VG Lore : Reim

*Untuk lebih mengerti lore Lance, sangat disarankan membaca kisah mereka dari sudut pandang hero lain seperti Lance & Lyra.

Reim Lore, Chapter 1 : Everything is Gone

Warga Grangor berdiri diatas bongkahan es untuk melihat kobaran api melalap Trostan. Asap mengelilingi mereka, kota yang telah menjadi pusat perdagangan kristal Gythia telah menjadi kobaran api. Mereka melemparkan emas Gythia kedalam celah es sebagai bekal bagi orang-orang yang telah mati. Koin-koin sudah menjadi tidak berguna dimanapun.

Para sesepuh berkumpul, yang paling tua mulai menceritakan cerita yang akan terus diceritakan untuk generasi-generasi selanjutnya:

“Dulu ini adalah Trostan, tapi segera ini akan terlupakan.”

“Para sesepuh tahu,” mereka bernyanyi dengan serentak.

“Manusia datang untuk menggali lubang di gletser. Mereka datang untuk merampas kristal dari bumi. Mereka datang untuk meminum dari sumur,” lanjut wanita tertua lain dengan suara nyaring.

“Para sesepuh tahu.”

“Kota menjadi bobrok karena keserakahan,” sahut yang lain.

“Para sesepuh tahu.”

“Leluhur mereka berbohong terlalu jauh,” ratap tertua.

“Para sesepuh ta …”

Sebuah ledakan es dari puncak menggetarkan tanah dan menghentikan nyanyian mereka. Semua mata berpaling dari kobaran api dan melihat keatas. Alih-alih longsoran salju, yang muncul dengan angin dingin adalah seorang laki-laki, bungkuk, dengan kulit keriput. Dengan kuku panjang seperti cakar dia menggenggam sebuah tongkat. Disekitar pundaknya dia mengenakan kulit Grangor. Meskipun tidak ada yang pernah melihat dia sebelumnya, mereka semua tahu dia pertapa yang sulit ditemui. Reim, mereka memanggilnya, penguasa es, pelahap Grangor, teror dari Kall Peaks. Meskipun jumlah mereka jauh lebuh banyak, para Grangor mundur, senjata-senjata siap, sementara penyihir es mengembuskan napas dengan marah yang menjadi embun es.

“Dimana anak laki-laki itu?” dia menggeram.

“Ibunya tahu,” jawab yang tertua, tapi hanya itu ekspresi dari Grangor. Yang berarti ada sesuatu yang tidak diketahui.

Dengan olok-olokan, Reim berpaling dari para Grangor dan menuruni sisi gunung, menggerutu sepanjang perjalanan. Sungai yang membatasi kota yang terbakar menjadi hitam karena abu. Reim mengentakkan tongkatnya ketanah dan sungai itu menjadi es. Dia berjalan diatasnya, sambil terbatuk-batuk, menuju kota.

“Nak!” dia memanggil. “Hey nak!”

Kota yang ramai dengan jual beli dan pengunjung pagi itu; sekarang, hanya hewan-hewan berlarian dari kandang mereka yang terbakar menuju sungai.

Penyihir itu berjalan melewati rumah-rumah yang hancur dengan meninggalkan bekas es ditanah, terus memanggil dan menggerutu. Dia berhenti dan melihat pada menara sihir, menara kuno Gythia yang gemerlapan, pusat dari pemerintahan Trostan. Puncak ketiga telah ambruk; sisanya telah hangus. Mengelilingi kota, dia menaikkan suaranya. “Hey nak, kau terlambat! Dimana kau?” dia terus memanggil sampai dia tiba di sumur halcyon, satu-satunya yang tidak terpengaruh kobaran api. Udara beracun muncul dari kota yang terbakar. Disana, ditepi sumur, ada perempuan kecil dengan wajah yang tertutupi kulit binatang yang besar Grangor. Dengan satu tangan dia menggenggam lentera yang membuat banyangan menyeramkan.

“Ay!” teriak Reim. “Siapa yang berkuasa disini?”

Perempuan menoleh dengan wajah kotor dengan abu, dengan air mata, menuju dia, memperlihatkan sisa jubahnya habis terbakar, jubah dari seorang Penyihir Tinggi dari Gythia. Dia menatap keatas, meskipun dia jauh lebih kecil dari dua yang lainnya, pertanyaan dari Reim sudah dijawab.

“Anak laki-laki itu,” dia bersikeras.

Perempuan itu menggelengkan kepalanya dan menggenggam lengannya. “Dia sudah pergi(mati?),” dia menjawab, lalu menatapnya. “Semuanya telah musnah.”

Reim Lore, Chapter 2 : Cold Reception


Kisah penyihir es yang kuat berlanjut, kisah dari cerita sebelumnya …

Seorang anak laki-laki berdiri dimulut gua, kapak es ditangannya yang mengenakan sarung tangan, besi terpasang pada sepatunya, bulu menutupi semuanya kecuali mata gelapnya. Sudah satu dekade sejak usaha terakhir orang untuk melewati terowongan terjal yang menuju keatas tempat dimana Reim, legenda penyihir es tinggal. Sudah sangat lama sejak orang-orang telah diperbolehkan untuk bertemu dia.

“Dia akan membunuhku jika kau tidak pulang,” kata teman Grangor-nya yang gempal.

“Aku telah memanjat yang lebih menakutkan dari ini.”

“Bukan pemanjatan ini yang membuatku khawatir. Tapi apa yang ada diatas.”

Anak laki-laki itu menepuk bahu temannya, lalu memulai logatnya yang lambat.

Ketika dia sampai diatas, kesulitan bernapas, matanya lurus dengan sepasang sepatu yang berbulu. Penyihir yang terkenal itu sudah menunggu, memecah buah pinus dan mengunyah kacangnya. “Yang Mulia!” tangis anak itu, menggenggam tangannya untuk meminta bantuan, “Aku datang untuk belajar dari anda.”

“Pelajaran pertama,” ujar Reim, sambil menempatkan sepatu didahi anak laki-laki itu. “Tinggalkan aku sendiri.” Dengan sedikit sentuhan, anak itu terperosot kebawah terowongan, suara jatuh menggema bersamaan dengan tawa penyihir, jatuh di samping teman Grangor-nya.

“Um,” kata temannya.

“Aku baik-baik saja,” ucap anak itu, dan mulai lagi.

Ketika dia mencapai atas, dia melihat Reim duduk ditendanya dengan kaki menyilang, memakan isi perut dari rusa kutub yang setengah membeku. “Yang Mulia,” dia berkata, sambil berdiri, “Aku sudah mendengar kisah dari sihir anda yang luar biasa.”

Penyihir itu terus mengunyah.

“Aku adalah kelahiran sihir. Aku telah mencapai kesembilan level dari ilmu sihir Gythia. Aku telah lulus tes dari pemburu Grangor.”

Alis putih Reim tidak menaik karena tertarik.

Anak laki-laki itu kehilangan kesabaran. “Atau mungkin anda hanya orang tua yang gila. Mungkin sesepuh menceritakan kisah anda hanya untuk menakut-nakuti.”

Reim mengorek hidungnya dan menempelkan upil bekunya pada pipi anak itu.

Merasa dihina, anak itu menuruni terowongan. Teman Grangor-nya duduk dengan api kecil didepannya.

“Aku tidak mau membicarakannya,” kata anak itu.

“Mencoba lagi?” jawab Grangor itu.

“Ya,” kata anak itu, dan memanjat lagi.

Kali ini, dia berlutut pada salju didepan penyihir es. Dia melepaskan bulu yang menutupi kepalanya dan menekan wajahnya kesalju ditanah. “Yang Mulia,” dia berkata, dengan suara pelan, “Aku membaca tentang apa yang terjadi pada putra anda. Tolong bantu aku untuk mengindari nasib sepertinya.”

Reim menghiraukannya dan meneruskan kegiatannya. Dia mengumpulkan daging dari alat penjebak. Dia makan. Dia tidur. Saat matahari terbenam, dia menendang pundak anak itu. “Kau ingin terkena hypothermia?” dia berteriak seperti orang tuli. “Masuklah, kau bodoh!”

Didalam sebuah tenda yang terbuat dari kulit dan taring Grangor, Reim menunggu sampai gigi anak itu berhenti bergemetaran.

“Siapa namamu!”

“Samuel,” ujar anak itu.

“Dan kau berhubungan dengan kucing-kucing kotor?”

Bahu Samuel menegang. “Orang-orang Grangor adalah …”

“… bukan orang. Dan lulus tes kecil mereka tidak ada artinya. Jadi siapa anda?”

“Aku adalah orang Gythia. Putra kelahiran sihir dari Archmage Lora, kepala dari divisi peperangan dari serikat sihir …”

“Aku bisa menelusuri silsilahku kesepuluh generasi Gythia kebelakang.”

“Benarkah? Siapa yang memanggang roti terbaik pada Via Lucia?”

Samuel menunduk. “Aku … Aku diasuh di Trostan sejak berumur empat tahun.”

“Lalu budak yang membuang pot megah milik ibumu masih lebih Gythia daripada kau.” Reim tertawa. “Kelahiran sihir. Dipelihara seperti seekor anjing. Ketika Gythia menemukan sesuatu yang tidak bekerja, mereka membuangnya.”

“Putramu adalah kelahiran sihir,” bisik Samuel.

“Jika kau tidak ingin berakhir seperti putraku,” ucap Reim, menutup matanya, “jangan repot-repot dengan kesembilan ilmu sihir Gythia. Pel saja salah satu kapal yang mengangkut kristal dari Trostan. Pelihara salah satu kebun anggur sejuk Lilian. Atau, kumpulkan bola mata bersama para Grangor. Lupakan tentang sihir, dan lupakan tentang Gythia.”

“Tapi ibuku …”

“… tidak menginginkan anda, atau tidak akan membesarkan anda.”

Keheningan mengisi tenda.

Reim membuka pintu tendanya. “Pulanglah,” gumamnya.

Dengan ketabahan, Samual merangkak keluar dan kembali menutup wajahnya dengan bulu. Langit abu-abu dengan kilatan cahaya hijau dan merah.

“Dan kembalilah saat fajar!” teriak Samuel.

Samuel tersenyum saat pintu tenda tertutup.


Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)

Related Incoming Search Term: