Yang Pertama, Belum Tentu Yang Terbaik

Seharian ini, saya menghabiskan waktu dengan mendesain ditambah sedikit ngoding untuk blog baru yang mungkin akan selesai pada pertengahan Juli 2015. Saya lagi ingin bernostalgia, jadi saya kembali memakai platform blogger.com untuk yang baru ini. Apalagi, selama hampir 7 tahun saya memakainya sebelum pindah memakai WordPress.

Sebenarnya sih tidak ada niat menulis hari ini, tapi sebuah artikel dari Tech in Asia mengubah pikiran saya. Judul aslinya 3 Awesome Startups That Failed : Why Being First Often Doesn’t Work Out.

Taukah kalian bahwa ide tentang cloud computing, Internet of Things (IoT) dan smartwatch pertama kali digagas oleh Bill Gates pada awal 2000-an? Tapi, siapa yang kini menguasai pasarnya? Cloud dan IoT dikuasai oleh Google, sementara smartwatch bisa disebut masih dikuasai oleh Apple.

Seperti orang-orang romantis di luar sana, “Aku mungkin bukan yang pertama, tapi aku akan jadi yang terakhir untukmu”, begitulah sebuah bisnis seharusnya. Karena itulah, tidak ada salahnya membuka bisnis yang sama dengan orang lain.

Ada kisah menarik tentang “Yang pertama, belum tentu yang terbaik”, kisah tentang Friendster vs Facebook dan Eachnet vs Taobao.

Saya bukanlah generasi Friendster, tapi menurut beberapa artikel yang saya baca, Friendster adalah “Facebook” pada masanya. Di masa jayanya, situs ini pernah memiliki 115 juta pengguna terdaftar. Awalnya, Friendster tau bagaimana mereka akan menghadang Facebook, yaitu dengan menghadirkan fitur seperti news feed, grafik dan aplikasi lainnya.

Sayangnya, mereka kalah dalam hal teknis ditambah lagi dengan para investor yang tidak mau membawa Friendster “ke arah yang benar” demi menghadang Facebook. Hasilnya, Friendster sempat sulit diakses selama 2 tahun, selama 2 tahun itu, pengguna sulit untuk bisa login. Tentunya, hal ini memperbesar peluang pengguna untuk loncat menggunakan Facebook maupun MySpace.

Sebelum hiatus pada pertengahan Juni 2015, Friendster dibeli oleh perusahaan MOL asal Malaysia dan diubah menjadi portal game online yang ternyata tidak mampu mempertahankan apalagi mengembalikan kejayaan Friendster.

Kisah kedua berasal dari Tiongkok. Pada tahun 2003, Eachnet menguasai 90% pasar untuk situs lelang di Tiongkok hingga akhirnya eBay berinvestasi dan bahkan mengakuisisinya. Eachnet juga pernah berperang media melawan Taobao, situs lelang milik Alibaba. Taobao sebenarnya dikembangkan oleh Alibaba secara diam-diam sebelum akhirnya dirilis dan langsung perang head-to-head melawan Eachnet.

Taobao tau betul bagaimana perilaku dan kebiasaan konsumen di dalam negerinya, apalagi layanan mereka gratis, tidak seperti Eachnet yang memakai model eBay dimana menarik komisi untuk setiap lelang. Taobao memakai model pembayaran rekening bersama, sementara Eachnet memakai Paypal. Hal ini tentu menjadi keuntungan lagi untuk Taobao, karena pada dasarnya pasar mereka tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal.

Kesalahan teknis terbesar Eachnet adalah fokus pada pasar internasional, jadi mereka menghilangkan animasi-animasi lucu di situsnya dan membuatnya lebih bersih. Ditambah, mereka memindahkan servernya keluar dari Tiongkok, membuat para penggunanya kesulitan mengakses karena waktu loading yang lama.

Seperti kata Jack Ma, founder Alibaba,

“eBay mungkin boleh jadi hiu di lautan luas, tapi saya adalah buaya di sungai Yangtze. Jika kami bertarung di lautan, kami akan kalah, namun kami adalah “raja” di sungai.”