VG Lore : Krul

Krul Lore, Chapter 1 : Krul, The Totured Undead

Krul lore 1

Jangan pergi keluar sana. Aku melihat…nya…dengan mataku sendiri. Sesosok makhluk yang tidak mungkin. Seorang manusia yang sudah bukan manusia lagi, dengan sebuah pedang besar yang menembus dadanya. Pedang bersinar itu terlihat jelas menembusnya lalu muncul lagi di sisi lain tubuhnya. Coba bayangkan seberapa lubang akibat luka itu. Sebuah pemandangan yang tidak terpikirkan. Dan kemudian aku melihatnya…

Aku bisa merasakan rasa sakit merayap padaku. Sakitku bahkan sampai ke tulang-tulangku. Rasa sakit itu menusuk-nusuk kakiku, membuat perutku bergejolak dan seakan mencengkram leherku. Aku merangkak menuju semak untuk bersembunyi saat melihat minions mati, dia menggeliat.. Aku seperti melihat prajurit berpengalaman yang mengalami penderitaan mendalam. Aku tidak berani bergerak. Aku berdoa agar apapun yang melakukan ini akan melewatiku begitu saja.

Aku tidak pernah lupa : Dia keluar dari gelapnya bayangan, rahangnya terbuka lebar dalam teriakan perang dan matanya bersinar penuh kebencian. Dia adalah benda mati terkutuk yang tidak bisa dihentikan. Kau mungkin tidak percaya padaku, tapi itu benar : Tidak ada yang bisa menahan rasa sakit itu… penderitaan itu.

Dia menuju ke arah para minion itu dan mencabik-cabiknya. Hanya tersisa sedikit bagian dari para minions saat dia selesai melakukannya. Aku sangat beruntung dia hanya melewatiku. Dan aku merangkak kesini dengan perutku seperti seorang pengecut. Percayalah padaku, dia akan datang padamu juga. Kau sudah diperingatkan.

Dan sekarang, biarkan aku mati.

Krul Lore, Chapter 2 : What Krul Seeks Part I

“Lakukan!” dia meraung pada mata besi sebuah turret, yang di jalari tumbuhan berduri.”Buat lubang lain di tubuhku! Hancurkan aku!”

Kalau saja itu berhasil.

Turret yang berkarat itu tetap diam. Dulu ada ledakan. Dulu prajurit akan berkerumun di belakang mesin yang sekarang tak terpelihara itu – siap dan lapar akan pertempuran. Dan lebih dari itu, mungkin itu yang dia cari.

Begitu dekat …

Krul menyeret kaki kirinya, merawat luka bakar di pahanya. Bau dari daging tercium, dia mengasah giginya dengan batu. Minion datang. Barangkali ada kehidupan yang tersisa di tempat ini. Dia memukul kakinya untuk menghilangkan rasa perih. Udara berhembus melewati lubang di dadanya, pedang yang terjebak di dadanya berembun.

Setiap langkah adalah penderitaan, tapi dia dapat berlari cepat. Menangkap minion paling besar secara tiba-tiba, meratakannya dengan cepat, hiraukan rasa sakit, hiraukan rasa sakit, hiraukan … Mencabik-cabik perut minion. Isi perut minion licin di tangannya; keluar seperti jaring laba-laba, kaki mereka dicabut dengan mudah seperti sayap lalat. Dia berteriak di wajah mereka, air liurnya muncrat. Tawa gilanya menggema. Kematian mereka membuatnya nyaman.

Ada darah. Ada potongan badan. Ada jeritan kematian dan cuilan makhluk hidup melekat di gigi dan kuku krul.

Lalu dia melihat perempuan berdiri diatas benteng yang hancur.

Krul Lore, Chapter 3 : What Krul Seeks Part II

“Hullo, cantik!” dia memanggil.

Perempuan itu adalah manusia, tinggi dan tegap, sebuah pedang berada di antara celah batu, mata tanpa emosi. Wajah Krul, atau tersisa dari wajahnya, membuka membuat senyuman.

Perempuan itu merespon dengan menarik pedangnya dari celah batu itu.

“Kau tidak bisa melindungi itu dariku,” dia meraung.

Perempuan itu melompat, jatuh begitu keras pada Krul, kekuatan kristal mendengung di sekitarnya seperti nyamuk. Dia sudah terlatih. Krul mungkin menghormatinya, dulu. Krul mendapat beberapa bacokan darinya. Krul mencoba menyerangnya, tapi tidak dapat mengenainya, berputar-putar, mendengus seperti iblis, mengindar sebisa mungkin sampai perempuan itu memutar pedangnya di atas pundaknya dan memukul dahinya dengan gagang pedangnya. Krul maju dengan cepat padanya, meraung dengan napas matinya. Lalu, tangisannya yang begitu gagah berani di hentikan dengan cengeraman tangan Krul pada lehernya.

Dia mencekik dan merasakan sesuatu yang hancur. Pedang perempuan itu jatuh ke atas bebatuan dan Krul menendangnya. Dia sudah memiliki pedang sendiri. Nyawa perempuan itu melayang dan dia ambruk, melupakan kejadian itu, Krul melanjutkan perjalannya.

Begitu dekat …

Kaki kanannya meninggalkan bekas darah dan kaki kirinya menyeret lumuran isi perut minion sepanjang perjalanan, melewati sebuah benteng, ke Sumur Halcyon.

Ke sumur yang mati.

Mungkin dia menemukan keselamatan di sana. Tapi hanya ada pecahan dari kristal yang hancur; tidak berguna untuk dipertahankan.

Harapan sirna, dunia kembali padanya. Dingin datang, masuk ke dalam ototnya, mengejang di seluruh luka abadinya, apapun yang yang hidup di dalam dirinya mencoba menolak besi asing.

Dia membiarkan dirinya sendiri disiksa menjerit sebelum kembali ke dalam semak-semak. Ada sumur lain … kesempatan lain.

Dia harus berlayar ke Halcyon Fold.

Krul Lore, Chapter 3 : Krul Sails to The Fold

Dulu, ada kehangatan. Aku ingat api, bagaimana aku melompat dan mengumpat ketika percikan api mengenai tanganku. Daging dan apel di lidahkau. Detak jantungku yang tak bersuara. Ingatan itu kembali ketika aku telah lupa begitu lama. Penderitaanku tidak akan lengkap tanpa ingatan yang terus menghantui.

Ada yang hal-hal yang diingat oleh badanku, begitu dalam ke tulang; halhal yang ayahku seharusnya ajarkan padaku, meskipun aku tidak mengingatnya sekarang: bagaimana caranya mendayung, berlayar dan mengemudikan kapal. Bagaimana cara menguasai pedang. Bagaimana cara melucuti senjata musuh dan mematahkan leher mereka. Ada ingatan lainnya, tapi aku tak yakin apakan itu kenyataan … atau hanya bagian dari lagu yang aku pernah dengar di bawah geladak.

Sepertinya mustahil bahwa aku dulu bernapas. Bahwa aku berpesta dengan saudara. Bahwa aku pernah memegang seorang wanita, hidungku terbenam di rambutnya, saat dia tidur.

Sekarang, hanya ada kesakitan.

Aku telah membawa kesengsaraan ini sejak jaman dari kakek buyutmu, dan jika apa yang aku cari tidak ada di Halcyon Fold, aku mungkin akan membawa kesengsaraan ini sampai generasi-generasi berikutnya.

Aku lapar. Aku berhasrat. Tapi kepuasan tidak pernah datang. Tidak ada kedamaian di dalam kehidupan yang dikutuk ini, kalau ini masih bisa disebut kehidupan.

Satu harapan tersisa. Satu kesempatan lagi untuk melepas jiwa dan besi yang mengikatnya-dan menemukan peristirahatan terakhirku. Setiap dayungan; setiap percikan ombak, membawaku lebih dekat pada keselamatan.


Original story by Super Evil Mega Corp & Chapter 1 original translated by Ari Kurniawan. Chapter 2 -4 original translate by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia).

 

Related Incoming Search Term: