VG Lore : Phinn

Phinn Lore, Chpater 1 : Princess Kidnapped!

Monster Meninggalkan Jejak Misterius

Seluruh pasukan penjaga dari raja telah dikirim untuk mencari Putri Malene, yang menghilang dari kamarnya kemarin malam. Bagian dari pagar pengaman telah dikyoyak dari balkoni, mengindikasikan bahwa alat pengait digunakan untuk mencapai kamarnya dari bawah. Jeritan terdengar dan suara berontak, tapi ketika penjaga berhasil mendobrak pintu kamar, sang putri telah menghilang. Kamarnya dalam kondisi berantakan dengan sebuah kursi pada satu sisi. Sebuah mawar merah dengan bekas gigitan di tangkainya ditinggalkan di kamar sang putri, penyelidik menyebutnya “kartu pemanggil.”

Inspektur kerajaan telah membentuk barisan penjagaan dari rute kabur penculik untuk mengamankan bekas cakar dari makhluk yang tidak diketahui yang warga setempat menyebutnya “Si Monster.”

Siapapun yang memiliki informasi yang bisa digunakan untuk menangkap penculik itu harus segera melapor.

Phinn Lore, Chapter 2 : Social Climbers

Bulan, bulat seperti buah putih, menggantung diluar jangkauan, seperti segalanya yang diidamkan Blackfeather. “Ah, Phinneas,” dia bergumam, bersiul memandangi bulan di atas balkoni istana, “lagu-lagu terbaik ditulis saat malam seperti ini.”

“Tak bisa menari dengan sebuah lagu tentang penculikan,” jawab Phinn. Dia menggaruk telinganya dengan cakar yang panjang. Mereka berhimpitan di sebuah jalan buntu dari labirin Hardy Orange yang berduri di bawah balkoni. Phinn berusaha melihat di atas semak berduri itu.

“Bahaya adalah rekan untuk menari kita!” Berkamuflase dengan baju hitam, Blackfeather di malam hari, tapi dia menolak untuk menyembunyikan rambut berwarna emasnya yang berkilau dalam keadaan apapun. Kecantikan, dia selalu bilang, adalah senjatanya. “Seseorang tidak bisa menjadi petualang sesungguhnya tanpa menculik seorang putri.”

“Tidaklah sopan mengambil seorang gadis malang dari rumahnya.”

“Dia tidak malang sama sekali. Mereka akan memuji kita …”

“… dan memburu kita.”

“Dengan pedang dan pesonaku, dan … kekuatan ototmu … tidak ada yang bisa menghentikan kita. Kemunculan pertamamu akan menakuti seluruh isi istana ini.”

“Aku dengar orang tuanya adalah orang yang baik.” Phinn begitu peduli dengan hal kecil, telah hidup lama dan melihat hal-hal baik. Dia pikir menghindari drama akan lebih baik.

Blackfeather merangkulkan tangannya kepundak temannya yang besar. “Temanku yang terpuji. Apakah kau tidak suka uang?”

“Lebih baik punya uang daripada tidak.”

“Di sanalah, alasanmu. Di penginapan kita tadi malam, aku dengar ada hadiah yang banyak untuk putri yang kamarnya di atas menara, aku telah ┬ámengamati siang tadi saat tidurmu yang kedua.” Blackfeather menunjuk keatas.

“Apa yang banyak?”

“Tidakkah ada terima kasih untuk kerja kerasku? Tidak ada permintaan maaf untuk kebiasaanmu yang terus-menerus tidur?”

Phinn mengambil sebuah jeruk pahit dengan cakarnya. “Aku lelah setelah makan siang.”

“Untuk hal ini, sepuluh ribu emas itu banyak. Kita bagi setengah-setengah, tiga ribu masing-masing, dan kita akan hidup mewah.”

Phinn menggigit buah itu. “Sampai kita tidak punya uang lagi.”

“Dan kita harus mencari petualangan berikutnya.”

“Apa yang akan kita lakukan dengannya?”

“Dengan siapa?”

“Sang putri. Yang akan kita culik.”

“Kita akan menyerahkan kesiapapun yang mau memberikan tebusan untuknya.”

“Dan bagaimana kita akan …”

“Kita lepaskan dia saat waktu tidurmu yang kedua, dan sepuluh ribu emas kita dapatkan. Kita akan hidup sejahtera seperti raja yang jauh di sana dan kita bisa menceritakan kisah yang luar biasa setelah itu.”

“Baiklah, kalau begitu.” Phinn setuju. Meskipun dia bisa melakukan lebih dari yang Blackfeather harapkan.

“Bagaimana kita naik kesana?”

“Kita harus mengukur tembok itu.” Blackfeather meletakkan tangannya di pingganggnya dan melihat keatas balkoni, seperti mereka berharap akan terjadi keajaiban. “Bagaimana dengan alat pengaitku?”

“Apa ini bisa dipakai?” Dan Phinn menarik jangkar dai punggungnya.

“Bagaimana kau mendapatkan itu?”

“Di kapal yang kita naiki. Ini sangat cocok denganku, aku putuskan untuk mengambilnya.”

“Bagus sekali, Phinneas! Sang putri menunggu kita. Ikatkan tali pada jangkar itu dan lemparkan kebalkoni. Lalu kita bisa memanjat …”

“Kau punya tali?”

“Tentu saja. Aku adalah seorang petualang.”

“Kalau begitu akan kubuang rantai ini.”

Blackfeather memiringkan kepalanya dengan berlebihan dan memutar matanya supaya bisa terlihat di kegelapan, dan dalam beberapa menit, jangkar Phinn mencapai balkoni dengan sempurna, memuaskan, sungguh inspiratif ch-ch-CHOCK.

Phinn dan Blackfeather memulai pendakian mereka.

Phinn Lore, Chapter 3 : “No Use Resisting”

Suara dari balkoni yang terkena cakar besar Phinn terdengar sangat mengganggu. Blackfeather mengeluarkan pedangnya sebelum masuk ke kamar Putri Malene yang berhiaskan perabotan antik dan banyak sutera. Putri duduk di sebuah kursi dari kayu mahoni, gaunnya terlihat menggembung, memandang wajah mudanya yang cantik di sebuah cermin perak. Cermin itu memantulkan bayangan dari penculiknya, namun dia tidak terkejut, dia justru hanya mengangkat alisnya ketika Blackfeather mengambil mawar dari giginya.

“Tidak ada gunanya melawan, Putri. Aku datang untuk …”

“Culik aku, ya. Untuk hadiah tebusan.” Sang putri berdiri, dia menghaluskan roknya dan menendang kursinya. “Kau begitu lama.”

Mawar Blackfeather jatuh ke karpet yang sangat mewah. “Apa kau tidak ingin menjerit? Putri macam apa yang tidak menjerit?”

“Tentu aku akan menjerit. Aku bukan amatiran. Tetapi kalau aku menjerit terlalu cepat, para penjaga akan … AAAHHmmmmff!”

Dengan loncatan yang cepat, Blackfeather membungkam mulut Putri Malene dengan tangannya dan Phinn membungkuk agar muat di pintu balkoni. “Apa kita sedang bercanda atau melakukan penculikan?” Phinn mengomel.

Sang putri menyisihkan tangan Blackfeather dari mulutnya. “Apa itu?”

“Itu, ketidakberdayaanmu yang mulia, makhluk dari sungai, penculikmu yang kedua.”

“Dan si tampan,” putri bergumam, yang mencoba untuk menjauh dari Blackfeather tapi dihalau dengan pedang di lehernya.

“Aku akan menghiraukannya, melihat kau menderita trauma yang luar biasa.”

Phinn melangkah dengan lambat ke sebuah sangkar burung berlapis emas, di dalamnya terdapat seekor burung kecil putih.”Itu burung yang langka. Apakah ini Trostanian putih?” dia bilang, lalu bersiul.

“Jelas sekali. Salah satu dari lima puluh yang tersisa di dunia.”

“Sangat cantik. Tidak seharusnya di dalam sangkar. Siapa namanya?” Phinn membuka sangkarnya dan burung itu melompat ke atas kepalanya.

Blackfeather kembali menodong dengan gayanya yang penuh petualangan, gagah berani dan mulai lagi. “Tidak ada gunya melawan! Ayo kita pergi!”

Sang putri bergerak dengan cepat melewati Phinn dan peliharaan barunya untuk menggeledah laci lainnya.”Coocoo D’Etat.”

Blackfeather terlihat lemas. “Ah .. apa?”

“Itu adalah nama burung ini.”

Phinn menggelengkan kepalanya. “Aku tidak suka. Aku akan menamainya Susie, seperti nama pamanku.”

“Tidak ada gunanya melawan!” Blackfeather mencoba yang ketiga kalinya. “Ayo kita …”

“Aku tidak akan pergi tanpa cincinku,” kata Putri Malene. “Bagaimana kau akan membuktikan kalau kalian menculikku jika catatan penebusan kalian tidak memiliki tanda kerajaanku?”

“Catatan penebusan?” tanya Phinn.

“Catatan penebusan?” tanya Blackfeather.

Putri mengeluh. “Apa diantara kalian tidak tahu apa-apa tentang penculikan, sedikitpun?”

Phinn dan Blackfeather melihat satu sama lain, lalu ke putri lagi.

“Tidak ada gunanya melawan,” kata Blackfeather, suaranya lebih pelan kali ini.

“Ah! Itu dia.” Putri Malene mengenakan cincinnya, dia berpaling dan menjerit. Phinn mengernyit. Blackfeather melompat. Lalu burung membuang kotoran di kepala Phinn. “Tidak! Tolong! Jangan bawa aku! Aku akan memberimu apa saja!” Dia mengayunkan tangannya dan menjatuhkan lampu tidur. “Kalian berandalan kotor! Kalian binatang! Lepaskan aku!”

Para penjaga menggebuki pintu dan ketiga orang itu bergerak cepat ke balkoni, Putri Malene menjerit saat dia turun dengan rantai, berpegangan pada leher Phinn. Saat mereka mendarat di labirin berduri, dia menghaluskan roknya dan melihat dengan tajam ke dalam kegelapan.”Kearah mana tempat persembunyian kalian?”

“Ini seperti kau memesan penculikanmu sendiri,” Blackfeather mengeluh.

“Tentu saja, tidak ada putri sejati tanpa pernah diculik untuk tebusan.”

“Sepertinya adil,” kata Phinn sambil menarik rantai jangkarnya.

Suara mesin dan gonggongan anjing dalam jarak yang cukup dekat membuat mereka bertiga lari ke dalam labirin tanpa ada percakapan lagi.


 

Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)

Related Incoming Search Term: