dan menembakkannya.

Meletup bergelombang WUB-WUB-WUB-WUB tepat pada barisan Stormguard. Lalu orang-orang Gythia pergi kekota, menyerang, dan Stormguard mundur. Orang-orang Gythia mengejar mereka.

Aku mengharapkan sebuah pujian, setidaknya seseorang pura-pura kagum? Penyihir perang berusaha membantu Celeste kekapal barang. Ayah tidak setuju. Dia menarik Celeste dengan tangannya. “Dia tidak akan pergi,” dia bilang.

Penyihir perang itu menjelaskan bagaimana Celeste harus memenuhi takdirnya dan mengambil alih tahta blah blah blah, tetapi ayah tidak pernah setuju. Dia bahkan berpura-pura akan memukulnya. Ayah bilang Storm Queen mengancam peradaban mereka yang sedang sekarat dan mereka pikir kakakku dapat menyelesaikan hal itu. Celeste dan aku merasa seperti whoa. Kami belajar mengenai ratu yang menindas rakyat di sekolah, bagaimana pasukannya menghancurkan dan menjarah kota-kota lain, membunuh para pembangkang dan menculik anak-anak yang berbakat untuk dijadikan prajurit Stormguard.

Ini menjadi semakin gila, dan semua orang berbicara apa yang terbaik bagi Celeste. Tapi rasanya masa depanku juga telah diputuskan. Dan aku membuat keputusan untuk …

Celeste & Vox Lore, Chapter 5 : Escape the Fold Part II

“Jika ada cara untuk menghentikan penindasannya, bukankah aku harus melakukannya?” Celeste berkata sambil selalu bersikap tenang.

“Ibumu berpikir dia bisa menggantikan Storm Queen dengan bantuan para pakar teknologi, dan sekarang liat apa yang telah terjadi padanya.”

Hal yang salah untuk dibicarakan dengan Celeste. Dia sangat keras kepala dengan hal-hal tentang ibunya. “Aku menyayangimu ayah, tapi aku tidak akan meminta ijin. Mereka adalah rakyatku.”

“Dan kau akan menyelamatkan mereka, yang mulia?” ayah mengejek.

“Ayah.” Aku (Vox) meletakkan tangan ku di lengannya. Dia menghindarinya, tapi aku lakukan lagi.

“Dengar.” Dan aku membiarkan dia mendengar.

Sebuah gema dari sekitar kita, suara dari masa lalu. Yang berkata,

“Yang si kembar butuhkan adalah piaraan.”

Ayah berbalik, menatap kesekitar dermaga.

“Julia?” dia berbisik. Ini pertama kalinya aku mendengar dia menyebut namanya sejak malam itu.

Lalu aku menirukan suara ayah malam itu, saat dia berteriak pada ibu.

Ayah terdiam, bibirnya sedikit terbuka.

“Ayah,” aku kembali berkata. “Celeste akan pergi. Ini mungkin terakhir kalinya kau bisa melihatnya. Kalian ingin ini menjadi percakapan terakhir kalian berdua?”

Terjadi momen yang canggung dimana akan sangat keren untuk berkata Kau benar, Vox, tapi tidak. Dia hanya memeluk Celeste. “Kau akan selalu memilikiku,” dia berkata. Dia yang pertama naik di kapal barang, kemudian membantu Celeste naik.

“Kau juga selalu akan memilikiku,” Aku berkata saat melompat kekapal, meskipun tidak ada yang bisa ¬†mendengarnya, ini menjadi momen yang sangat mengharukan bagi ayah dan putrinya.

Aku mengikuti keluargaku keluar dari Boiling Bay:

“Sungguh memalukan …”


Original story by Super Evil Mega Corp & Original translate by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)

 

Related Incoming Search Term: