VG Lore : SAW

SAW Lore, Chapter 1 : SAW’s Field Training Regimen

Menjaga bentuk tubuh saat tidak sedang bertugas adalah masalah kedisiplinan. Inilah bagaimana SAW tetap memiliki badan atletis bahkan ketika ditugaskan di hutan.

Apa kau berlatih angkat beban?

Isi kaleng tempat peluru dengan pasir untuk melatih bisep, trisep dan juga otot dada dengan bench press. Lakukan pullup di turret.

Tidak ada kata melewatkan latihan kaki. Bawa kaleng peluru dan lakukan latihan lunge. Potong pohon di hutan, letakkan pada ke dua bahu dan lakukan squat.

Seret dan dorong turret

Ikatkan tali pada turret. Dan ikatkan tali tersebut pada pinggangmu dan seret turret itu. Seret dengan menghadap ke depan sejauh 50 meter, lalu lepaskan ikatan pada pinggangmu, berbalik dan seret kebelakang dengan menggunakan kedua tanganmu sejauh 50 meter. Pindah ke sisi lain turret dan dorong sejauh 50 meter. Berbalik dan ulangi.

(Note: jika kau masih pemula dan lemah, mulai dengan roda yang besar.)

Tangkap minion, bawa, banting dan lemparkan

Ini adalah latihan intinya! Tangkap satu minion yang besar atau dua kalau kecil untuk latihan HIIT(High Intensity Interval Training), gendong mereka dan lari bolak-balik. Gunakan mereka sebagai beban tambahan untuk squat, siku melebar, lutut tekuk sepenuhnya, berdiri, dan lakukan berulang.

Untuk tenaga yang lebih besar, lemparkan minion dari posisi atas kepala, lari, tangkap, dan lempar lagi.

Terus lakukan latihan ini dan kau akan mendapatkan bentuk tubuh atletis seperti SAW!

SAW Lore, Chapter 2 : SAW, The Bridge-Burner

Lihat itu, Mister Mayor, kita sepertinya menarik perhatian orang-orang karena kesalahpahaman diantara kita. Ijinkan aku menjelaskan lagi; Misiku adalah menyingkirkan monster yang telah menghancurkan kota rumah pohon anda. Anda bilang akan menjadi misi mudah. Saat misi: Aku melacak target, berlari dengan cepat dan melewati perbatasan tanpa ada yang mengetahui.

Aku sudah tahu dengan pasti posisi target adalah 30 puluh kilometer di luar kota. Dia menggunakan pepohonan. Melompat pada punggungku dari ketinggian 10 meter. Musuh itu sepertinya merupakan manusia kucing perempuan berjalan menggunakan kaki dan tangannya, dengan cakar besi pada tangan dan kakinya. Aku mulai menyerangnya, tapi dia menjatuhkanku, merobek lengan bajuku, melompat ke atas senjataku. Aku mengeluarkan bom asap sebelum dia melukaiku, berlari ke posisi yang aman sejauh 50 meter dan menembakkan suppressive fire pada area itu. Aku merontokkan daun-daun dari pepohonan seluas 100 meter dan tidak menemukan apapun. Tidak ada jejak. Tidak ada darah, tidak ada mayat. Aku tidak mengenai apapun.

Itulah sebabnya aku mengisi Gracie dengan peluru yang bisa meledak dan membakar seluruh markas operasi musuh. Tidak ada yang bisa selamat. Tidak pada jarak itu. Aku mengerti bahwa asap yang ditimbulkan dan kerusakan pada jalan telah membuat bisnis pada warga anda kesulitan, tapi tidak ada yang bilang itu adalah misi diam-diam. Manusia perempuan setengah kucing itu tidak muncul dalam 72 jam, jadi aku anggap dia sudah mati dan misiku selesai. Dan itulah, Mister Mayor, kenapa anda berhutang padaku 500 gold atau kristal yang setara.

SAW Lore, Chapter 3 : SAW & The Leviathan

Sebelum itu muncul, tanah terus bergetar selama beberapa jam, membuat retakan di dinding dan jalan di kota, dan dari retakan ini tercium bau yang busuk. Getaran tanah itu berlangsung pada saat matahari terbenam.

Tentara berdiri di sebuah gang di dalam kota, hanya beberapa jam sebelum pengunduran dirinya, satu tangan di dinding, menghibur dirinya sendiri. Dia memasukkan apa saja yang dia miliki ke dalam ranselnya, termasuk bayarannya yang tidak seberapa. Jika tanah terbuka dan ranselnya jatuh ke dalamnya dia tidak akan merasa kehilangan, dan tidak seorangpun juga. Peletonnya jauh di selatan, bertempur tanpanya, dan saat tengah malam dia akan menjadi warga sipil untuk pertama kalinya. Lampirannya telah diisi dan diserahkan, senjata dan armor-nya juga. Saat malam, monster laut muncul dengan tubuh yang menyeramkan, seluruh tentara melarikan diri.

Dia di pelabuhan untuk naik kapal untuk pulang – meskipun tidak ada seorangpun untuk dia pulang – tapi gempa telah mengakibatkan gelombang besar menerpa kapal-kapal di pelabuhan. Orang-orang menjerit, rumah mereka roboh, kobaran api muncul, orang yang mereka cintai jatuh kedalam retakan besar di tanah. Itu bukan urusannya. Jika dia berhasil keluar dari sana, itu akan menjadi pertama kalinya dia keluar dari kota yang terbakar tanpa dia ikut terbakar.

Ketika dinding bergetar di tangannya dan ambruk, dia menghela napas. Suara retakan dari dalam bangunan yang begitu keras, kemudian atap runtuh. Mengarah ke pelabuhan, kobaran api yang sangat besar. Kelihatannya keluar dari kota ini akan membutuhkan sedikit usaha. Meninggalkan ranselnya, dia berjalan menuju kobaran api seperti yang sudah dia latih. Dia tidak memiliki tempat dimanapun untuk pergi.

Orang-orang panik, saling terinjak satu sama lain untuk keluar dari pantai. Dia menghindari para warga sipil, lalu dia menerobos melewati penjaga yang telah meninggalkan posnya. Semakin dekat dengan api, semakin dia harus memanjat melewati reruntuhan dan orang-orang yang terluka. Asap menyumbat pernapasannya dan matanya. Dia bernapas lebih mudah setelah mengambil sebuah topeng masker dari seseorang yang tidak beruntung yang telah mati.

Ketika seekor ikan paus terbang melewati dinding, mendarat dengan basah, benturan yang membuat ikan itu berdarah di jalan di belakangnya, dia tahu ini bukanlah sebuah akibat gempa bumi. Gempa bumi tidak melemparkan ikan paus.

Dia memanjat setinggi mungkin di atas reruntuhan dan melihat-lihat. Apapun yang tersisa di daratan sudah terbakar. Pelabuhan telah terbelah dua dan laut menumpahkan air dicelah itu. Air terhisap ke dalam tempat dimana retakan di laut itu terjadi, dan dari retakan itu muncul … lengan? tentakel? Penglihatan terbatas karena asap. Tubuhnya melilit meriam-meriam dari kapal yang ada di sana, mencongkelnya dan melemparkannya ke kota.

Melihat ke bawah, dia melihat sesuatu dari air yang terhisap itu, banyak tentakel, dan kepala dari sesuatu yang sangat besar dan marah.

Langit malam dipenuhi dengan asap dari atas. Armada pesawat terbang rendah, menjatuhkan apa saja yang mereka miliki ke monster itu. Bomb meledak pada wajah makhluk itu, dan tenggelam di bawah laut, meraung dengan suara yang menyeramkan. Makhluk itu segera muncul kembali ke permukaan dengan dendam. Tentakel mengarah ke langit, melilit stabiliser pesawat dan menjatuhkannya. Jatuh seperti ikan pus sebelumnya, dengan bagian depan terlebih dulu dan terbakar.

Pesawat yang tersisa segera pergi dari pelabuhan itu, memadamkan api dari seragam mereka yang terbakar, tubuh pernuh luka. Tentara yang mengenakan topeng tersandung dan jatuh ke tepi pelabuhan. Dia segera menuju ke senjata otomatis yang terpasang di geladak pesawat. Hanya tersisa satu yang tidak hancur atau terbakar. Dia melepas senjata itu dari geladak, mengangkutnya di bahunya dan melangkah menuju ujung pesawat.

Disana, dia berhadapan langsung dengan monster itu. Mata yang paling besar adalah sebesar tinggi dari tentara itu. Mulutnya terbuka, ikan menggelepar di lidahnya yang tertutup rumput laut.

Tentara itu tidak pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya, tapi bahaya tetaplah bahaya – dan semua bahaya membutuhkan pertarungan atau melarikan diri. Dengan pesawat yang terbakal di bawahnya, tidak ada cara untuk melarikan diri.

Dia mengarahkan senjatanya pada kerongkongan dari leviathan dan menembaknya. Karena senjata itu terisi dengan peluru yang meledak, bahunya sedikit tersentak. Monster itu menggeliat-geliat, mendengus, mundur di bawah air, lalu meledak dengan raungan. Tidak ada yang harus dilakukan kecuali tembak … dan tembak … dan tembak tembak tembak sampai semua peluru telah tersimpan di perut monster itu.

Kobaran api dari pesawat itu mengenai sepatunya saat peluru meledak di tenggorokan dari monster, mengentikan raungannya. Ledakan di bawah ari menyatu dengan suara dari baling-baling dan kayu yang retak di bawah kobaran api. Monster itu berputar-putar, mendengus, mundur dan menggeleparkan tentakelnya ke air, mencipratkan air laut.

Jadi momen hidup terakhirnya akan seperti ini. Bukan sebuah cara yang buruk, semua sudah dipertimbangkan. Memegang senjata besar. Mungkin asap akan membuat dia terbunuh sebelum rasa sakit menjadi semakin buruk.

Itulah saat dimana dia melihat tali datang dari kabut asap di atasnya, menggantung dari salah satu pesawat di atas.

Dia tertawa. Jadi dunia belum selesai dengannya. SAW menyandarkan senjata barunya di bahunya, memegang tali dengan tangan satunya dan pesawat itu menariknya ke atas sementara bagian bawah sepatunya terbakar dan monster menghilang, tenggelam ke dalam laut.


Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)