VG Lore : Lance

*Untuk lebih mengerti lore Lance, sangat disarankan membaca kisah mereka dari sudut pandang hero lain seperti Reim, Samuel Lyra.

Lance Lore, Chapter 1 : The Archelions


Samuel muncul dari kamar dipulau yang dia sewa dengan muka murung, pipinya ceking, berpakaian serba hitam. Dia berjalan melewati ayunan dimana penduduk lokal bersantai-santai saat kondisi siang hari yang panas, pasangan mendengkur bersamaan dan saling berpelukan, para ibu merangkul anak-anak mereka. Jauh dari penginapan dia menemukan kambing yang sedang makan rumput; lebah madu yang mencari madu dibunga buncis, labu dan asparagus. Sulit dipercaya kalau pulau ini merupakan cangkang dari makhluk kuno raksasa bernama Archelon, mengapung mengelilingi dunia.

Dia mengikuti jejak kaki anak kecil yang berlari tanpa alas kaki, dia mengecek keong yang berwarna cerah, limpet, anemon, siput laut dan bintang laut. Seorang anak kecil memegang seekor bulu babi ditangannya, mengeluarkan daging dari perut binatang itu dengan cepat dan menelannya sementara dia melihat Samuel mendekat. Anak yang lebih tua merawat sarang yang berisi telur yang lebih besar dari kepala mereka.

Ditempat paling tinggi dipulau, bau dari makanan yang sedang dimasak membuat perut lapar. Penduduk lokal memanggang daging, meletakkan keranjang, memandikan anak-anak. Ikan gurami besar dipanggang; kerang dan tiram dan tumpukan rumput laut disekitarnya.

“Berlindung, ibu-ibu. Hujan mendekat,” panggil sebuah suara, diikuti suara ibu-ibu tertawa.
“Bergabunglah dengan kami, Samuel.”

Bunga dari pohon ceri berjatuhan dimana seorang laki-laki besar duduk, dua wanita dan sekeranjang makanan. Mereka mengenakan sarung; berwarna ungu dan dilingkarkan disekitar pinggangnya. Salah satu wanita itu mencukur rambut laki-laki itu. Wanita satunya duduk dengan kaki menyilang, tangannya dibentangkan, dan laki-laki itu merawat kukunya.

Samuel berhenti sejenak dengan canggung sebelum duduk didekat mereka. “Maaf tapi aku tidak mengenal kalian.”
“Jangan takut. Aku adalah Lance,” ucap laki-laki itu. Wanita itu menekan telinganya untuk mencukur rambut dibelakangnya. “Makanlah madu dan keju. Ini sangat manis.”

“Aku tidak akan makan hari ini,” ujar Samuel.

“Apa kau sedang sakit?” tanya wanita dengan alat cukur.

“Tidak,” jawab Samuel. “Berpuasa menjaga kekuatan dan meningkatkan kedisiplinan.”

“Kau memiliki seumur hidup untuk kelaparan dalam hidupmu yang kesepian,” kata laki-laki itu.

“Berapa banyak hari yang akan kau miliki untuk menjilat madu dari jari seorang wanita cantik?”
Samuel memalingkan wajahnya yang memerah dari wanita yang kukunya dirawat, yang mencelupkan jarinya kedalam cangkir berisi madu. “Apakah dia bukan salah satu istri anda?”

“Orang tidak untuk dimiliki,” jawab Lance.

“Apakah mereka ini bukan anak anda?” tanya Samuel.

“Anak-anak adalah milik semua orang, atau lebih tepatnya kami milik mereka.” Wanita itu melipat alat cukurnya dan seorang anak kecil terpeleset dari ranting pohon kepundak Lance. “Kau akan membatalkan puasamu hari ini, Sam. Jika kau menolak, kami akan memaksa.”

“Aku lebih suka Samuel,” ujar dia, tapi dia tidak bisa menolak. Dia mengambil beberapa ikan kedalam keranjangnya dan mengambil daging seperti yang lainnya. Anak-anak merangkak naik kekakinya dan bertanya terus menerus.

Lance tidak bergerak untuk menyelamatkannya dari serangan, dan Samuel hanya bisa tertawa kecil.
Setelah mereka selesai makan, kerumunan berjalan turun kearah tepi cangkang untuk menyaksikan troll laut berburu. Mereka mengelilingi kawanan anjing laut, menenggelamkan mereka dan kemudian melemparkan mereka keudara dan menangkap mereka dengan gigi besar mereka.

“Aku tidak akan membiarkan anak-anak dekat dengan para pemburu itu,” ujar Samuel.

Lance merangkul bahu Samuel yang tegang seperti mereka teman lama. “Para troll datang kepantai sekali dalam setahun untung meletakkan telur, dan kami menjaga mereka. Sebagai balasannya, para troll melindungi perut bagian bawah Archelon yang lembek dari para predator, dan kami bermain bersama. Ayo, kita lihat pertandingan.”

Ditepi cangkang, para laki-laki mengikatkan pelana anyaman kekepala para troll yang keras.
Mengenakan baju pelindung dari bambu dan perisai dan tombak rotan, mereka menaiki para troll dan saling menyerang, tombak mereka saling berbenturan dengan perisai. Lance adalah yang terbaik diantara para ksatria ini; dia mengambil pelana, melemparkan lawannya satu persatu kedalam air, lengannya yang begitu kuat menggenggam senjatanya, senyumnya terlihat menakutkan. Troll yang dia naiki meraung dan membasahi penonton dengan ekornya yang memukul air.

Setelah pertandingan, Samuel dan Lance menyaksikan bulan naik bersema sementara yang lain berjalan pergi. “Apa kau suka rumah baru kita?” tanya Lance.

“Ini tidak akan bertahan selamanya,” kata Samuel. “Archelon tidak akan hidup selamanya.”

“Lingkaran-lingkaran dicangkangnya memperlihatkan bahwa Archelon sudah hidup setidaknya seribu musim, dan dia berenang lebih kuat dari sebelumnya.”

“Segala sesuatu pasti akan mati.”

“Punyalah kepercayaan, Sam.” Lance menepuk pundaknya.

“Itu bukanlah jawaban.”

“Dan tetap saja, itu yang pernah benar.”

Lance Lore, Chapter 2 : Gythian Lance

Lance mengantar Samuel ke Gythia …

Pada hari terakhir dari perjalanan panjang yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, Samuel menyelam untuk melihat mata dari Archelon. Lance menunggu ditepi laut, mengingat hari dimana dia telah lulus dari ujian yang sama: matanya bercahaya, jauh lebih besar dari tinggi badannya. Ketika Samuel muncul dipermukaan, terengah-engah, Lance membungkuk untuk membantunya. “Apa kau menatap matanya?”

“Aku melihatnya, dan matanya melihatku,” ujar Samuel, mengenakan baju yang kering.

“Apa yang Archelon katakan padamu?”

Dahi Samuel mengkerut. “Aku tidak mengerti bahasa yang dia ucapkan.”

“Kau tidak mendengar apapun didalam hatimu?”

“Aku juga tidak mengerti bahasa hati yang dia ucapkan.”

“Baiklah; kau telah menampakkan dirimu pada Archelon dan kau sekarang adalah bagian dari kami. Kemarilah.”

Lance mengajaknya berkeliling disekitar tepian cangkang, berhenti sejenak untuk mengusap kepala dari para troll laut ketika mereka muncul kepermukaan. “Archelon terlalu besar untuk berenang melewati Bladed Bay. Saat fajar, aku akan mengantarmu kekota dengan kapal pengangkut barang.” Dengan bahasa Gythia dia melanjutkan:

“Takdirmu juga merupakan takdirku.”

“Aku tidak berpikir untuk mendengar bahasa itu dari Archelion,” ucap Samuel juga dalam bahasa Gythia. Diatas dek kapal, anak-anak menghirup udara sebelum menyelam untuk mencari kerang mutiara, dengan jaring disekitar leher mereka.

Lance mengantar Samuel kedalam kabin. “Dulu sekali, ketika aku masih muda, seorang Gythia sepertimu membeli tiket perjalanan dengan Archelion untuk melihat dunia sewaktu akhir tahunnya. Dia adalah seorang ksatria dengan hati yang mulia.”

“Lantas tidak ada yang sepertiku,” kata Samuel.

“Dia mengajariku untuk menguasai tombak dan perisai dan hidup dengan ajaran ksatria yaitu keadilan, keberanian, belas kasihan, kesopanan, kejujuran, kehormatan dan kesetiaan.” Cahaya indah bersinar dari mata Lance. “Dan dia mengajariku tentang sejarah dari kota yang kaya akan music dan hasrat, cukup untuk membuat jiwamu terbuai.”

“Apa dia lupa tentang peperangan, korupsi dan kejamnya dunia politik?”

“Memang benar; ada banyak hal didunia yang harus diperbaiki. Bagaimana bisa aku tetap berada diatas Archelion ketika aku memiliki tanggung jawab ditempat lain? Lihatlah: Guruku memberikanku ini.” Lance menyalakan lilin disekitar kabin dan, ketika cahaya berkedip-kedip, suasana yang sakral, dia membuka kotak tersembunyi dibawah lantai dimana, baju pelindung, perisai dan sebuah tombak tergeletak. “Sejak saat itu, aku telah mengabdikan hidupku untuk mengumpulkan artefak Gythia.”

Dia mengangkat perisai itu untuk memperlihatkannya, tapi Samuel justru melihat-lihat pada tumpukan peralatan dapur yang rapi, tempat lilin, peta yang usang, topeng karnaval dan pengetuk pintu kuningan bebentuk kepala singa. Dia mengambil sebuah penggencet bawang yang berkarat, membuka dan menutupnya. “Perisai yang indah, dan tidak ada goresan,” dia berujar. “Ksatriamu yang tersohor tidak banyak menjumpai peperangan.”

“Ksatria tidak selalu tentang peperangan,” kata Lance. “Aku telah bersumpah suatu hari akan melindungi seorang Gythia, dan dengan itu aku memperoleh ksatriaanku sendiri.”

“Aku tidak perlu perlindungan.” Samuel melemparkan penggencet bawang kembali ketempat semula.

“Aku bukan Gythia yang kau harapkan. Aku bahkan tidak melihat kota itu sejak aku berumur empat tahun.”

“Kaulah orangnya. Aku tahu.”

“Kau tidak tahu siapa aku, dan kau tidak tahu Gythia, semua yang sudah kau pelajari adalah omong kosong. Siapa yang memanggang roti terbaik pada Via Lucia?” Samuel mengambil sebuah buku dan membuka tiap halaman dengan cepat. “Kstariaan hanyalah dimiliki oleh para keluarga yang beruntung. Tidak ada urusannya dengan … daftar hal konyol apa ini? Keadilan, kejujuran, kesopaan …”

Lance mengambil buku dari tangan Samuel. “Hal konyol itu semua ada urusannya denganku.”

Dan kemudian, saat fajar, Samuel duduk dikapal Lance, dengan mengenakan jubah gelapnya. Lance, mengenakan baju pelindung dari ksatria Gythia, mengemudikan troll laut yang menarik kapal pengangkut barangnya melewati gerbang kota. Kabut tersibak dan cahaya keemaasan menyinari air mancur dan pahatan yang ada, menara, kincir air yang berputar. Napas Lance terhenti; air mata yang tidak dia inginkan mengalir. Kapalnya ditarik kedermaga diantara kapal-kapal mewah dimana sebuah sambutan dari para pejabat penting menunggu dengan pakaian mewah mereka.

Samuel berjalan dibelakang Lance setelah mereka turun. Lance menggenggam tangannya untuk memberikan salam, tetapi semua mata tertuju pada pemuda berkerudung itu. Wanita yang berada ditengah berjalan maju, satu tangan yang dipenuhi dengan cincin muncul dibalik lengan baju sutera panjang untuk menunjukkan telapak tangannya dengan sambutan yang semestinya. “Selamat datang dirumah, Samuel,” dia berkata. “Kami takut hal terburuk terjadi.”

“Terima kasih, Ibu,” ujar Samuel.


Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)