VG Lore : Ringo

Ringo Lore, Chapter 1 : The Coin Toss

Di dalam sebuah tenda yang besar. Orang-orang dengan sayap buatan bertarung dengan pedang yang berkilau. Dengan elemen api dan es, menari dengan irama musik. Ikan duyung terus melonglong dari dalam akuarium. Orang-orang akrobat lain membuat jembatan, dengan memegang bahu satu sama lain, untuk dilewati sabertooth(sejenis harimau), mengejar daging yang dilempar di sisi lain.

Ringo berjalan dengan penuh gaya di panggung, membawa dua pistol kembar yang dinamai Kepercayaan dan Alasan. Seorang pelempar berpakaian badut mengikuti di belakangnya. Dia memutar piring-piring pada tongkat dan melemparkannya ke atas. Ringo, memutar pistolnya dan menembak hancur piring itu di udara.

Pejalan di tali gemetaran; ada lagi yang mengangkat bangku dengan banyak minion ketakutan di atasnya. Jika pelempar melemparkan piring terlalu tinggi atau terlalu rendah, akan terjadi bencana, dan itulah yang membuat semakin menarik. Ringo tersandung seperti dia sedang mabuk, bergoyang-goyang, menutup satu matanya agar fokus, melirik ke arah pelempar, tapi ketika piring itu dilempar, pistolnya berada di samping pinggangnya dan BANG: Apapun yang dilemparkan oleh pelempar hancur.

Anak-anak kecil berkerumun di depan, memegang koin yang mereka dapat dari orang tua mereka: “Aku! Aku! Tuan Ringo, aku mohon!” Pelempar membuat pertunjukan dengan koin-koin itu, diputar, dilemparkannya … BANG, dan dia menangkap koin yang sama, mengembalikannya dengan lubang peluru yang sempurna ditengah koin itu. Dua bersamaan dia lempar – BANG-BANG – lalu dia menangkap masing-masing di kedua tangannya.

Untuk yang terakhir, dia mengikatkan penutup mata pada Ringo dan memutar Ringo beberapa kali. Penonton terdiam. Beberapa menunduk di belakang tempat duduk mereka; beberapa lari keluar. Gadis pelempar itu segera melemparkan tiga koin. Dengan lengan menyilang, Ringo tanpa melihat menembak: BANG-BANG-BANG. Pelempar itu berputar, menari, kemudian mengembalikan tiga koin yang telah berlubang ke pemiliknya.

Penonton bertepuk tangan sambil berdiri.

Bagaimana? mereka bergumam satu sama lain. Tidak masuk akal!

Sementara itu, pencopet-pencopet kecil mengambil dompet dari salah satu penonton, lalu menghilang seperti hantu.

Di luar, sisi jalan dipenuhi dengan poster Ringo yang setengah sobek, dua tangan, penuh, tembakan sempurna. Di dalam, di sebuah meja bulat, Ringo menatap pada sebuah koin, menggosok-gosok pinggirannya. “Kepala,” dia berkata, “dan aku akan berhenti berjudi.”

Koin dilempar dan berputar-putar di udara, mendarat di telapak tangannya dan di banting ke meja. Dia membuat pertunjukan dengan mengintipnya dan tersenyum, menaruh chip(koin judi) lain di tengah-tengah tumpukan. “Aku ikut,” dia bilang, dan saat mereka setuju, Ringo melempar koin lagi.

“Kepala,” dia berkata, “dan aku berhenti minum.”

Koin itu terbang, mendarat, dan dibanting di bawah telapak tangannya. Dia mengintip lagi, lalu meminta ronde lainnya.

Dia sedang tidak beruntung hari itu. Ketika gelasnya sudah kosong, Ringo bergumam, “Kepala, dan aku berhenti bertaruh. Mencari sebuah pekerjaan, istri yang cantik, anak, meletakkan Alasan untuk kebaikan.”

Koin itu terbang, suara siulan terdengar dari lubang di tengahnya.

Ringo Lore, Chapter 2 : The Bullet Catch

Setelah tenda didirikan, Pavel dan aku akan bermain Perang Ratu dengan dek jebakanku, dia kalah dan mengumpat, sampai penonton sudah penuh. Pavel dan aku, bersahabat sejak umur 3 tahun, tumbuh di antara kerumunan orang-orang mabuk. Kau membuat kesalahan, mereka memarahimu. Melakukan hal benar, kau menghasilkan uang bagi mereka.

Aku lebih baik dari Pavel. Dia adalah orang kuat kami, tapi dia memiliki mata besar seperti bayi. Aku membuat pertunjukan jelek, membeli minuman dengan uangnya tanpa berbagi. Lalu, ketika penonton sudah pergi, Pavel akan meminta kembalian untuk mengembalikan uangnya.

“Peluru tercepat di dunia? Aku bertaruh 10 emas aku bisa menangkap pelurumu dengan gigiku.”

“Kau mabuk, Pavey,” Aku mengatakannya dengan keras. “Tidak ada yang bisa menangkap peluru dengan giginya.”

Kemudian, Pavel mengatakan bahwa aku selalu curang, dan orang-orang mulai mengerumuni. Pavel mengatakan dengan keras, “Siapa yang punya sepotong emas yang mengatakan aku bisa menangkap peluru tukang curang ini?”

Kebanyakan orang tidak percaya tapi ingin melihat seseorang tertembak di mulutnya.

Semakin aku membantah, semakin banyak emas yang dilemparkan penonton. Ketika penonton sudah mengelilingi kami dengan separuh lingkaran, aku mulai membidik dan menaruh emasku, berkata aku tidak bisa menembak sahabatku. Tapi penonton semakin riuh, aku melakukan tembakan pertamaku, melenceng ke samping dan menembus dinding di belakang Pavel. Ha!

Jika penonton membenciku sebelumnya, mereka akan semakin membenciku sekarang. Aku berusaha untuk lari tapi jika kami melakukannya dengan benar, penonton akan menyukaiku lagi. Aku mulai membidik lagi, gemetaran dan menembak melenceng ke arah lainnya. Lalu Pavel mengejekku, membuatku jengkel. Aku membidik dengan lidah menjulur dan satu mata tertutup, dan menembak tepat di wajah manis Pavel.

Kami telah berlatih jadi dia membalik wajahnya saat suara tembakan, jatuh dengan suara terbanting di lantai dan penonton akan mengerumuninya. Lalu dia akan menunjukkan mata besarnya dan memberi senyuman kepada penonton, sebuah peluru diantara gigi depannya.

Aku membuat pertunjukkan untuk mendapatkan emas yang dia telah kehilangan karena kalah denganku saat bermain Perang Ratu. Kemudian kami membuat pertunjukan kami bersahabat lagi, penonton selalu menyukainya. Aku rindu dengan Pavel. Aku bertaruh dia masih mengangkat kursi-kursi dengan wanita di atasnya di tenda besar di suatu tempat. “Payah dalam kehidupan; hebat dalam menembak,” dia selalu mengatakan itu padaku. Dia sungguh benar.


 

Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)